Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

pendidikan-inklusif:-hak-yang-dikesampingkan
Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan
service

Mubadalah.id – Pendidikan merupakan hak paling dasar sebagai warga negara yang wajib dipenuhi oleh negara itu sendiri, tanpa terkecuali. Bertemu dengan Azzam (6), seorang difabel tunarungu, yang hampir terrenggut hak pendidikannya oleh kemiskinan membuatku merasa ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Ibunya menuturkan, sering bolak-balik ke dinas terkait supaya anaknya mendapatkan akses pendidikan yang layak, namun pulang dengan tangan hampa.

Orang tua Azzam yang merupakan keluarga prasejahtera, rasanya sempit pilihan yang mereka miliki: memasukkannya ke sekolah umum, tidak ada guru inklusi. Pilihan yang terbaik seperti Sekolah Luar Biasa (SLB) pun butuh biaya tak sedikit. Meskipun, kabar baiknya, ada sekolah umum yang mau menerimanya, rasanya akan membutuhkan energi ekstra untuk memfasilitasi Azzam saat belajar.

Orang tuanya pun mengamini itu, guru yang dipercaya mendampingi Azzam bukan guru khusus. Membuat proses belajar-mengajar mengalami kendala, sekalipun Azzam memakai alat bantu pendengaran. Begitulah percikan realitas pendidikan kita yang jauh dari kata “inklusif”: urangnya guru inklusif di sekolah umum, tidak ada SLB gratis, dan tidak ada program yang ingin menyelesaikan itu.

Pendidikan Inklusif di Ambang Karam

Wacana pendidikan inklusif makin mendekati utopis ketika pemerintah gencar meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beriringan dengan pengurangan anggaran pendidikan sebesar 20%. Meskipun klaim pemerintah program teresebut tak melahap anggaran pendidikan, tetapi dengan adanya pengurangan ini makin menenggelamkan pendidikan kita ke jurang degradasi.

Tentu yang paling merasakan dampak dari pengurangan dana pendidikan ini adalah anak-anak dari keluarga miskin termasuk difabel seperti Azzam. Belum lagi daerah pelosok, di mana anak-anak harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk bisa sampai ke sekolah. Tak jarang mereka harus melewati medan yang berbahaya, seperti menyebrangi sungai tanpa alat pengaman.

Semua instrumen pendidikan turut kena dampak, terutama guru honorer yang penuh ketidakpastian. Misalnya, Pak Agustinus, guru honorer di Kupang dalam film dokumenter karya Watchdoc yang bertajuk “Tidak Ada Makan Siang Gratis”. Selama 23 tahun beliau mengabdi tanpa perubahan status. Dan gajinya tiba-tiba terpotong yang tadinya pada 2021 sebesar Rp600.000 per bulan menjadi Rp223.000 di tahun 2025.

Itu hanya serpihan kecil dari sekian banyak kisah yang melukiskan betapa buruknya sistem pendidikan kita. Jika pemerintah masih menomor sekian kan pendidikan sebagai hak paling fundamental, termasuk pemenuhan akomodasi layak, alat bantu, dan aksesibilitas bagi difabel, maka pendidikan inklusif akan semakin terkubur.

Bagaimana Jika Pendidikan Inklusif Itu Terjadi?

Tak terbayang jika pendidikan inklusif benar-benar terealisasi di negeri ini, anak seperti Azzam tidak perlu takut berinteraksi, bermain, belajar dengan siapa pun. Entah kurikulumnya inklusif, sehingga mendorong semua pendidik dan peserta didik berbahasa isyarat. Atau lingkungannya mampu menerimanya sebagai subjek utuh.

Lalu, jika pendidikan inklusif itu benar-benar terjadi, orang tua yang memiliki anak disabilitas seperti Azzam tidak perlu mengkhawatirkan biaya, anaknya tidak berdaya, dan tidak perlu menyekolahkan anaknya di sekolah luar biasa. Dan sekolah tak perlu lagi takut menerima para difabel, karena tidak ada guru yang mumpuni mefasilitasi mereka.

Pendidikan inklusif menjadi sangat penting dan harus menjadi agenda prioritas nasional, karena masyarakat terutama disabilitas sangat membutuhkan itu. Pendidikan adalah salah satu jalan bagi para penyandang disabilitas untuk membuka tabir stigma, bahwa mereka sebenarnya berdaya.

Jika mereka berdaya tentu bisa lebih tidak hanya sekedar membeli makan sendiri, tapi bisa memproduksi sumber makanan itu sendiri. Seperti sekelompok petani disabilitas di Cimahi yang berdaulat atas pangannya.

Tidak ada alasan lagi untuk menunda implementasi pendidikan inklusif. Dan kisah pengalaman para difabel tentu bagian dari suara mereka dan harusnya menjadi dasar ijtihad sebuah kebijakan supaya benar-benar inklusif. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.