Yayasan Auriga Nusantara merilis Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 yang mengungkap lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Lonjakan pesat terjadi di Papua, dugaannya, karena sejumlah proyek, dalam program strategis nasional (PSN) termasuk pengembangan pangan sjalaskala besar (food estate). Data itu berasal dari kombinasi pemodelan spasial citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, hingga verifikasi lapangan. Selain itu, deteksi area mereka kembangkan dari isyarat deforestasi bulanan dari Universitas Maryland, hingga jangkauan lebih luas. Timer Manurung, Ketua Yayasan Auriga Nusantara, menyebut, Kalimantan sebagai pulau dengan deforestasi paling tinggi, mencapai 158.283 hektar, naik 28.387 hektar atau 22% dari tahun sebelumnya. “Pulau ini secara berturut-turut menjadi pemuncak deforestasi sejak 2013,” katanya, dalam peluncuran STADI 2025 di Jakarta, 31 Maret. Sumatera jadi pulau kedua dengan deforestasi terbanyak, mencapai 144.150 hektar. Timer bilang, tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor pada akhir 2025 mengalami lonjakan deforestasi. Aceh, misal, melonjak 426%, dari 8.962 hektar menjadi 38.157 hektar. Kemudian, Sumatera Utara naik 281%, dari 7.303 hektar menjadi 20.512 hektar. Lonjakan tertinggi di Sumatera Barat hingga 1.034%, dari 2.606 hektar menjadi 26.940 hektar. Papua berada di urutan ketiga. Deforestasinya bertambah 348%, dari 17.341 hektar menjadi 77.678 hektar. Sulawesi menyusul dengan luasan deforestasi 39.685 hektar pada 2025, meningkat 129%. Maluku 7.527 hektar, meluas 3.990 hektar dari tahun sebelumnya. Bali & Nusa Tenggara mencapai 4.209 hektar, dan Jawa 2.221 hektar. Timer bilang, berbagai kebijakan teridentifikasi sebagai biang kerok lonjakan ini. Bahkan, sekitar 58% deforestasi pada tahun 2025 legal karena terjadi di dalam…This article was originally published on Mongabay
Riset Auriga Ungkap Lonjakan Deforestasi 2025
Riset Auriga Ungkap Lonjakan Deforestasi 2025





Comments are closed.