Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Harga Minyak Terus Naik, Energi Terbarukan Bisa Jadi Jalan Keluar Ketahanan Energi

Harga Minyak Terus Naik, Energi Terbarukan Bisa Jadi Jalan Keluar Ketahanan Energi

harga-minyak-terus-naik,-energi-terbarukan-bisa-jadi-jalan-keluar-ketahanan-energi
Harga Minyak Terus Naik, Energi Terbarukan Bisa Jadi Jalan Keluar Ketahanan Energi
service

KABARBURSA.COM — Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan energi Indonesia. Gangguan jalur pasokan minyak dunia diprediksi bisa memengaruhi distribusi energi global, sementara cadangan operasional bahan bakar minyak di dalam negeri masih terbatas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut cadangan operasional BBM nasional saat ini hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 23 hari. Angka tersebut masih jauh di bawah standar internasional yang biasanya mencapai sekitar 90 hari.

Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat di sejumlah daerah menjelang arus mudik Idul Fitri. Di beberapa wilayah seperti Sumatera Utara dan Jawa Tengah bahkan sempat terjadi aksi pembelian bahan bakar secara berlebihan di sejumlah SPBU karena warga berusaha mengamankan stok BBM.

Dewan Pengarah Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Deendarlianto, menilai menipisnya cadangan operasional BBM tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurutnya persoalan ini berkaitan erat dengan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah. Produksi minyak domestik dinilai belum mampu menutup kebutuhan konsumsi energi yang terus meningkat.

“Produksi minyak mentah kita tidak sampai 700 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional sekitar 1,5 juta barel per hari. Artinya kita masih harus mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar untuk menutup kebutuhan tersebut,” ujar Deendarlianto, dikutip dari laman UGM, Jumat, 12 Maret 2026.

Ia menjelaskan ketergantungan impor minyak membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak geopolitik global. Ketika terjadi konflik atau gangguan jalur distribusi energi internasional, pasokan minyak bisa tersendat dan harga energi dunia ikut melonjak. “Kita sangat bergantung pada impor sehingga saat terjadi konflik atau gangguan jalur distribusi pasokan bisa terganggu dan harga minyak internasional juga ikut naik,” kata dosen Teknik Mesin UGM tersebut.

Momentum Percepat Energi Terbarukan

Meski demikian Deendarlianto melihat situasi ini juga bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan di dalam negeri. Selama ini pengembangan energi alternatif dinilai masih tertinggal karena harganya belum mampu bersaing dengan energi fosil.

Ia mendorong pemerintah mempercepat kebijakan energi baru seperti penerapan biodiesel B40 yang menggunakan 40 persen bahan baku minyak sawit serta pengembangan bioetanol E10 yang dapat diproduksi dari singkong atau tebu. Menurutnya langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar secara bertahap.

“Ketika harga minyak dunia naik energi terbarukan menjadi lebih kompetitif. Ini bisa menjadi peluang bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan biodiesel bioetanol maupun sumber energi alternatif lainnya,” ujarnya.

Selain itu lonjakan harga minyak dunia juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat riset dan pengembangan teknologi energi nasional. Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri melalui riset terapan perlu segera diperkuat agar Indonesia mampu membangun kemandirian energi. “Hilirisasi dari riset dasar menuju riset terapan itu saatnya sekarang terutama di energi terbarukan,” tegasnya.

Namun Deendarlianto mengingatkan keberhasilan Indonesia keluar dari potensi krisis energi sangat bergantung pada keberanian politik pemerintah dalam menentukan arah kebijakan energi ke depan. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk memperkuat kedaulatan energi jika kebijakan pengembangan energi baru dan terbarukan dijalankan secara konsisten.

“Saya kira sekarang ini jadi momentum bagi dunia riset dan perguruan tinggi untuk mempercepat penelitian terapan di bidang energi terbarukan agar bisa segera diimplementasikan secara industri,” katanya.

Energi Terbarukan Belum Capai Target

Upaya transisi energi di Indonesia memang mulai bergerak, tetapi lajunya masih tertinggal dari target pemerintah. Data terbaru menunjukkan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional masih berada di kisaran belasan persen.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bauran energi terbarukan pada 2024 mencapai sekitar 14,65 persen dari total konsumsi energi nasional. Angka itu meningkat menjadi sekitar 15,75 persen pada 2025.

Meski ada kenaikan, capaian tersebut masih di bawah target yang ditetapkan dalam kebijakan energi nasional. Pemerintah sebelumnya menargetkan porsi energi terbarukan mencapai 23 persen pada 2025.

Namun dalam revisi kebijakan energi nasional, target itu dinilai terlalu ambisius. Pemerintah kemudian menyesuaikan sasaran menjadi sekitar 17 hingga 19 persen pada tahun yang sama.

Di sisi lain, penggunaan bahan bakar nabati mulai menunjukkan perkembangan. Program mandatori biodiesel berbasis minyak sawit terus diperluas sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil.

Melalui kebijakan B35, Indonesia mengalokasikan sekitar 13,15 juta kiloliter biodiesel setiap tahun. Pada 2025 realisasi pemanfaatan biodiesel bahkan mencapai sekitar 14,2 juta kiloliter.

Pemerintah kini menyiapkan langkah lanjutan melalui program B40. Kebijakan ini ditargetkan meningkatkan penggunaan biodiesel hingga sekitar 15,65 juta kiloliter pada 2026.

Peningkatan pemanfaatan biodiesel tersebut dinilai membantu mengurangi impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan substitusi sebagian bahan bakar fosil oleh bahan bakar nabati domestik, tekanan terhadap kebutuhan impor energi dapat ditekan secara bertahap.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.