Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Upaya Warga Jaga Mangrovve Demi Tambak Berkelanjutan di Berau

Upaya Warga Jaga Mangrovve Demi Tambak Berkelanjutan di Berau

upaya-warga-jaga-mangrovve-demi-tambak-berkelanjutan-di-berau
Upaya Warga Jaga Mangrovve Demi Tambak Berkelanjutan di Berau
service

Kawasan mangrove membentang di pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Akarnya yang menjulur ke air payau bukan sekadar lanskap pesisir,  juga menjadi tempat ikan, udang, dan berbagai biota laut berkembang sebelum akhirnya menjadi sumber pangan masyarakat. Dari sembilan kabupaten dan kota di Kaltim, Kabupaten Berau memiliki sekitar 86.000 hektar hutan mangrove, terluas dibandingkan daerah lain di provinsi ini. Luasan itu  menjadikan Berau sebagai salah satu benteng ekosistem mangrove penting di Bumi Mulawarman. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, sebagian hutan mangrove itu berubah menjadi tambak dan kawasan permukiman. Dorongan ekonomi membuat warga membuka lahan demi budidaya udang dan ikan bandeng, meski perlahan mereka menyadari bahwa hilangnya mangrove juga berarti hilangnya penyangga kehidupan pesisir. Salah satu wilayah yang mengalami perubahan tersebut berada di Kampung Pegat Betumbuk. Sejak 1998, sebagian kawasan mangrove di kampung ini telah terbuka untuk tambak. “Pegat Batumbuk ini dikenal sebagai salah satu kampung penghasil udang di Kabupaten Berau,” ucap Abdurahman, salah satu petambak dari Kampung Pegat Betumbuk akhir Februari. Data menunjukkan, pada 2019 sekitar 11.237 hektar atau sekitar 13% kawasan mangrove di Berau telah terkonversi menjadi tambak udang dan ikan bandeng. Seiring waktu, warga mulai menyadari bahwa perubahan tersebut juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar. Sebagian tambak menjadi kurang produktif, sementara ekosistem pesisir ikut rusak. Kondisi itu mendorong sebagian masyarakat untuk mulai memikirkan cara lain dalam memanfaatkan lahan tanpa harus terus membuka hutan mangrove. Mereka menjaga mangrove,  apalagi, secara ekologis,  memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting. Ekosistem ini juga menjadi tempat perlindungan keanekaragaman hayati…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.