Arina.id – Umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunnah, khususnya sholat-sholat rawatib seperti qabliyah dan ba’diyah, serta sholat sunnah lainnya seperti dhuha, tahajud, dan witir. Semua amalan ini menjadi sarana penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus melengkapi kekurangan dalam ibadah wajib.
Berangkat dari semangat meningkatkan ibadah tersebut, tidak jarang sebagian umat Islam melaksanakan sholat sunnah, termasuk rawatib, secara berjamaah. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah memang dianjurkan untuk dilakukan berjamaah?
Dalam kajian fikih, para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa sholat sunnah terbagi menjadi dua kategori. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi.
Pertama, sholat sunnah yang memang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, seperti sholat Idul Fitri dan Idul Adha, sholat gerhana (kusuf dan khusuf), sholat istisqa’, serta sholat tarawih menurut pendapat yang paling kuat.
Kedua, sholat sunnah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Kelompok ini mencakup sholat sunnah rawatib (qabliyah dan ba’diyah), sholat dhuha, tahajud, dan witir di luar bulan Ramadhan. Meskipun demikian, apabila sholat-sholat tersebut dilakukan secara berjamaah, hukumnya tetap sah.
قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح علي الاصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح وهو ما سوى ذلك
Artinya: “Para pengikut mazhab Syafi’i berkata, sholat sunah terbagi atas dua. Disunahkan pelaksanaannya secara berjamaah seperti sholat Idul Fitri-Idul Adha, sholat gerhana matahari atau bulan, sholat istisqa’ dan juga sholat tarawih, menurut pendapat paling sahih. Tidak disunahkan pelaksanaannya secara berjamaah, namun bila dilaksanakan secara berjamaah hukumnya tetap sah yaitu beberapa sholat sunah selain yang disebutkan di atas. [ Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhaddzab IV/4].
Penegasan serupa juga dijelaskan dalam kitab Asnal Matalib, bahwa sholat sunnah yang mengikuti sholat fardhu, yakni rawatib, tidak disunnahkan untuk dilakukan secara berjamaah, begitu pula sholat sunnah lainnya seperti dhuha. Bahkan, sholat witir pun termasuk yang lebih utama dilakukan secara individu, kecuali dalam konteks tertentu seperti bulan Ramadhan.
وَقِسْمٌ لَا تُسَنُّ له الْجَمَاعَةُ وهو الرَّوَاتِبُ التَّابِعَةِ لِلْفَرَائِضِ وَغَيْرِهَا كَالضُّحَى وَأَفْضَلُهَا الْوِتْرُ
Artinya: “Dan sholat sunnah yang tidak disunnahkan pelaksanaannya secara jamaah yaitu sunnah rawatib yang mengikuti sholat fardu (qabliyah ba’diyah) dan juga yang lainnya seperti sholat sunnah dhuha, dan terlebih lagi sholat witir.” (Asnal Matalib I/200-201)
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa secara hukum asal, sholat sunnah seperti qabliyah dan ba’diyah memang lebih utama dilakukan secara sendiri (munfarid), bukan berjamaah. Namun, pelaksanaannya secara berjamaah tetap diperbolehkan dan tidak membatalkan sholat.
Dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin juga dijelaskan bahwa berjamaah dalam sholat sunnah seperti witir atau tasbih hukumnya boleh dan tidak makruh. Hanya saja, pelaksanaannya tidak secara otomatis mendapatkan keutamaan berjamaah sebagaimana sholat fardhu.
Namun ada pengecualian penting. Apabila sholat sunnah dilakukan berjamaah dengan tujuan edukatif, seperti mengajarkan tata cara sholat kepada anak-anak, santri, atau untuk menumbuhkan semangat beribadah, maka pelakunya tetap mendapatkan pahala. Artinya, nilai ibadahnya tidak hanya terletak pada pelaksanaan sholat, tetapi juga pada niat dan tujuan di baliknya.
تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب ، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب
Artinya: “Hukumnya boleh, tidak makruh dan tidak mendapatkan pahala jika melaksanakan sholat sunnah witir dan sholat sunnah tasbih secara berjamaah. Namun jika bertujuan memberikan edukasi kepada jamaah sholat dan mendorong agar semangat beribadah sholat sunnah, maka mendapatkan pahala.”
Kesimpulannya, sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah pada dasarnya tidak disunnahkan untuk dilakukan secara berjamaah. Akan tetapi, jika tetap dilaksanakan berjamaah, hukumnya sah dan diperbolehkan. Bahkan, dalam konteks pembelajaran dan pembinaan ibadah, hal tersebut bisa bernilai pahala. Wallahu a’lam bish shawab.





Comments are closed.