Selama ini King Cobra (Ophiophagus hannah) dikenal sebagai penguasa tunggal dalam kategori ular berbisa terbesar di dunia. Reputasinya tidak main-main karena ular ini mampu tumbuh hingga panjang 5.5 meter dengan postur yang sanggup berdiri setinggi manusia dewasa saat merasa terancam. Dari segi bobot, King Cobra modern umumnya memiliki berat sekitar 6 hingga 9 kilogram. Namun spesimen yang sangat besar di penangkaran pernah tercatat mencapai berat hampir 13 kilogram. Ukuran masif ini menjadikannya predator puncak di hutan-hutan Asia yang mampu memangsa ular lain dengan mudah. Ular king kobra (Ophiophagus hannah) | Foto oleh Lip Kee CC BY-SA 2.0 Namun sebuah temuan paleontologi mengungkap bahwa jutaan tahun lalu terdapat spesies beludak atau viper yang jauh lebih masif dari sang raja tersebut. Spesies ini bernama Laophis crotaloides. Ular raksasa ini hidup sekitar 4 juta tahun lalu di wilayah padang rumput yang kini dikenal sebagai Yunani. Meskipun King Cobra menang dari segi panjang tubuh secara ukuran fisik linier, Laophis memiliki bobot yang jauh melampaui predator berbisa mana pun yang pernah melata di planet ini. Berdasarkan analisis fosil, berat badannya mencapai lebih dari dua kali lipat catatan rekor King Cobra paling berat sekalipun. Hal ini menempatkan Laophis sebagai kelas berat sejati dalam sejarah evolusi ular berbisa dunia. Sejarah Penemuan Fosil dan Validasi Ilmiah Eksistensi Laophis Crotaloides Kisah penemuan Laophis sebenarnya dimulai pada tahun 1857 melalui tangan Sir Richard Owen. Beliau merupakan ilmuwan yang menciptakan istilah dinosaurus. Owen mendeskripsikan 13 fosil tulang belakang ular yang ditemukan di dekat Thessaloniki, Yunani. Ia menamakannya Laophis crotaloides dan menyebutnya…This article was originally published on Mongabay
Tiga Kali Lebih Berat dari King Cobra: Mengenal Laophis, Ular Berbisa Terbesar dalam Sejarah Bumi
Tiga Kali Lebih Berat dari King Cobra: Mengenal Laophis, Ular Berbisa Terbesar dalam Sejarah Bumi





Comments are closed.