Kasus gangguan pemusatan perhatian dan perilaku yang umum atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang terjadi pada anak-anak terus meningkat. Meski kondisi gangguan ini terjadi pada anak-anak, namun dapat berlanjut hingga usia dewasa. Hal ini kerap kali tidak disadari oleh orang awam dan bisa mengganggu produktivitas sehari-hari.
Pada orang dewasa, gejala ini biasanya muncul dalam bentuk yang samar. Tapi tetap saja mereka yang mengalami gejala ini akan mengalami kesulitan untuk fokus, kesulitan mengelola waktu, dan sulit mengendalikan emosi sehingga dapat mengganggu produktivitas sehari-hari.
Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, mengatakan ADHD pada orang dewasa terjadi akibat terlambat didiagnosis. Sebab, mereka sering menganggap gejala bagi penderita ADHD ini tidak terlalu mengganggu.
Apalagi masih ada stigma yang mengatakan bahwa orang dengan ADHD terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya mungkin mereka sedang melawan kondisi yang dialaminya.
“Memang ADHD nggak terlalu mengganggu dan sering dianggap baik-baik saja, tapi sebenarnya mungkin dia tengah struggle (berjuang) atau mengalami kondisi tidak produktif dalam hidup,” katanya Jumat, 17 April 2026.
Diana menerangkan jika hal ini tidak segera teratasi akan menimbulkan dampak bagi penderitanya. Mereka akan mengalami kondisi tidak produktif. Sehingga banyak hal yang tidak dapat dilakukan.
Para penderita dari gejala ADHD akan kerap menjadi pelupa dan sulit untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Bahkan dampak dari gejala ADHD dapat menyebabkan mengalami underachiever.
Ia menegaskan kondisi tersebut sudah pasti dialami oleh orang dengan gangguan mental. “Salah satu ciri mental illness adalah tidak produktif karena sering pelupa dan susah fokus,” jelasnya.
Meski begitu, Diana mengungkapkan penderita ADHD pada orang dewasa tentu masih bisa disembuhkan. Bagi Diana, melalui pendekatan terapi atau psikiater dengan saran konsumsi obat untuk menjaga fokus, gejala ini perlahan dapat disembuhkan.
Namun, ia menegaskan untuk mengatasi hal tersebut utamanya datang dari manajemen diri yang didampingi psikolog atau psikiater. Sebenarnya, cara yang paling efektif adalah kesadaran untuk bisa me-manage diri me-manage distraksi.
“Ini perlu terapi dan perlu multidisiplin antara psikiater dan psikolog,” katanya.






Comments are closed.