
Lagi pingin unjal ambegan dan ngeluk boyok, saya WA Yai redaktur senior, “Gus Yai, saya kelelahan dan kehabisan ide ini, tolongin ane dong.”
“Bagaimana kalau antum tulis tentang mengapa puasa dilakukan siang hari dari Fajar sampai Maghrib,” respons redaktur senior.
“Masoookkkk,” jawab saya tanpa pikir panjang. Karena yang ada di benak saya cukup jawaban singkat dan… selesai.
Dalam hati saya mbatin, Gus Yai ini bagaimana sih, langsung tak jawab simpel kan langsung selesai.
“Karena perintah Allah demikian”, begitu rencana jawaban saya. Karena sudah jelas dalam Al-Baqarah ayat 187: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.”
Pikir saya dengan jawaban itu pasti Gus Yai akan kena skak mat, tak akan meneruskan perintahnya.
Tetapi saya pikir ulang, jangan-jangan Yai redaktur senior ini mempunyai maksud tertentu. Yaitu ingin mendapatkan ilmu atau hikmah di balik perintah absolut itu. Saya kemudian termenung memikirkan apa-apa yang perlu saya rangkai dalam tulisan sebagi setoran hari ini ke redaktur senior.
Siang–malam:
Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 73:
وَمِن رَّحْمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا۟ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.“
Jadi siang hari digunakan manusia untuk beraktivitas, untuk bekerja, mencari rizki. Pada siang hari metabolisme pada tubuh manusia berada pada puncaknya, sehingga bisa memaksimalkan energi digunakan untuk aktivitas.
Sedangkan malam hari digunakan manusia untuk beristirahat, mendapat ketenangan, melepas penat setelah seharian bekerja. Pada malam hari hormon melatonin meningkat, tubuh bersiap untuk istirahat. Sudah jelas kan, ini berhubungan dengan ritme manusia.
Puasa
Puasa (secara bahasa dari bahasa Sanskerta upawasa) atau dari bahasa Arab shiyam/shaum) yang kita terjemahkan sebagai tindakan menahan diri secara sadar dari makan, minum, dan hubungan seksual, serta perbuatan yang membatalkan lainnya.
Secara etimologi puasa berarti menahan diri atau mencegah. Secara terminologi bermakna menahan diri dari hal-hal yang membatalkan (makan, minum, hawa nafsu) dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat khusus.
Dari dua pokok bahasan tadi, saya coba remas hingga keluar santannya, yaitu: puasa adalah menahan diri. Lha menahan diri kan mesti harus ada tantangannya, dengan segala derajat tantangannya.
Puasa, apapun definisi dan istilahnya apakah sebagai latihan pengendalian diri ataukah sebagai upaya pembersihan diri, tujuan utamanya adalah mencapai ketakwaan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “…agar kamu bertakwa.” Untuk sampai ke tingkat taqwa dibutuhkan usaha dan ujian yang tidak ringan.
Siang hari adalah waktu yang terang, saatnya manusia bekerja beraktivitas, berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi berbagai godaan yang sangat banyak. Oleh karena itu puasa, memang sengaja diperintahkan pada siang hari dengan maksud untuk melatih pengendalian nafsu, kesabaran, kejujuran dan disiplin diri.
Puasa siang hari menghadirkan tantangan nyata berupa lapar, haus, dan kelelahan emosi. Nah justru dalam kondisi seperti ini manusia belajar mengendalikan diri, menahan amarah, dan menjaga lisan. Sehingga, puasa menjadi pendidikan spiritual yang praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Lha kalau puasa dilakukan di malam hari ya nggak ada tantangannya tho, sebagian besar waktu manusia sedang tidur, sehingga tantangan fisik dan psikisnya hampir tidak ada, latihan spiritualnya tidak terasa.
Selain itu, pelaksanaan puasa selaras dengan ritme biologis tubuh. Dari sudut pandang biologi dan kronobiologi, tubuh manusia memiliki ritme alami dan memiliki sistem biologis yang disebut circadian rhythm, yaitu siklus biologis sekitar 24 jam yang dipengaruhi oleh cahaya matahari. Ritme ini dikendalikan oleh bagian otak yang disebut suprachiasmatic nucleus yang terletak di hipotalamus.
Pada siang hari: metabolisme tinggi, aktivitas fisik berlangsung dan energi digunakan. Puasa pada fase ini membuat tubuh belajar mengatur penggunaan energi secara efisien, ketika tak ada masukan kalori karena puasa. Ini bentuk cinta Allah sang khaliq kepada makhluk-Nya.
Pada siang hari cahaya matahari yang diterima oleh mata memengaruhi produksi hormon seperti melatonin dan kortisol. Hormon melatonin meningkat pada malam hari dan menyebabkan rasa kantuk, sedangkan kortisol meningkat pada pagi hari untuk mempersiapkan tubuh melakukan aktivitas. Karena itu, ibadah yang mengikuti siklus matahari secara tidak langsung selaras dengan sistem biologis tubuh manusia.
Sedangkan pada malam hari adalah fase pemulihan tubuh. Fase istirahat, sel-sel saling berkomunikasi, terjadilah pengaturan keseimbangan hormon, melatonin meningkat di malam hari (waktu gelap). Tubuh siap untuk beristirahat.
Puasa dalam Islam sebagaimana yang ditanyakan oleh Yai redaktur senior dimulai pada saat terbit fajar dan berakhir saat matahari terbenam. Fajar yang dimaksud adalah cahaya horizontal yang muncul di ufuk timur sebelum matahari terbit. Dalam astronomi, fenomena ini terjadi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah horizon. Cahaya matahari mulai menyebar di atmosfer bumi sehingga langit mulai terang. Fenomena ini menjadi penanda alami pergantian malam menuju siang.
Ibadah dan fenomena langit adalah saling berhubungan. Benda-benda langit dan sesuatu yang berhubungan, seperti, matahari, bulan, bintang serta pergantian siang dan malam adalah salah satu kebesaran Tuhan. Dengan mengaitkan ibadah dengan fenomena tersebut, kita, manusia diingatkan bahwa kehidupan kita terkait dan terhubung dengan tatanan kosmos yang lebih luas.
Fenomena langit juga memiliki karakter universal yang dapat diamati oleh semua manusia di berbagai tempat dan zaman. Hal ini membuat sistem ibadah dalam Islam yang bersandar pada sistem perhitungan matahari/bulan, tetap relevan dan dapat dijalankan tanpa bergantung pada teknologi modern.
Saya mulai mendapat benang merah untuk sangu jawaban kepada Yai redaktur senior.
Keterkaitan fenomena langit dan ibadah kita, termasuk shalat dan puasa, menunjukkan bahwa praktek ibadah ini memiliki keselarasan pergerakan kosmik dan hukum alam. Pergerakan bumi mengikuti pergerakan matahari, sementara ritme hidup manusia mengikuti ritme alam tersebut. Dengan demikian, setiap sistem waktu dalam ibadah yang mengikuti fenomena langit dapat dipahami sebagai sistem yang sinkron dengan struktur biologis dan astronomi alam semesta.
Ya Allah aku semakin kecil.
Bahkan sangat kecil.
Maturnuwun Yai.
R16





Comments are closed.