Mubadalah.id – Toleransi dan kemanusiaan menjadi isu yang terus relevan, khususnya di Indonesia. Toleransi menjadi ciri khas Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak agama. Misi kemanusiaan juga mendapatkan tempat.
Karena banyaknya agama, Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai jargon “toleransi”. Dalam sejarah bangsa Indonesia, kita dapat menemukan tokoh-tokoh yang dengan semangat mengajarkan dan meneladankan makna dari toleransi tersebut.
Dari banyaknya tokoh, ada dua orang yang selalu dikenang karena komitmennya dalam merawat toleransi dan kemanusiaan. Kedua tokoh tersebut adalah Abdurrahman Wahid dan Y.B. Mangunwijaya. Keduanya memang memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama yaitu membela kemanusiaan tanpa memandang agama.
Tulisan ini akan mengajak pembaca untuk melihat bagaimana kedua tokoh ini memperjuangkan nilai kemanusiaan di tengah perbedaan. Sekadar catatan, bahwa tulisan ini memang dibuat dari sudut pandang iman Katolik. Namun demikian tulisan ini tidak akan menyinggung ajaran teologis iman Katolik, namun melihat semangat kedua tokoh besar ini.
Gus Dur Sang Pembela Kaum Minoritas
Siapa yang tidak mengenal dengan tokoh ini. Abdurrahman Wahid atau yang akbrab disapa Gus Dur merupakan Presiden Indonesia keempat. Ia merupakan tokoh yang dikenal karena perjuangannya merawat keberagaman yang ada di Indonesia. Gus Dur menunjukkan kepada semua rakyat bahwa iman yang matang tidak membuat seseorang eksklusif, melainkan justru semakin terbuka dan manusiawi.
Yang mengenal Gus Dur tidak hanya orang yang seagama dengan beliau, namun juga datang dari semua golongan agama. Gus Dur dikenal karena keberaniannya dalam membela kelompok minoritas yang mendapat tekanan dan dalam kesulitan.
Salah satu hal yang sampai hari ini masih menjadi inspirasi banyak orang adalah tindakan Gus Dur yang mengizinkan kembali budaya Tionghoa di ruang publik. Banyak orang menyukai Gus Dur karena konsistensinya dalam merawat toleransi dan kemanusiaan. Baginya yang pada saat itu menjabat sebagai presiden, tindakan ini menjadi pesan bahwa negara harus bisa bersikap adil kepada rakyatnya.
Gur Dur memiliki ciri khas bahwa ia selalu memperhatikan mereka yang terpinggirkan meskipun berbeda dengannya. Kata-kata yang selalu menjadi semangat Gus Dur adalah “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Gus Dur menunjukkan bahwa religiusitas sejati selalu berbuah pada pembelaan terhadap yang lemah.
Romo Mangun dan Spritualitas Membumi
Selain Gus Dur, ada satu tokoh lagi yang juga semangat dalam menjaga toleransi dan kemanusiaan, yaitu Rama Y.B. Mangunwijaya (selanjutnya Rm. Mangun). Sama halnya dengan Gus Dur, ia memiliki sikap kepedulian yang besar terhadap mereka yang terpinggirkan. Dalam karya pelayanan, Rm. Mangun tidak pernah mempersoalkan tentang agama.
Rm. Mangun selalu memegang prinsip bahwa orang tidak perlu untuk melihat agama untuk membantu yang membutuhkan. Salah satu kiprah Rm. Mangun yang sangat terkenal adalah perjuangannya dalam mendampingi masyarakat di sekitar bantaran kali Code, Yogyakarta.
Rm. Mangun tidak peduli apa agamanya, sukunya, dan warna kulitnya. Ia dengan semangat mendampingi warga yang terancam akan tergusur. Dari tindakannya inilah ia mendapat julukan sebagai arsitektur kemanusiaan Kali Code.
Perjuangan Rm. Mangun mencerminkan bahwa Gereja harus menjadi institusi yang bersahaja, membumi, dan berani. Gereja harus memiliki sikap yang tidak takut untuk berdialog dan tidak menutup mata terhadap mereka yang menderita.
Ketika Dua Pahlawan Kemanusiaan Bertemu
Baik Gus Dur maupun Rm. Mangun sama-sama memiliki semangat kemanusiaan yang toleransi yang tinggi. Dalam karya pelayanan, keduanya tidak pernah bertanya “Apa agamamu?” atau “Dari suku mana kamu?” Inilah yang menjadi kekhasan dari kedua tokoh besar ini. Mereka menunjukkan bahwa toleransi menemukan makna yang sungguh mendalam. Bagi mereka toleransi dipahami sebagai sikap yang saling menerima meskipun berbeda.
Dalam Iman Kristiani, ini jelas sangat berhubungan dengan martabat manusia sebagai ciptaan. Keyakinan bahwa setiap pribadi adalah citra Allah sungguh menjadi slogan yang nyata bagi kedua tokoh ini. Gus Dur membela minoritas yang terdiskriminasi, dan Rm. Mangun mendampingi warga miskin yang terancam penggusuran, keduanya sedang melakukan hal yang sama, yaitu mengembalikan martabat manusia yang terluka.
Dialog pada dasarnya tidak boleh dipandang sebagai ancaman iman. Dalam sudut pandang iman Katolik, semangat ini juga selaras dengan spiritualitas yang selalu menjadi ciri dari mendiang Paus Fransiskus. Dialog merupakan kesempatan untuk mendengarkan dan belajar dari yang lain.
Tantangan Untuk Melanjutkan Api Toleransi
Meskipun kedua tokoh ini tinggal dalam kenangan, namun warisan akan semangatnya dalam memperjuangkan martabat manusia masih sangat relevan di zaman sekarang. Warisan yang mereka tinggalkan kini menjadi tanggungjawab kita di zaman yang semakin berkembang ini. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus berani untuk meneladani semangat Gus Dur dan Rm. Mangun.
Tantangan pada zaman Gus Dur dan Rm. Mangun tentu berbeda dengan tantangan di zaman ini. Banyak konflik yang terjadi karena kurangnya kesadaran akan toleransi ini. Politik identitas menjadi tantangan yang tidak mudah dalam berdialog.
Satu hal yang harus selalu menjadi ingatan kita bersama, bahwa Gus Dur dan Rm. Mangun sudah menyalakan api semangat toleransi dengan cara mereka, maka tugas kita adalah menjaga api itu agar tidak padam. Merawat toleransi menjadi cara untuk memurnikan iman. Dialog harus sungguh menyentuh sisi kemanusiaan, terlebih mereka yang terpinggirkan. Ini panggilan kita bersama untuk berjuang bersama. []





Comments are closed.