Pejabat dari Jakarta, juga pemerintah daerah, mengklaim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya tidak parah karena asap cepat pergi. Namun bagi warga, karhutla tahun ini adalah yang paling melelahkan.
MATAHARI di Jumat siang pekan lalu, sedang terik-teriknya. Siti Zubaidah (64) memilih beristirahat di kamar sambil mengipas-ngipas tubuhnya.
Zubaidah tinggal di Kampung Pengayuan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kawasan rumahnya berada di perbatasan Banjarbaru dengan Kabupaten Tanah Laut. Rumah-rumah warga berdiri jarang-jarang, sementara di belakangnya terbentang lahan rawa gambut yang mengering ketika musim kemarau.
Rumah Zubaidah berada tepat di pinggir Jl. Ahmad Yani, yang menghubungkan jalur provinsi. Di luar rumah, kendaraan masih terdengar melintas seperti biasa. Hingga tiba-tiba, anak laki-lakinya datang dan berteriak dari luar, memintanya segera keluar.
“Ma, lakasi (cepat) keluar!” teriak putra Zubaidah dari luar rumah.
“Ada apa?”
“Ayuha (ayo), lekasi keluar.”
Anak laki-lakinya menarik Zubaidah keluar rumah. Di halaman, Zubaidah melihat api sudah berkobar di lahan belakang rumah. Rawa gambut yang mengering terbakar, sementara pepohonan gelam dan rerumputan kering dilalap api. Langit di belakang rumahnya memerah dan asap hitam mulai memenuhi kawasan permukiman.
Kobaran api bergerak semakin dekat. Zubaidah dan keluarganya tak punya cukup keberanian untuk menyelamatkan aset-aset penting di dalam rumah.
Teriakan meminta pertolongan menggema. Relawan pemadam kebakaran datang dan menuju bagian belakang rumah yang berbatasan langsung dengan lahan terbakar.
Sebagian relawan berusaha memadamkan api, sebagian lain masuk ke rumah Zubaidah untuk mengeluarkan barang-barang. Kursi, barang elektronik dan sejumlah perabot rumah tangga dipindahkan ke luar dan diletakkan di tepi Jl. Ahmad Yani.
Zubaidah hanya bisa berdiri, terdiam, menyaksikan isi rumahnya bertebaran di halaman.
Asap semakin tebal ketika api bergerak melewati lahan di belakang rumah. Warga di sekitar permukiman ikut keluar untuk mengamankan barang dan memantau arah kobaran. Relawan menyisir titik-titik api yang masih menyala agar tidak mendekati rumah warga.
Kobaran akhirnya melewati kawasan rumah Zubaidah dan bergerak ke sisi lain Jl. Ahmad Yani. Rumahnya selamat, begitu pula beberapa rumah dan warung warga di sekitar lokasi.
Namun, peristiwa itu meninggalkan trauma. Zubaidah mengaku baru pertama kali melihat api bergerak begitu dekat dengan rumahnya, meski kebakaran lahan bukan yang pertama kali terjadi di Pengayuan.
“Rasanya kayak hampir mati waktu itu,” katanya.
Hendra, koordinator relawan pemadaman, Pengayuan Rescue, mengatakan kebakaran sudah terlalu sering terjadi di wilayah tersebut sehingga pihaknya tidak lagi menghitung berapa kali relawan harus turun ke lapangan.
Para relawan akan segera mendatangi lokasi setelah menerima laporan adanya titik api yang mulai mendekati permukiman atau membakar lahan di sekitar jalan.

Selain ancaman api, warga Pengayuan juga harus menghadapi asap yang muncul berulang kali selama kemarau. Dua hari sebelum kebakaran yang nyaris mencapai rumahnya, Zubaidah menghadapi kabut asap tebal yang menyelimuti Banjarbaru.
Pada Rabu (19/8), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di kota itu tercatat masuk kategori berbahaya dengan tingkat konsentrasi PM2.5 di atas 250.4 µgram/m3. Pengayuan menjadi salah satu kawasan yang merasakan dampaknya karena berada dekat dengan sejumlah titik kebakaran.
Zubaidah mengatakan kabut asap juga membuat pandangannya terganggu hingga ia kesulitan melihat dengan jelas. Matanya juga terus berair setelah terpapar asap.
“Sempat kadap (gelap) penglihatan. Sampai ini mata masih bebanyuan (berair) aja,” kata Zubaidah.
Ia tidak langsung pergi berobat karena untuk keluar rumah dalam kondisi asap pekat juga terasa berat. Keluhan pada matanya hanya diatasi dengan obat tetes.
Menurutnya, asap biasanya mulai terasa sejak subuh dan berangsur menipis ketika waktu mendekati pukul 09.00 WITA. Kondisi itu terjadi berulang dalam beberapa hari terakhir.
“Karhutla tahun ini merupakan yang paling parah,” sebut Zubaidah, membandingkan dengan peristiwa serupa, lima tahun silam.
Ia menambahkan, kondisi ini semakin menyulitkan karena dalam 1-2 bulan terakhir hujan hampir tidak turun di Banjarbaru dan sejumlah wilayah lain di Kalimantan Selatan. Pada musim kemarau sebelumnya, hujan masih sesekali turun sehingga kondisi lahan tidak sekering sekarang.
Mengungsi dan Krisis Air
Kondisi serupa juga dirasakan keluarga Sigit Bayuadhi yang tinggal di Loktabat Utara, Banjarbaru. Ketika asap semakin pekat, Sigit memilih membawa istri dan anaknya keluar dari kota.
Sejak Kamis (20/8), mereka mengungsi ke sebuah rumah dinas di kawasan Pramuka, Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan.
Keputusan itu diambil setelah anaknya, Zaidan, mulai mengalami gangguan kesehatan. Zaidan lahir dengan down syndrome dan memiliki bawaan jantung bocor. Ketika kabut asap semakin pekat di sekitar rumah, ia mulai batuk dan mengeluh pusing.
“Saya harus selamatkan [anak] dari asap yang sudah tidak bersahabat,” kata Sigit.
Setelah mendapat perawatan medis di Banjarmasin, kondisi Zaidan membaik meski batuk masih muncul. Sigit mengatakan kondisi bawaan anaknya membuat proses pemulihan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan anak lain.
Sigit sebenarnya ingin kembali membawa keluarga ke Banjarbaru, tetapi masih menunggu kondisi udara membaik.
“Saya ke Banjarmasin hari Kamis, dan memang alhamdulillah kami lebih merasa lebih nyaman di sini karena asapnya tidak terlalu pekat seperti di komplek rumah kami,” ujarnya.
Keputusan mengungsi itu juga menjadi pengalaman pertama bagi keluarga tersebut. Selama tinggal di Banjarbaru, Sigit mengatakan mereka belum pernah meninggalkan rumah karena kabut asap.
“Selama saya tinggal di sini, baru kali ini saya ungsikan ke Banjarmasin. Kemarin-kemarin saya masih bertahan, tapi kok saat ini benar-benar harus kami ungsikan,” katanya.
Di rumah yang mereka tinggalkan, kemarau panjang juga membawa persoalan lain.
Corry, istri Sigit, mengatakan sumur mereka kosong sementara air PAM juga tidak mengalir. Keluarga itu sempat membeli air galon isi ulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk mandi.
“Sumur tuh kosong. Terus PAM juga enggak sama sekali ngalir,” kata Corry.
Pompa air sempat dinyalakan berjam-jam, tetapi air sumur tidak kunjung naik. Kondisi itu membuat penggunaan listrik meningkat. Corry khawatir tagihan listrik mereka ikut membengkak karena pompa harus terus dinyalakan tanpa mendapatkan air yang cukup.
“Kita nyalain air juga berjam-jam kok nggak masuk-masuk. Air sumur itu nggak naik-naik, jadi boros listrik,” ujarnya.
BMKG mencatat Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito yang juga mengalir ke Sungai Martapura di Banjarbaru mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang dengan prediksi puncak musim kering hingga September 2026.
Situasi yang merupakan dampak El Nino, atau fenomena pemanasan suhu di atas rata-rata yang menjalar ke sebagian wilayah Pasifik tengah dan timur ini membuat pasokan air ke sungai semakin terbatas dan berpotensi meningkatkan risiko karhutla.
Asap dan Titik Panas yang Meningkat
Di sejumlah wilayah Banjarbaru, warga mulai mengurangi aktivitas di luar rumah ketika asap menebal. Sebagian memilih menutup pintu dan jendela, sementara warga yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi kesehatan rentan harus mengambil langkah lebih jauh dengan meninggalkan wilayah yang dipenuhi asap.
Nusantara Atlas mencatat Kalimantan Selatan sebagai provinsi dengan peningkatan titik panas tertinggi keenam di Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026. Per 26 Agustus, titik panas secara akumulatif telah mencapai 15.065.
Catatan BPBD Kalimantan Selatan mencatat sepanjang 14 Juli-25 Agustus 2026, karhutla dilaporkan terjadi sebanyak 1.813 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 8.811 hektare. Dalam hitungan sekitar satu bulan, jumlah titik panas atau hotspot mencapai 8.466.
Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarbaru menjadi tiga wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak di Kalimantan Selatan. Sebagian lokasi kebakaran berada di kawasan rawa gambut yang mengering selama kemarau. Ketika vegetasi mengering dan hujan tidak turun dalam waktu lama, api menjadi lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Rumah Zubaidah selamat, tetapi lahan di sekitarnya telah berubah menjadi area yang menghitam dan terbakar. Namun, asap masih terus jadi persoalan. Kabut pekat, membuat mata perih dan berair. Aktivitas warga ikut terganggu. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan kemarau yang membuat sumber air rumah tangga semakin sulit.
Di Banjarmasin, keluarga Sigit masih menunggu udara di Banjarbaru membaik. Mereka ingin pulang, tetapi belum tahu kapan kondisi tersebut benar-benar aman untuk Zaidan dan anggota keluarga lainnya.
Sigit berharap penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api sudah mendekati permukiman. Relawan, TNI, Polri dan pemerintah, kata dia, perlu bekerja bersama untuk menangani kebakaran sebelum meluas dan kembali memaksa warga meninggalkan rumah.
“Pemerintah harus lebih serius lagi bahwa ini benar-benar suatu kejadian yang tidak bisa dianggap remeh. Harus benar-benar semua saling sinergi, semua saling bekerja sama,” katanya.
***
Ronny Eka Saputra, Kepala BPBD Kalimantan Selatan mengatakan pemadaman karhutla saat ini mengandalkan koordinasi bersama satgas darat dan udara. Namun, tidak semua titik api bisa dijangkau dengan mudah.
Wilayah yang masih menjadi tantangan berada di Guntung Damar, Hutan Lindung Liang Anggang dan Pengayuan, Kota Banjarbaru. Sebagian kawasan tersebut merupakan lahan gambut sehingga kendaraan pemadam tidak bisa mendekati titik api.
Menurut dia, kondisi lahan gambut membuat akses armada darat menjadi terbatas. Karena itu, pemadaman juga dilakukan dari udara menggunakan helikopter water bombing.
Saat ini, 4 helikopter water bombing dikerahkan BNPB dan tiga lainnya berasal dari Kementerian Pertahanan.
Upaya modifikasi cuaca atau operasi modifikasi cuaca (OMC) sebelumnya juga telah dilakukan pada 15-21 Juli 2026. Namun, operasi dihentikan pada 22 Juli karena tidak lagi terdapat potensi awan hujan di Kalimantan Selatan yang dapat disemai.
Pada Minggu (23/8), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni hadir memantau aktivitas pemadaman di Kompleks Perumahan Aero Sinergia. Satu hari sebelumnya, pengusaha sawit asal Kalsel Andi Syamsuddin Arsyad alias Isam, bersama Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali juga datang ke Banjarbaru.
Mereka meninjau kawasan Guntung Damar yang juga kawasan rawan kebakaran lahan. Di sana, juga ada Gubernur Kalsel Muhidin dan wakilnya Hasnuryadi Sulaiman.
Dalam wawancaranya ke sejumlah media massa di sela kunjungan tersebut, KSAL Ali mengklaim kalau kondisi karhutla di Kalsel tidak begitu parah. Ia mengklaim, “Asap cepat sekali perginya.”
“Ini kita lihat sendiri, tidak terlalu parah. Dua hari yang lalu memang sempat viral di media, tapi setelah kita datang ke sini, tidak separah apa yang kita lihat di medsos,” katanya.
Gubernur Kalsel, Muhidin, mengamini apa yang dikatakan Muhammad Ali. Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto juga tidak jadi datang ke Kalsel karena menurut laporan tim yang melakukan kunjungan di provinsi ini, kondisi Kalsel tidak begitu parah.
Api yang Belum Kunjung Mati
Asap tipis masih mengepul dari sela-sela tanah ketika Kasman (51) menyusuri kebunnya pada siang itu. Sesekali, dari permukaan tanah yang menghitam, muncul api kecil. Ia segera mengambil air dan membasahi bagian yang kembali menyala.
Kebun itu berada di Jalan Kurnia Ujung, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru. Di sana Kasman dan istrinya, Santi, tinggal di sebuah rumah yang sekaligus menjadi pondok kebun. Sekitar 4 hektare lahan yang mereka kelola terbakar sejak pertengahan Agustus.
Namun, kebakaran yang tampak sudah berlalu itu belum benar-benar selesai. Di bawah permukaan tanah, gambut masih membara. Asap muncul, kemudian api. Ketika api dipadamkan, beberapa waktu kemudian titik lain kembali menyala.
“Jadi ada asap, timbul api, asap lagi, timbul api,” kata Kasman.
Kasman sudah berulang kali mematikan bagian-bagian kebun yang berasap dan api-api kecil dengan ranting pohon.
Kebun itu adalah sumber penghidupan keluarga Kasman. Ia menanam berbagai jenis buah, mulai dari durian, alpukat, petai, jeruk, mangga, rambutan hingga pisang. Sebagian tanaman masih dalam masa pertumbuhan, sementara sebagian lainnya sudah memasuki masa panen.
“Semua terbakar. Sisa yang pinggir-pinggir rumah ini,” katanya.

Durian menjadi salah satu tanaman yang paling ia andalkan. Beberapa pohon yang mulai belajar berbuah sudah mengeluarkan bunga ketika api datang.
“Durian itu yang unggulan, lagi belajar buah, sudah kembang, terbakar,” kata Kasman.
Tanaman yang sebelumnya sudah siap menghasilkan pun ikut terdampak.
“Yang siap panen itu jeruk sama jambu kristal.”
Kasman masih mengingat sore ketika kebakaran pertama kali terlihat. Waktu itu, jelang magrib, ia tengah memberi makan sapi di kandang yang berada sekitar 150 meter dari rumahnya. Santi tiba-tiba mengabarkan ada api dari ujung kebun.
Api membesar dengan cepat. Karena keadaan mendadak, Kasman dan warga sekitar hanya mengandalkan peralatan seadanya untuk memadamkan api. Beberapa tetangga datang membantu secara sukarela.
Api sempat padam. Tetapi dua hari kemudian, titik api muncul lagi. Bukan hanya satu. Api bermunculan dari bagian-bagian lain kebun.
“Ulun (saya) kewalahan di situ, air habis,” kata Kasman.
“Yang kita kewalahan itu yang dikepung (api) itu.”
Sejak saat itu, pekerjaan memadamkan api tidak pernah benar-benar berakhir. Kasman seperti berhadapan dengan kebakaran yang tidak terlihat seluruhnya.
“Sekitar 15 malam saya berkelahi dengan api,” katanya.
Selama itu pula tubuhnya terus dipaksa bekerja. Ia mengaku sempat memeriksakan kondisi kesehatannya setelah berjibaku dengan kebakaran.
“Tapi Alhamdulillah setelah cek di orang kesehatan kondisinya saya masih normal,” ujarnya.
Kebakaran itu meninggalkan kerugian yang bagi Kasman sulit dihitung. Bukan hanya tanaman yang mati. Sebelum kebakaran, ia sudah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan, membuat baluran, membeli bibit dan pupuk.
“Kalau kerugian kada kehitung. Soalnya kita itu mulai bikin baluran, ongkosnya sudah berapa? Belum bibit, bibit kan bukan bantuan, lalu pupuk,” katanya.
“Kalau ratusan juta ya sudah pasti, lah. Kalau disuruh hitung malah pusing juga saya.”
Sudah sekitar 5 tahun, Kasman dan keluarganya tinggal di pondok tersebut. Sebelumnya, mereka tinggal di bagian ujung jalan dan mengelola kebun milik orang lain. Pada 2023, kawasan itu juga pernah terbakar hebat.
Banjir juga pernah datang. Mereka kemudian pindah sedikit lebih ke depan, berharap mendapat tempat yang lebih aman. Tetapi persoalan air tetap mengikuti.
Pada musim hujan, air justru terlalu banyak dan lahan terendam. Ketika kemarau datang, air menjadi sulit didapat. Kondisi itu membuat pemadaman kebakaran semakin berat ketika lahan mulai terbakar.
Di kebun yang kini sebagian besar berubah menjadi hamparan hitam itu, Kasman tidak lagi banyak memikirkan buah yang akan dipanen. Ia lebih sibuk memastikan api tidak kembali mendekati rumah tempat ia dan keluarganya tinggal.
“Sedih pokoknya. Tinggal sedih-sedihannya aja ini,” katanya.
***
Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel mengkritik cara pemerintah yang cenderung reaktif dalam bencana ekologis, alih-alih mencari tahu akar masalah.
Reaktif yang dimaksud, kata Raden, terjadi ketika pemerintah pusat dan daerah hanya memikirkan langkah penanggulangan ketika kebakaran sudah terjadi.
Menurutnya, krisis iklim memang membuat lahan lebih mudah terbakar. Namun, karhutla, khususnya di Kalsel, tidak bisa dijelaskan sesederhana itu.
Menurut dia, perubahan bentang alam akibat deforestasi, perkebunan monokultur berskala besar dan aktivitas pertambangan turut membuat kondisi lingkungan semakin rentan. Di kawasan gambut, perubahan tata air dapat membuat lahan lebih cepat mengering ketika musim kemarau karena kegiatan-kegiatan tersebut.
“Krisis iklim iya, tapi ini juga dampak dari izin-izin yang ada, perkebunan monokultur hingga pertambangan yang memperparah,” katanya.
Dari total 3.219 titik panas di Kalimantan Selatan sepanjang 1 Mei-18 Agustus, Walhi Kalsel menemukan sebanyak 304 titik panas atau sekitar 9,4 persen di antaranya berada di dalam dan sekitar konsesi perkebunan kelapa sawit.
“Alih fungsi hutan menjadi perkebunan menghilangkan fungsi hidrologis alami hutan, mengintersepsi air hujan, mengisi cadangan air tanah, dan menstabilkan debit sungai,” kata Raden.
Sebagai contoh, Raden menyoroti penggunaan pompa untuk mengambil air dari luar kawasan konsesi yang kerap digunakan perusahaan sawit saat musim kemarau. Menurutnya, aktivitas tersebut perlu diperiksa karena dapat memengaruhi kondisi air di kawasan gambut.
Karena itu, Walhi Kalsel meminta pemerintah mengevaluasi izin-izin yang berada di kawasan rentan kebakaran dan memastikan pengelolaan lahan tidak memperparah kekeringan.
“Tuntutan kepada pemerintah melakukan audit, evaluasi izin-izin yang ada,” ujarnya.
Menurut dia, penanganan karhutla juga tidak boleh berhenti pada pemadaman api atau mencari warga yang dianggap sebagai pelaku pembakaran. Pemerintah dan aparat penegak hukum perlu mencari penyebab kebakaran secara lebih menyeluruh, termasuk jika api muncul di kawasan konsesi.
“Jangan sampai hanya mencari tumbal,” katanya.





Comments are closed.