Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan •
KABARBURSA.COM — Situasi di Selat Hormuz kembali memanas. Jalur vital energi dunia itu sempat dibuka setelah hampir dua bulan tertutup, namun kembali dibatasi hanya dalam hitungan jam, memicu ketidakpastian baru bagi pasar minyak global.
Data pelayaran yang dikutip dari Reuters, Ahad, 19 April 2026, menunjukkan lebih dari selusin kapal tanker, termasuk kapal yang terkena sanksi, sempat melintas setelah blokade selama 50 hari dicabut. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Iran kembali memperketat akses dan bahkan dilaporkan menembaki sejumlah kapal yang mencoba melintas.
Pembukaan jalur ini sebenarnya menjadi kunci bagi negara-negara Teluk untuk mengembalikan pasokan minyak dan gas ke pasar global. Badan Energi Internasional bahkan menyebut gangguan ini sebagai yang terburuk sepanjang sejarah.
Di tengah dinamika itu, pernyataan politik ikut mewarnai situasi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran telah sepakat membuka jalur tersebut. Namun di sisi lain, pejabat Iran menegaskan pembukaan penuh hanya bisa terjadi jika blokade terhadap kapal tanker mereka dicabut sepenuhnya.
Perusahaan pelayaran global merespons dengan hati-hati. Mereka menyambut pembukaan tersebut, tetapi menilai situasi di lapangan masih belum aman, termasuk terkait kemungkinan adanya ranjau laut.
Fakta di lapangan menunjukkan pembukaan jalur hanya bersifat terbatas. Kapal-kapal yang berhasil melintas sebagian besar merupakan kapal tua dan bukan milik perusahaan Barat. Bahkan beberapa di antaranya termasuk dalam daftar sanksi.
Iran juga mengatur secara selektif kapal mana yang boleh melintas, berdasarkan kesepakatan tertentu dalam negosiasi sebelumnya. Sementara itu, kapal lain yang mendekat ke selat dilaporkan memilih berbalik arah karena ketidakpastian situasi.
Angkatan Laut Inggris melaporkan kapal patroli Iran sempat menembaki beberapa kapal yang mencoba melintas. Di saat yang sama, sejumlah kapal dagang menerima pesan radio yang menyatakan jalur tersebut kembali ditutup dan tidak dapat dilalui.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan energi masih tinggi. Data pelayaran menunjukkan beberapa kapal pengangkut gas alam cair dari Qatar mendekati selat, namun belum ada satu pun kargo LNG yang berhasil melintas sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Ratusan kapal masih tertahan di kawasan Teluk sejak jalur ini ditutup, memaksa negara produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait memangkas produksi secara signifikan.
Bagi negara-negara tersebut, kelancaran jalur tanker menjadi syarat utama untuk kembali menormalkan ekspor energi. Namun dengan situasi yang masih fluktuatif, pemulihan pasokan global tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.