Mubadalah.id – Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Kegiatan ini dalam rangka Jihad Ekologis P3M Menuju Indonesia Bebas Sampah 2029 (27/2). Acara ini terselenggara di Hotel Acacia bekerja sama dengan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP).
P3M sendiri merupakan organisasi yang berkomitmen untuk memperkuat pesantren dan masyarakat sebagai episentrum perubahan sosial. Organisasi ini resmi lahir pada 18 Mei 1983. Tokoh-tokoh besar pendiri P3M beberapa di antaranya adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Sahal Mahfudz, KH. M. Ilyas Ruhiyat, dan KH. Yusuf Hasyim.
Dalam sambutannya, direktur P3M yaitu KH. Sarmidi Husna, MA memaparkan bahwa Hari Peduli Sampah Nasional bukan sekadar selebrasi. Tetapi juga memperingati tragedi longsornya TPA Leuwigajah Jawa Barat yang merenggut 150 nyawa pada 21 Februari 2005. Oleh karena itu, pengelolaan sampah di Indonesia berada dalam kondisi darurat.
Acara ini tergelar bertujuan untuk merefleksikan dan mengevaluasi pencapaian Jakstranas 2025 terkait target pengurangan 30% dan penanganan 70% sampah nasional. Selain itu, melalui acara ini, penyelenggara mensosialisasikan data terbaru mengenai kondisi darurat sampah plastik kdan mikroplastik kepada 81 tokoh masyarakat dan pemuka agama.
Beberapa di antaranya adalah perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rabithah Ma’had Islamiyyah (RMI) PBNU, dan RMI DKI Jakarta. Selain itu hadir pula dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Pusat, WALHI DKI Jakarta, Lakpesdam, Lazis NU, LPBI NU, Rahima, Wahid Foundation, INFID, KUPI dan masih banyak lainnya.
Kisah Insipiraif Pengelolaan Sampah Pesantren
Hal ini dilakukan dalam sesi bedah buku 10 Kisah Inspiratif Pengelolaan Sampah Pesantren “Jihad Santri Merawat Bumi.” Tujuannya agar para tokoh masyarakat dan pemuka agama dapat membangun narasi keagamaan yang kuat. Yakni untuk mendorong perubahan perilaku memilah sampah dari sumbernya baik dalam skala rumah tangga maupun pesantren.
Lucia Karina selaku VP Public Affairs, Communications and Sustainability Indonesia perwakilan CCEP menyampaikan bahwa CCEP Indonesia hadir sejak tahun 2016. Dalam sesinya saat berbicara tentang Privat Sector terkait membantu pemerintah memenuhi target Jakstranas 2025. Lucia menyampaikan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang teknologi maupun kebijakan. Lebih dari itu, keberlanjutan adalah tentang membangun kesadaran dan perubahan perilaku.
Seperti masyarakat Bali dan Lampung yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya, menggerakkan ekonomi keluarga, hingga menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga karena tumbuhnya harapan baru dan rasa berdaya.
CCEP juga melihat inovasi sederhana namun mampu mengurai sampah organik dan menghasilkan ekonomi tinggi. Contohnya seperti budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly.
Menurut Lucia buku 10 Kisah Inspiratif Pengelolaan Pesantren “Jihad Santri Merawat Bumi” merupakan niat tulus dan ilmu yang bermanfaat serta kerja sama yang ikhlas di lingkungan pesantren untuk mengubah masalah sampah menjadi berkah. Lucia juga mengapresiasi P3M terkait kegiatan halaqoh dan bedah buku.
Indonesia Bebas Sampah 2029
Hal ini senada dengan yang tertuliskan di dalam buku 10 Kisah Inspiratif Pengelolaan Pesantren “Jihad Santri Merawat Bumi”. Kisah Pondok Pesantren Nur El Falah mencatat bahwa P3M bersama CCEP Indonesia hadir ke pondok pesantren bukan dengan alat berat atau truk besar untuk mengelola dan mengolah sampah di lingkungan pesantren. Mereka hadir dengan membawa ide, kesabaran dan metode partisipatif yang lembut namun mendalam.
Dari sisa makanan di dapur yang selalu bau, kini menjadi maggot yang mereka gunakan untuk pakan lele dan proteinnya dapat menunjang gizi santri. Dari sampah anorganik yang tidak terkelola dan terolah, kini mampu bertransformasi menjadi Bnak Sampah Umat (BSU) dan Tabungan Sampah Santri (TSN).
22 ton sampah setiap bulannya ternyata mampu menjadi omzet senilai 88 juta rupiah perbulan. Bahkan BSU tidak hanya untuk santri tetapi juga warga sekitar dan 9 mitra eksternal seperti pasar tradisional, perumahan warga, dan warung sekitar.
Para santri pun dengan senang menyampaikan bahwa kini mereka jika ingin membeli kitab tidak perlu meminta dari rumah cukup mengambil uang tabungan sampah saja. “Dari Limbah Dapur, Kita Liburan ke Singapura” itulah slogan penuh kebanggaan yang hadir di tengah-tengah eco-lifestyle santri Pondok Pesantren Nur El Falah Banten. Sebuah apresiasi bagi santri paling aktif dalam gerakan kebersihan maupun lingkungan.
Semoga Jihad Ekologis P3M Menuju Indonesia Bebas Sampah 2029 bersama pesantren dan masyarakat dapat kita wujudkan bersama. []





Comments are closed.