Lebaran bersama film sudah saya tekuni dua tahun terakhir ini. Karena tidak pulang ke kampung halaman, bioskop menjadi alternatif membunuh rasa rindu pada keluarga. Tahun lalu, film yang dipilih adalah Ne Zha 2 (Jiao Zi, 2025). Tahun ini Na Willa (Ryan Adriandhy, 2026). Dua film ini mengangkat tokoh anak. Satu dalam bentuk animasi, satunya lagi dalam bentuk live-action.
Saya masih ingat kesan yang muncul selepas nonton Ne Zha 2 tahun lalu. Di malam takbiran, keluar dari bioskop, kepala dibuat tak mau diam, membayangkan kualitas visual dan konflik yang dibangun dalam film. Ne Zha 2 terasa begitu lekat dalam ingatan karena berani menabrak nilai. Tokoh utama sangat nakal dan lucu. Karakternya dibuat pemberani dan keras kepala, memberontak terhadap otoritas, dan sangat emosional. Tapi, sutradara pandai memolesnya, Ne Zha juga punya hati yang baik, peduli pada orang lain, dan rela berkorban. Kontradiksi itu yang justru membuat tokoh Ne Zha terasa hidup meski film sudah selesai.
Beberapa kenakalan yang dilakukan Ne Zha di antaranya: sering kehilangan kontrol kekuatan yang membuat hal kecil berubah jadi ledakan besar. Lingkungan sekitar sering rusak atau panik. Ne Zha juga punya kebiasaan jahil—mengganggu orang lain, bikin lelucon kasar, atau sengaja membuat orang kesal (terutama ke teman atau musuhnya). Selain itu, Ne Zha sering bertindak tanpa berpikir panjang. Misalnya, ia pernah langsung menyerang musuh atau ikut campur urusan orang lain tanpa strategi jelas.
Kenakalan tersebut bukan sekadar iseng—justru menjadi bagian dari perkembangan karakter tokoh. Dalam setiap kesalahan yang dibuat, Ne Zha belajar bertanggung jawab, jadi “nakalnya” sering bercampur dengan niat baik. Pola ini sebenarnya hampir selalu bisa ditemui dalam film-film anak terbaik dan paling berpengaruh di dunia, misalnya pada Toy Story (persahabatan), The Lion King (tanggung jawab), Spirited Away (imajinasi), Inside Out (emosi), dan Coco (keluarga).
Tahun ini, di hari Lebaran, setelah menonton film Na Willa, kepala saya juga tak mau diam untuk berpikir. Sepanjang jalan, keluar dari Solo Square, saya merenungkan kembali isi film. Visualnya memang memanjakan mata, aktrisnya menggemaskan, tetapi terasa ada yang kurang dan mengganjal. Saya merasa jalan cerita dan konflik yang dibangun rawan membuat penonton merasa ‘boring’. Gejala ini sebenarnya sudah tampak saat di ruang bioskop. Anak-anak yang duduk di kiri-kanan, depan-belakang bangku yang saya duduki tidak begitu memberikan reaksi sepanjang film diputar.
Tentu akan ada orang yang mengatakan film ini menggunakan logika anak-anak, dari sudut pandang anak-anak sebagai orang pertama yang menceritakan kisahnya, jadi bagi orang dewasa film ini bisa menjemukan. Tapi, saya merasa gejolak emosi dalam film ini memang rendah, dan kurang membuat anak-anak bersemangat menontonnya. Mungkin juga dipengaruhi latar waktu, yaitu di era awal orde baru.
Dari semua cerita yang disajikan, saya justru teringat Ibu Na Willa atau Emak. Ingat Mak, ingat PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga). Mak ditampilkan tidak hanya menjadi sosok orangtua tetapi juga otoritas yang menentukan sepenuhnya mana yang baik dan tidak bagi Na Willa. Keputusan-keputusan yang dilakukan Na Willa selalu melalui sensor Emak. Penonton sangat jarang menemukan keputusan Na Willa atas dasar kehendaknya atau keberaniannya menanggung risiko.
Misalnya ketika berkali-kali dalam scene Emak menekankan agar Na Willa berkata jujur dan patuh. Nasihat dan perintah itu dilakukan Na Willa apa adanya, sesuai perintah, meski sambil menangis. Situasi ini mengingatkan saya pada sebuah buku yang membahas pendisiplinan moral keluarga di era orde baru.
M.Ichsanudin Adnan melalui bukunya bertajuk Anda Sopan Bapak Segan, Pendisiplinan Keluarga pada Era Orde Baru (Selaklali, 2025) menyoroti pola dan upaya pendisiplinan yang dilakukan negara lewat tubuh dan mulut orang tua. Salah satu kata kunci yang dititipkan untuk mengontrol anak adalah ‘kepatuhan’.
Kata kunci ini dijalankan untuk menata dan mengoreksi tingkah laku anak agar disiplin terhadap pihak yang memiliki wewenang. Kata kunci ini menyelinap melalui logika normalisasi, kontrol emosi, hingga pengawasan terhadap tubuh, tata laku dan pikiran si anak. Kepatuhan tidak berbentuk dalam kekerasan melainkan hasil dari pendidikan, pengawasan, serta perasaan bersalah yang ditanamkan sejak usia dini. Saya menemukan gejala ini pada film Na Willa, utamanya ketika Na Willa ingin melakukan sesuatu, Emak harus mengizinkan terlebih dahulu. Barangkali, ini yang membuat tokoh Na Willa tidak terasa kuat.
Menurut Piaget, anak (terutama usia sekolah) sedang berada dalam tahap active meaning-making—mereka bukan sekadar “menerima nilai”, tapi menguji, mempertanyakan, dan membangun pemahaman sendiri. Ketika Na Willa hanya mengikuti nasihat Mak, tanpa konflik atau keraguan, dampaknya karakter tokoh terasa statis, karena tidak ada proses berpikir yang terlihat.
Dalam kajian film modern, karakter anak yang kuat biasanya punya agency, kemampuan mengambil keputusan dan mempengaruhi jalannya cerita. Misalnya jika ditarik dalam film Ne Zha 2, penonton akan menemukan perbedaan yang sangat mencolok. Ne Zha ditampilkan berani melawan takdir, membuat pilihan sendiri, bahkan melakukan kesalahan besar. Di titik itu lah mulai muncul konflik, penyesalan dan pertumbuhan. Karakter tokoh menjadi kuat dan lekat dalam ingatan penonton.
Film Na Willa bagus, tetapi menyajikan tokoh dengan karakter terlalu baik. Dalam film anak, kecenderungan ini akan membuat film terasa kurang menarik karena tidak memunculkan konflik internal, kesalahan, dan pilihan sulit. Ini akan memberi efek tidak ada perkembangan karakter dan taruhan emosi. Tokoh utama akan terasa seperti simbol moral, bukan manusia sesungguhnya.
Mungkin, upaya untuk menghidupkan karakter Na Willa bisa terjadi ketika ia memilih keputusan untuk berbohong pada ibunya, karena nilai itu yang terasa kuat ingin dibangun dalam film. Keputusan Na Willa untuk mengambil pilihan berbeda dari Emak bisa menjadi cela membangun konflik lebih kuat dan memberikan banyak opsi bagi penonton untuk menafsir.
Film Na Willa berisi kumpulan karakter-karakter manusia baik. Orang tua, teman-teman, guru, pembantu, hingga tetangga ditampilkan menjadi manusia baik. Ini beresiko pada pola pikir bineritas yang mempengaruhi pembentukan pembagian nilai yang cukup kontras, antara anak baik dengan anak bermasalah, anak patuh dengan anak pembangkang, serta anak rajin dengan malas. Pembagian itu menghilangkan ambiguitas atau ruang tafsir di antara keduanya yang dibutuhkan dalam sebuah film.




Comments are closed.