Mubadalah.id – Ada satu kebohongan yang terlalu sering kita ulang tentang cinta, yakni ia bisa membuat manusia menjadi lebih lembut, lebih sabar, dan lebih manusiawi. Kita membayangkannya sebagai sesuatu yang dapat menenangkan, seolah-olah cinta adalah rumah bagi segala kegelisahan berakhir.
Imajinasi ini kita pelihara terus-menerus melalui lagu, film, bahkan nasihat-nasihat yang terdengar bijak di beberapa platform media sosial. Padahal, jika kita berani untuk sedikit saja lebih jujur, kenyataannya tidak selalu demikian. Karena dalam banyak kasus, justru dari cinta itulah lahir kekacauan yang paling sulit untuk kita jelaskan.
Kita menyaksikan sendiri bagaimana relasi personal kerap berubah menjadi ruang kekerasan yang sunyi. Remaja membunuh, suami menganiaya istri, atau hubungan yang perlahan berubah menjadi pengawasan yang menyesakkan. Ironisnya, semua itu sering kita mulai dari kalimat yang terdengar sangat akrab, yaitu “karena saya cinta.”
Kalimat tersebut, menjadi semacam legitimasi moral yang tidak pernah benar-benar kita uji. Ia seakan kita terima begitu saja tanpa syarat, seolah-olah kata yang berangkat dari cinta selalu membenarkan segala tindakan.
Di titik ini, mungkin kita perlu mempertanyakan sesuatu yang kiranya tidak nyaman. Jangan-jangan yang kita sebut cinta selama ini memang bukanlah cinta. Dan jangan-jangan kita hanya memberi nama yang indah dan penuh romantis pada dorongan yang sebenarnya jauh dari keindahan dan romantisme itu sendiri.
Mungkin dalam konteks inilah, pemikiran Kahlil Gibran, sosok penyair sekaligus filosof kelahiran Lebanon, menjadi terasa penting untuk kembali terbaca sebagai kritik yang diam-diam menggugat cara kita mencintai.
Cinta dan Kekerasan
Jika kita perhatikan dengan lebih teliti, banyak kasus kekerasan dalam sebuah relasi tidak terjadi secara tiba-tiba. Akan tetapi, ia tumbuh secara perlahan yang hampir tidak terasa awalnya. Mungkin saja, ia bermula dari perhatian berubah menjadi pengawasan, dari pengawasan menjadi pembatasan, dan dari pembatasan akhirnya menjadi kekerasan yang nyata.
Proses demikian seringkali berlangsung tanpa tersadari oleh pelaku maupun korban. Mungkin karena semuanya terbungkus dalam bahasa yang terdengar romantis sekaligus penuh cinta dan kasih.
Situasi menjadi semakin rumit, ketika budaya dominatif kita normalisasikan dalam hubungan relasi. Karena dalam kondisi ini, pelaku seringkali tidak merasa diri dia sebagai pelaku kekerasan, melainkan sebagai seseorang yang sedang menjaga hubungan. Ia merasa sedang mencintai, bukan melukai.
Di sini kita melihat bagaimana konsep bahasa dapat menipu dengan cara yang begitu halus. Sehingga tidak heran ketika bahasa “cinta” hanya menjadi semacam selimut yang menutupi tindakan-tindakan yang sebenarnya destruktif.
Dalam artikelnya yang berjudul Gibranisme: Antara Eksistensialisme dan Romantisme (2015), Dr. Fahruddin Faiz telah membeberkan bagaimana makna cinta dalam perspektif Kahlil Gibran yang seharusnya menjadi jalan menuju keutuhan (eksistensi) yang memanusiakan manusia. Artinya, cinta dalam kacamata Gibran bukanlah yang sikap yang menghancurkan, tetapi justru yang membentuk dan memperluas diri manusia.
Namun demikian, dalam realitas sosial kita hari ini, makna cinta sering kehilangan orientasinya sebagaimana yang pernah Gibran jelaskan. Akhir-akhir ini, ia justru menjadi emosi yang liar, tidak terdidik, dan mudah tersusupi oleh ego yang ingin menguasai.
Budaya Kepemilikan dalam Relasi
Masalah demikian, mungkin tidak hanya terletak pada faktor individu, tetapi juga pada budaya yang membentuk cara kita memahami sebuah relasi. Karena dalam banyak konteks sosial di Indonesia, cinta masih sangat dekat dengan gagasan kepemilikan. Di mana pasangan terpahami sebagai sesuatu yang “dimiliki”, bukan sebagai pribadi yang otonom.
Kiranya, budaya kita masih menyisakan ekspektasi untuk selalu hadir, selalu terbuka, dan selalu bisa terakses kapan saja tanpa batas ketika manusia berada di dalam sebuah hubungan relasional. Hubungan relasi di sini, seakan harus menjadi ruang sesak yang hampir tanpa jarak.
Lebih ironisnya, kita bahkan meromantisasi kecemburuan sebagai tanda cinta yang tulus. Kalimat seperti “kalau tidak cemburu berarti tidak sayang” terasa terdengar biasa-biasa saja, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Padahal di baliknya, terdapat asumsi pahit yang menjadikan salah satu pihak seakan berhak untuk mengawasi.
Media sosial pun memperkuat logika ini dengan cara yang sunyi sekaligus efektif. Hadirnya fitur lokasi, akses akun, hingga kebiasaan saling memeriksa ponsel misalnya, adalah bentuk budaya dominatif yang selama ini dianggap normal. Dalam hal ini, nilai kedekatan terukur dari seberapa jauh seseorang bersedia membuka seluruh ruang privatnya.
Padahal menurut Gibran, sebagaimana puisinya yang berbunyi: “But let there be spaces in your togetherness, and let the winds of the heavens dance between you. Love one another but make not a bond of love: Let it rather be a moving sea between the shores of your souls.” Cinta justru membutuhkan jarak. Sebab tanpa jarak itu, cinta kehilangan napasnya dan berubah menjadi ruang yang sesak.
Generasi yang Salah Paham tentang Cinta
Di tengah situasi ini, generasi muda tumbuh dalam banjir narasi tentang cinta yang sangat melimpah tetapi minim kedalaman makna. Mereka mengenal cinta dari film, lagu, dan media sosial, tetapi jarang diajak memahami kompleksitasnya secara serius. Akibatnya, cinta hanya sering terpahami sebagai pengalaman yang harus selalu menyenangkan. Sehingga ketika ia mulai terasa sulit, banyak yang menganggapnya sebagai kegagalan.
Di sisi lain, hubungan relasi dijalani dengan kecepatan yang tinggi tetapi tanpa kesiapan emosional yang memadai. Orang jatuh cinta dengan cepat, membangun harapan yang besar, tetapi tidak siap menghadapi konflik yang pasti muncul. Ketika masalah datang, sebagian memilih pergi, sementara yang lain bertahan dengan cara yang keliru. Mereka mengontrol, menekan, atau bahkan melukai, tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Di titik ini, luka dalam cinta kehilangan makna transformasinya. Ia tidak lagi menjadi jalan menuju kedewasaan, tetapi berubah menjadi trauma yang berulang. Dan yang lebih problematis, kita tidak belajar dari siklus itu. Kita hanya mengulanginya dengan aktor yang berbeda, tetapi dengan pola yang sama. Dalam hal ini, cinta seolah-olah adalah sesuatu yang selalu baru, padahal kesalahan kita di dalamnya terus berulang.
Pada akhirnya, mungkin persoalan kita hari ini adalah karena kita tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana mencintai. Kita ingin cinta yang membuat kita nyaman, tetapi menolak cinta yang menuntut kita berubah. Ingin memiliki, tetapi tidak siap memberi kebebasan. Kita ingin kedekatan, tetapi takut pada kedalaman yang menyertainya.
Padahal seperti yang pernah Kahlil Gibran tuliskan: “Love gives naught but itself and takes naught but from itself. Love possesses not nor would it be possessed. Cinta tidak memberi apa pun kecuali dirinya sendiri. Ia tidak memiliki dan tidak ingin dimiliki.”
Mungkin demikianlah ironi cinta zaman ini bermula. Di mana manusia hidup di dunia yang penuh dengan kata-kata tentang cinta, tetapi semakin sedikit yang memahami bagaimana cinta seharusnya kita jalani. Dan mungkin, seperti yang pernah Kahlil Gibran isyaratkan, bahwa “cinta tidak pernah datang untuk membuat manusia nyaman. Ia datang untuk membuat manusia bertumbuh. Dan pertumbuhan hampir selalu dimulai dari luka.” []





Comments are closed.