Mubadalah – Akses disabilitas sering kali menjadi hal pertama yang dipikirkan oleh seorang penyandang disabilitas sebelum memutuskan untuk datang ke sebuah tempat. Sebagian dari mereka tidak langsung menjawab ketika menerima undangan.
Karena itu, mereka memilih bertanya lebih dulu. “Tempatnya bisa saya aksesibilitas nggak?” Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menentukan segalanya. Sementara itu, kita jarang memikirkan hal seperti itu. Kita datang tanpa banyak pertimbangan, lalu pulang tanpa beban.
Padahal, bagi mereka, hadir selalu membawa kemungkinan gagal. Mereka bisa datang, tetapi tidak bisa masuk, atau bahkan merasa tidak ada yang mengharapkan.
Cerita Teh Hani dan Teh Rani
Saya masih ingat obrolan dengan Teh Hani dan Rani sebagai salah satu peserta di Acara Mubadalah Goes to Community Universitas Garut. Mereka tidak marah, dan mereka juga tidak menuntut banyak. Namun, mereka bisa menerima keadaan yang berada di tempat tersebut.
Selain itu, mereka juga sering menerima undangan, tetapi tidak selalu bisa datang. Bukan karena mereka tidak mau, melainkan karena mereka harus memastikan kondisi tempatnya.
“Biasanya aku tanya dulu,” kata mereka. “Ada tangga nggak? Bisa pakai kursi roda nggak?”
Kalimat itu, semakin menegaskan bahwa mereka tidak pernah benar-benar bebas untuk hadir.
Bagi banyak orang, datang ke acara mudah-mudah saja. Mereka cukup berangkat dan mengikuti kegiatan. Tidak ada yang perlu pikirkan dengan detail.
Namun, bagi penyandang disabilitas, situasinya berbeda. Mereka harus merencanakan setiap langkah sebelum berangkat. Mereka membayangkan tangga, pintu, dan jalur masuk. Selain itu, mereka juga memikirkan kamar mandi dan tempat duduk.
Akibatnya, hal-hal kecil bagi kita berubah menjadi hambatan besar bagi mereka. Karena itu, kelelahan sering muncul bahkan sebelum mereka benar-benar datang.
Ketika Masjid dan Kampus Masih Belum Aksesibilitas
Selain tempat di atas, para penyandang disabilitas pun selalu memikirkan ketika ia ingin ke rumah ibadah. Salah satunya adalah masjid.
Masjid yang seharusnya menjadi tempat paling ramah. Namun kenyataannya selama ini, banyak masjid yang belum ramah disabilitas.
Ada satu cerita yang sulit dilupakan. Seorang difabel tidak diizinkan masuk karena kursi rodanya dianggap najis. Akhirnya, ia sholat di parkiran. Ia tetap beribadah, tetapi tidak berada di dalam. Yang terasa menyakitkan bukan jaraknya. Namun, rasa tidak diterima itu yang tinggal lama.
Di kampus pun begitu, kita sering berbicara tentang keadilan. Kita mempelajari hak asasi manusia. Selain itu, kita juga membahas empati dan kesetaraan. Semua itu terdengar benar dan meyakinkan. Namun, realitas di lapangan belum selalu sama. Mahasiswa disabilitas masih menghadapi banyak hambatan. Mereka harus mencari cara sendiri agar tetap bisa mengikuti setiap kegiatan kampus.
Ada yang harus memutar jauh karena tidak ada akses. Selain itu, ada yang kesulitan mengikuti pembelajaran karena sistem belum mendukung. Padahal, mereka bukan tidak mampu. Lingkungan yang belum siap justru membatasi mereka.
Mengapa Pusat Pembelanjaan Justru Ramah Disabilitas?
Di sisi lain, pusat perbelanjaan seperti Mall Ramayana Garut justru terlihat lebih siap. Mereka menyediakan ramp, lift, dan fasilitas lain dengan baik.Pengunjung bisa masuk tanpa rasa khawatir. Semua terasa sudah available untuk semua orang.
Sementara itu, masjid dan kampus masih tertinggal. Padahal, dua tempat ini membawa nilai yang jauh lebih besar. Kita sering merasa sudah peduli. Selain itu, kita juga merasa sudah memahami pentingnya kesetaraan.
Namun, jika akses disabilitas masih dianggap pelengkap, berarti ada yang belum selesai. Kita belum benar-benar menempatkan semua orang setara. Padahal, setiap manusia memiliki hak keadilan yang sama.
Ada rasa yang mungkin sulit kita bayangkan. Rasa ketika seorang penyandang disabilitas harus bertanya dulu sebelum datang. Rasa ketika ia tidak yakin akan mendapat penerimaan.
Selain itu, ada rasa lelah yang tidak terlihat. Mereka terus menyesuaikan diri dengan ruang yang tidak ramah. Yang paling berat, mereka kadang memilih tidak datang. Mereka bukan tidak ingin hadir, tetapi tidak ingin merasa mempersulit. Perasaan-perasaan ini mereka terus ada dan terus dirasakan.
Dengan begitu, bagi saya, masalah ini bukan berasal dari mereka. Mereka tidak menolak untuk hadir. Sebaliknya, kita yang belum sepenuhnya menyiapkan ruang. Kita belum benar-benar membuka akses yang layak bagi penyandang disabilitas. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah Goes to Community Garut kerjasama Media Mubadalah dengan Universitas Garut





Comments are closed.