Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Puasa dan Kebahagiaan

Puasa dan Kebahagiaan

puasa-dan-kebahagiaan
Puasa dan Kebahagiaan
service

Nggak tahu kenapa tetiba saya teringat tradisi bulan puasa yang saya lakukan di sebuah kampung di pinggiran kota, kampung Dukuh.

Kampung saya ini berbatasan dengan Dusun Dongkelan, kabupaten Bantul. Sebuah kampung yang tidak begitu padat penduduk, masih ada sawah, pepohonan dan jalan setapak masuk kampung yang masih terbuat dari tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi rumput.

Ada beberapa tempat ibadah saja di situ, tidak seperti sekarang yang hampir di setiap RT atau RW memiliki tempat ibadah yang berwujud langgar atau musholla. Salah satunya adalah langgar kecil milik simbah kakung saya. Langgar di samping depan rumah simbah Joyo—di mana keluarga kami masih nebeng jadi satu di situ—adalah bangunan kecil yang memang dibikin simbah untuk kepentingan penduduk di sekitar situ. Kapasitasnya hanya untuk sekitar 25-30 orang.

Bila bulan Ramadhan tiba, tentu jamaah membludak. Nah, untuk anak-anak disediakan tempat khusus di luar langgar (di ruang tamu rumah simbah yang disulap jadi tempat ibadah).

Setiap habis subuh, kami, anak-anak kecil di lingkungan langgar ini mempunyai tradisi jalan-jalan ke luar kampung, menuju jalan raya dan berjalan ke selatan menuju ‘lambaw’ (tempat pertanian) yang sekarang berubah dipakai menjadi pasar hewan (PASTY), pindahan dari pasar Ngasem. Jalan-jalan yang memang tak ada tujuannya, tak ada dar der dor suara mercon, dan tak ada bising knalpot. Saya mengikuti saja kakak-kakak saya yang ‘memimpin’ jalan-jalan pagi tersebut.

Pulang dari jalan pagi, suasana sudah terang tanah, saya tidak langsung pulang ke rumah. Berbekal sarung saya bergerilya ke kebun simbah dan kebun mbah buyut saya. Dengan mengendap-endap, fokus mata di tanah, tujuannya satu: mencari biji melinjo yang jatuh dari pohon. Setiap pagi saya lakukan ‘kegiatan’ itu. Rata-rata setiap pagi saya mendapatkan segenggam dua genggam biji melinjo.

Hasil ‘golek mlinjo’ tersebut saya kumpulkan di kaleng bekas roti ‘Khong Guan’ setiap pagi, setiap hari. Menjelang akhir bulan Ramadhan, melinjo saya bawa ke warung Mbah Pademo untuk diuangkan. Sebagian lagi saya goreng sangan kemudian digepengkan untuk konsumsi lebaran. Enak!!

Kalau pas beruntung saya mendapatkan gogrogan mangga, atau jambu merah yang memang manis. Kalau lebih beruntung saya mendapat gogrogan kelapa yang sudah tua. Tapi ini jarang terjadi.Terkadang siang hari saya bersama teman-teman di langgar menyusur kebun dan lahan di pinggir kali Winongo. Biasanya kami dapatkan jambu, mangga, atau kedondong.

Perolehan saya hari itu, saya susun di atas meja untuk berbuka nanti. Ada beberapa buah jambu, mangga, dan kedondong. Tak boleh seorang pun menyentuhnya.

Tiba saat berbuka puasa. Ibu juga sudah menyiapkan ‘gorengan’ dan air teh manis, hangat. Saya meneguk segelas teh hangat bikinan ibu dan sepotong bakwan goreng.

Itu saja. Sudah kenyang.Ternyata buah yang saya kumpulkan seharian tadi, akhirnya memang benar-benar tak tersentuh. Oleh siapapun.

Fenomena buka puasa ini pun terjadi di setiap puasa Ramadhan. Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan bahwa di setiap buka puasa, saya merasakan ‘kenyang’ dengan hanya segelas air kelapa muda atau teh hangat. Bahkan hanya seteguk pun saya sudah merasa ‘kenyang’.

Saya merasa ada yang aneh dalam diri saya. Ada apa? Padahal di atas meja terhidang makanan, gorengan, dan kurma. Tetapi hanya dengan seteguk saya sudah kenyang.

Sudah bahagia.

Saya browsing beberapa jurnal. Membacanya satu persatu. Mencari tahu, dan mendapatkan bahwa dalam kehidupan modern yang instan, penuh dengan kecepatan, konsumtif, dan keinginan yang terus meningkat, manusia sering menghubungkan kebahagiaan dengan kepemilikan. Rumah yang lebih besar, makanan yang lebih mewah, atau pengalaman yang lebih mahal sering dianggap sebagai sumber kebahagiaan.

Namun praktik puasa menghadirkan perspektif yang berbeda. Puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kelimpahan yang bersifat material, melainkan justru dapat muncul dari kesederhanaan. Puasa pada dasarnya adalah praktik menahan diri dari kebutuhan dasar seperti makan dan minum dalam jangka waktu tertentu.

Dalam tradisi Islam, puasa dilakukan dari fajar hingga matahari terbenam. Selama periode ini, manusia mengalami kondisi lapar dan haus yang ringan hingga sedang. Pengalaman ini mengubah cara seseorang memandang hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa. Air putih yang sederhana, sepotong kurma, atau makanan sederhana saat berbuka akan terasa sangat bernilai. Mengapa bisa begitu?

Saya mendapatkan penjelasan biologisnya begini: saat minuman diteguk, otak mengaktifkan reward system. Dalam aktivasi reward system ini akan terjadi pelepasan dopamin (hormon rasa senang), peningkatan aktivitas rasa puas di otak yang terdapat pada nucleus accumbens dan aktivasi jalur reward mesolimbik. Karena tubuh telah menunggu lama berpuasa, maka air putih sederhana pun memicu respons kebahagiaan yang kuat.

Tapi apakah hanya tinjauan biologis saja? Tentu tidak.

Rasulullah bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.

Maka dari sisi ini kita memahami bahwa kebahagiaan berbuka muncul karena, menyelesaikan ibadah puasa hari itu, rasa syukur atas nikmat yang sederhana dan kesadaran bahwa kebutuhan dasar adalah anugerah.

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

R17

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.