Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Film ‘Legenda Kelam Malin Kundang’ Bisa Jadi Kilas Balik Putus Rantai Kekerasan 

Film ‘Legenda Kelam Malin Kundang’ Bisa Jadi Kilas Balik Putus Rantai Kekerasan 

film-‘legenda-kelam-malin-kundang’-bisa-jadi-kilas-balik-putus-rantai-kekerasan 
Film ‘Legenda Kelam Malin Kundang’ Bisa Jadi Kilas Balik Putus Rantai Kekerasan 
service

Malin Kundang sedari kecil hidup bersama ibu dan bapaknya di suatu desa bernama Nagari Parak Karambia. Ia lahir dari keluarga sederhana dan tinggal di rumah kayu yang cukup untuk mereka bertiga tinggal. 

Suatu saat bapaknya berkata kepada Alif dan ibunya di dapur rumah kayu itu. “Jangan ada laki-laki lain. Aku gak suka!” pinta bapaknya dengan nada yang keras. 

Sambil menunduk dan memasak, ibunya menyampaikan kepada Alif. Suatu pesan yang bermakna pembebasan bagi takdir mereka, yang dianggap telah membuat penderitaan satu sama lain. 

“Amak gak tau lagi, gimana? Kalau kamu nanti merantau, bawa mak pergi dari sini ya,” pesan ibunya kepada Alif penuh harap. 

Tak sampai di sana, kala Alif kembali ke masa lalunya untuk mengingat masa-masa bersama keluarganya, ia menemukan ibunya diperkosa oleh 2 sampai 3 laki-laki. 

Alif kecil dipaksa oleh para laki-laki itu untuk melihat kejadian pemerkosaan tersebut. Ia mengerang pilu melihat ibunya, karena tak kuasa menatap kejadian tersebut, tanpa sadar Alif mengambil pisau, menikam ke perut ibunya, dan salah satu laki-laki di dekatnya. 

“Alif maaf. Maafkan amak ya, nak,” ucap ibunya lirih. 

Seusai itu, Alif yang baru tersadar atas apa yang ia lakukan, mengajak ibunya untuk pergi dari rumahnya.

“Mak ayo pergi dari sini!” ajak Alif kecil kala itu yang dihujani rasa bersalah. 

Namun, nasi telah menjadi bubur. Ibunya menghembuskan napas terakhirnya sebab hunusan pisau di tubuhnya. Tak berhenti di sana. Saat masa kecilnya, Alif pernah menulis “Kalian beruntung tidak harus hidup dengan abang dan amak. Istirahatlah dengan tenang, Adik-Adikku.”

Hal ini menggambarkan bahwa ada rantai kekerasan yang ingin diputus oleh Alif di keluarganya. Walaupun ia secara tak sadar mengulang rantai kekerasan, ia masih sadar bahwa akan ada banyak pihak yang ikut merasakan kekerasan. Sebab masih adanya stigma gender dan patriarki yang melekat dalam masyarakat dan terinternalisasi pada keluarganya kala itu. 

Rantai Kekerasan Gender di Keluarga yang Terus Berulang

Jika kita menganalisis kisah Alif kala masih kecil, ia diharapkan oleh berbagai peran gender orang tuanya yang datang dari pandangan masyarakat. Sosok perempuan yang digambarkan dari peran ibunya menunjukkan sikap pasrah pada keadaan dengan mengatakan, “Amak gak tau lagi, gimana?” 

Hal ini menggambarkan tak adanya kendali perempuan atas tubuh dan nasibnya. 

Tak dapat dipungkiri, hal ini terjadi hingga sekarang di berbagai tempat, sebab pasangan laki-laki dianggap mempunyai kuasa karena dianggap lebih kuat atau “memiliki” secara material, sebab ia yang menafkahi keluarga. 

Kendali perempuan yang lemah atas dirinya diperkuat dengan pernyataan dari suaminya yang mengatakan, “Jangan ada laki-laki lain, aku gak suka!” 

Perempuan juga, meskipun menjadi korban, tetap disalahkan atas kekerasan yang menimpanya. Dalam hal ini, Ibu Alif yang menjadi korban perkosaan justru menjadi korban kedua kalinya (victim blaming).  

Selain luka seorang perempuan, kuasa laki-laki yang patriarki, peran anak di sini juga tersorot. Ia menanggung dosa dari pandangan masyarakat yang terinternalisasi dalam percekcokan antara ibu dan bapaknya. 

Dalam film, tanpa sadar, anak yang kala itu tak kuat melihat ibunya mengerang kesakitan kala diperkosa, lantas menghunuskan pisau ke laki-laki yang memerkosai ibunya. Tak sampai di sana, di luar kesadarannya, ia menghunuskan pisau pula ke bagian tubuh ibunya. 

Stigma Gender dengan Pola Kekerasan Baru

Proses Alif dalam melihat masa lalunya tak berangkat dari ruang hampa. Cara ia memperlakukan istri dan anaknya adalah cerminan dari masa lalunya. 

Saat Alif sudah berkeluarga, istrinya yang menyadarkan akan masa lalunya secara perlahan. Ia menyampaikan bahwa ibu dan ayah dari istri Alif yang bernama Nadine, ingin bertemu dengan bapak dan ibu Alif. Namun, karena ibu dan bapaknya telah tiada, Alif berupaya untuk membayar seorang ibu yang bernama Farida untuk menjadi ibunya. Dengan cara itu, perlahan ia menyusuri kembali ke masa lalunya, penyebab ibunya tiada. 

Selama Alif berkeluarga, banyak kekerasan yang teregenerasi dari corak patriarki yang dilakukan oleh keluarganya di masa kecil. Corak ini menggambarkan kehidupan berkeluarga di masyarakat yang mengutamakan keputusan laki-laki dalam membentuk suasana di sekitarnya. 

Perempuan hanya dijadikan “pembantu di rumah” dan “barang pandang”. Sementara, laki-laki berhak membentak, memerintah, namun di sisi lain, wajib memendam perasaan (maskulinitas toksik).

Dalam setiap Alif teringat akan kejadian masa lalunya, ia mengalami mimisan. Hal itu yang membuatnya terhubung dengan masa kecil dan traumanya. 

Baca juga: ‘The Housemaid’: Cerita PRT dan Lika-Liku Perempuan Lepas dari Jerat KDRT

Nadine menyampaikan bahwa selama berkeluarga, Alif sering kali mengurung diri di kamar dan tak menyukai ada orang asing yang masuk ke rumah. Jika kita kembali ke masa lalu Alif, ia kerap kedatangan laki-laki dewasa di rumahnya untuk memperkosa ibunya. 

Berangkat dari trauma masa kecilnya, berdampak kepada sikap penolakannya kepada orang asing yang hendak masuk ke rumah keluarganya saat sudah menikah. 

Tak selamanya keinginan untuk menolak orang asing masuk ke rumah Alif, ditambah keinginan untuk orang tua istrinya bertemu dengan orang tua Alif, didatangkanlah oleh Alif seorang yang seakan-akan menjadi ibunya. Ia bernama Farida, yang memakai nama “Aminah”. 

Kehadiran Aminah membuat trigger tersendiri bagi Alif. Di sebuah sofa rumahnya, Alif tiba-tiba menangis sebab kehadiran Aminah yang menyerupai sosok ibunya. Anaknya yang belum pernah melihat ayahnya menangis menunjukkan bahwa laki-laki kerap dituntut menekan perasaannya. Inilah pola kekerasan yang baru terungkap di era sekarang, yang sebelumnya tidak disadari pada generasi terdahulu.

Kondisi Ekonomi, Perempuan, dan Perantuan

Trigger lain juga datang dari masa lalunya, kala melatarbelakangi lukisan berukuran kecil (micro painting) dari batu yang sering dikerjakan oleh Alif. 

Aminah bercerita bahwa sedari kecil, Alif tak punya banyak uang, sehingga hanya ada media kecil untuk ia gambari. Alif pun semakin teringat akan masa lalunya yang kala itu mengalami kesulitan ekonomi. Kondisi ekonomi di masyarakat memengaruhi cara ia berperilaku, budaya, bahkan kekerasan dalam keluarga. Hal ini yang mendorong Ibu Alif untuk mengatakan, “Kalau kamu nanti merantau, bawa mak pergi dari sini ya.”

Hal ini menggambarkan bahwa sering perempuan ingin lepas dari penderitaan di keluarganya. Namun, dia tidak memiliki banyak pilihan dan terus direntankan. Salah satu yang ia bisa tempuh, misalnya, adalah berharap agar anaknya hidup dengan “lebih baik”.

Tuntutan perempuan setelah menikah atau para ibu untuk mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk keluarga juga mencerminkan “pemerkosaan kehidupan” yang dikendalikan oleh stigma di masyarakat bahwa perempuan berhak untuk dikuasai. 

Padahal, sejatinya setiap manusia berhak atas kendali dirinya. Terutama, apabila telah mengalami kekerasan itu, sangat dibutuhkan kesadaran dalam diri untuk bersedia pulih, agar bisa memutus rantai kekerasan dengan keberanian menghadapi masa lalu yang penuh stigma dan luka yang lahir dari kehidupan sosial, budaya, ekonomi di masyarakat.

Foto: imdb

(Editor: Nurul Nur Azizah)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.