Mubadalah.id – Mulai April 2026, WFH ASN akhirnya resmi: pemerintah menetapkan satu hari kerja dari rumah setiap hari Jumat untuk aparatur sipil negara. Alasannya terdengar masuk akal: efisiensi BBM, mengurangi kemacetan, hingga fleksibilitas dan digitalisasi.
Tapi sebelum lanjut lebih jauh, mungkin perlu ditegaskan dulu: tulisan ini bukan untuk julid, bukan juga karena iri, apalagi ingin menjatuhkan. ASN tetap pekerjaan yang layak, terhormat, dan punya peran penting dalam jalannya negara. Itu jelas. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di situ.
Tapi di saat yang sama, kita juga berhak melihat kebijakan dengan jernih. Iya? Mengomentari bukan berarti membenci. Mengkritik bukan berarti merendahkan. Justru karena kita peduli, kita memilih untuk bertanya. Karena kalau semua hal hanya diterima begitu saja tanpa dipikirkan ulang, bukankah kita jadi kehilangan ruang untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi?
Karena jujur, di atas kertas, mungkin kebijakan ini tampak seperti solusi cerdas di tengah situasi ekonomi yang terus menuntut penghematan. Tapi, kalau kita duduk sebentar dan benar-benar memikirkan ini, pertanyannya: ini benar-benar solusi, atau pencitraan? kasarnya.
Satu Hari yang Katanya Cukup
Mari kita mulai dari yang paling sederhana. Pemerintah ingin menghemat BBM. Logis. Banyak ASN setiap hari berangkat ke kantor, menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum. Satu hari WFH berarti satu hari tanpa perjalanan. Hemat bahan bakar, hemat biaya, dan mungkin juga mengurangi stres di jalan. Kedengarannya seperti win-win solution.
Tapi di sisi lain, apa iya satu hari cukup?
Lalu, kita geser sedikit ke kehidupan sehari-hari ASN. WFH terdengar menyenangkan, terutama di hari Jumat: hari yang sudah punya nuansa lebih santai. Bayangkan: bekerja dari rumah, tanpa macet, tanpa harus buru-buru bangun terlalu pagi.
Tapi, realitanya tidak selalu seindah itu. Tidak semua rumah menjadi ruang kerja yang ideal. Tidak semua orang punya ruang tenang untuk fokus. Belum lagi distraksi: keluarga, suara sekitar, atau bahkan godaan untuk “sedikit santai” yang akhirnya jadi terlalu santai.
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa WFH ASN bukan cuma soal efisiensi, tapi juga soal kesiapan. Siapa yang benar-benar siap menjalani sistem kerja seperti ini? Apakah semua ASN sudah terbiasa dengan budaya kerja fleksibel? Atau justru masih banyak yang bekerja efektif karena ada struktur kantor yang jelas?
Negara Mau Terlihat Fleksibel
Kemudian, kita masuk ke lapisan yang lebih dalam. Kebijakan ini juga membawa pesan simbolik: negara mencoba beradaptasi. Negara ingin terlihat modern, fleksibel, dan responsif terhadap kondisi zaman. Tapi, di saat yang sama, kita juga perlu jujur: apakah perubahan ini benar-benar menyentuh akar masalah, atau hanya permukaan?
Kerja Itu Soal Tempat atau Soal Sikap?
Di sinilah rasanya penting untuk kembali pada cara kita memandang kerja itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini sederhana, tapi dalam. Fokusnya bukan di mana kita bekerja, tapi bagaimana kita bekerja. Bukan kantor atau rumah yang menentukan nilai kerja kita, tapi kesungguhan, tanggung jawab, dan integritas yang kita bawa dalam setiap pekerjaan itu sendiri.
Jadi, sebenarnya WFH atau WFO bukan inti persoalan. Yang jadi inti adalah: apakah kerja itu tetap dijalankan dengan penuh kesadaran, atau justru jadi sekadar formalitas?
Efisiensi atau Sekadar Simbolik?
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa kebijakan ini muncul dengan alasan efisiensi BBM, di tengah banyak sektor lain yang justru masih boros energi tanpa kontrol jelas. Satu hari WFH ASN terasa seperti langkah kecil yang dibungkus dengan narasi besar. Seolah-olah kita sedang menyelesaikan masalah besar, padahal baru menyentuh bagian pinggirnya saja.
Dan di sinilah publik mulai membaca dengan caranya sendiri. Ada yang melihat ini sebagai progres. Ada juga yang melihatnya sebagai kosmetik kebijakan: terlihat bagus di luar, tapi belum tentu berdampak signifikan di dalam.
Siapa yang Tidak Bisa WFH?
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tidak boleh kita lewatkan: keadilan dalam pengalaman. Tidak semua pekerja bisa WFH. Banyak orang tetap harus bekerja di luar rumah: buruh, tenaga kesehatan, pekerja lapangan, dan banyak lainnya.
Ketika ASN mendapat fleksibilitas, sementara yang lain tidak, muncul jarak yang terasa semakin nyata. Bukan soal iri, tapi soal bagaimana kebijakan publik menyentuh, atau tidak menyentuh, semua lapisan masyarakat.
Akhirnya Balik ke Diri Sendiri
Lalu, kita kembali lagi ke pertanyaan awal: ini benar-benar solusi, atau sekadar narasi?
Mungkin jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. WFH ASN bisa jadi langkah awal. Bisa jadi eksperimen. Tapi, langkah kecil tetap butuh arah yang jelas. Kalau tidak, ia hanya akan berhenti sebagai kebijakan yang lewat begitu saja: dibicarakan sebentar, lalu dilupakan.
Di tengah semua ini, kita mungkin perlu kembali ke kesadaran yang lebih mendasar: kerja bukan hanya soal hadir atau tidak hadir di kantor. Kerja adalah tentang amanah. Tentang bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Dan justru di situlah ujian sebenarnya dari WFH ASN. Ketika ruang kerja berpindah ke rumah, ketika pengawasan tidak lagi seketat di kantor, yang tersisa hanya satu hal: integritas diri. []





Comments are closed.