Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Sebut Ada Kebangkitan Spiritualitas dan Agama

Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Sebut Ada Kebangkitan Spiritualitas dan Agama

dekan-fakultas-islam-nusantara-unusia-sebut-ada-kebangkitan-spiritualitas-dan-agama
Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Sebut Ada Kebangkitan Spiritualitas dan Agama
service

Jakarta, NU Online

Globalisasi tidak hanya berdampak pada ketegangan dan perang, tetapi juga menguatnya neoliberalisme. Muncul pula apa yang disebut global north dan global south yang menandakan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang yang kian dalam. 

Fenomena lain yang muncul adalah tumbuhnya spiritualitas dan agama yang terlibat dalam pengambilan keputusan secara langsung di berbagai jenjang dan tingkatan politik dalam upaya mengatasi ketegangan, perang dan kesenjangan global tersebut.

Hal itu disampaikan Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama (Unusia), kepada NU Online pada Senin (20/4/2026).

Suaedy mengamati pergeseran peran spiritual dan agama global saat melakukan riset tentang Konfusianisme di negara China dan perbandingannya dengan Aswaja Nusantara di Indonesia selama sebulan, 1 – 31 Maret 2026. Riset itu dilakukan di China Confucius Foundation dan Nishan World Center for Confucius Studies di Kota Jinan, Provinsi Shandong, China bagian timur laut.

Sebelumnya, Suaedy telah menulis tentang “Aswaja Turn” dalam fenomena Indonesia, yaitu kembalinya Aswaja Nusantara –sebelumnya disebut sebagai Islam tradisionalis– yang didiskriminasi oleh kolonialisme dan modernisme, ke ruang publik sebagai mainstream dalam berbagai keputusan politik.

Suaedy menjelaskan bahwa pada era sebelum kolonial, Konfusianisme dan Aswaja Nusantara menjadi mainstream dan sirkel elite dalam kepemerintahan kerajaan atau dinasti di kedua negara tersebut. 

“Namun dengan sekularisasi yang dibawa oleh kolonial Barat, keduanya disingkirkan dari ruang publik. Meskipun tidak keseluruhan wilayah negara, Portugis, Italia, dan Jepang pernah menjajah negara itu,” katanya.

Pada saat penjajahan tersebut, Konfusianisme disingkirkan dari ruang publik dan disusul modernisasi intern. Penyingkiran terhadap Konfusianisme berlanjut, terutama pada era di bawah kekuasaan Mao Zedong (1 Oktober 1949 – 9 September 1976) yang memimpin Komunisme antiagama dan spiritualitas secara ketat.

“Praktis pada masa itu, Konfusianisme juga agama yang lain ditindas dan bahkan dihilangkan. Sebegitu traumanya masyarakat China sehingga menyebut era itu sebagai Abad Penghinaan,” ujarnya.

Namun Konfusius pelan-pelan kembali menjadi dasar bagi kebijakan politik di China sejak Deng Xiaoping memimpin Negeri Tirai Bambu itu.

Presiden Xi Jinping kembali mendesakkan lebih deras nilai-nilai dan etika dalam konteks Marxisme menjadikan Konfusianisme dalam sistem politik seperti pemberantasan korupsi, kesetaraan, pemerataan dan keadilan ekonomi, meritokrasi yang ketat, juga inovasi teknologi yang berbeda prinsip dengan kapitalisme, dan sebagainya.

Sementara itu, hal serupa juga terjadi dalam konteks Aswaja Nusantara di Indonesia. Sejak kolonialisme, para kiai dan ulama pemimpin Aswaja Nusantara disingkirkan dari sirkel elit kekuasaan dan didorong ke pinggiran. 

“Sistem pendidikan pesantren selama lebih dari dua abad disingkirkan ke pinggiran dalam sistem pendidikan Indonesia hingga lahirnya UU Pesantren tahun 2019,” kata Ketua PBNU itu.

Ia menyampaikan bahwa Orde Baru selama 32 tahun praktis menyingkirkan Nahdlatul Ulama dan pesantren sebagai basis Aswaja Nusantara dan tidak diberi kesempatan untuk berkembang dan mengembangkan pengaruh dan kepemimpinan. Namun pasca Reformasi, dengan berbagai saluran, pemeluk Aswaja Nusantara nyaris mendominasi perpolitikan Indonesia meskipun tidak memegang kekuasaan politik puncak.

Suaedy melanjutkan bahwa Konfusianisme oleh masyarakat China tidak dianggap agama melainkan spiritualitas dan Konfusius pendirinya dianggap sebagai Guru bukan Nabi. Karena itu, di China, tidak ada tempat ibadah Konfusius atau Konfusianisme melainkan tempat berkumpul atau meditasi berefleksi bersama.

Meskipun demikian, ia menyampaikan bahwa China mengakui lima agama minoritas lainnya yang dijamin keberadaannya, yaitu Islam, Budha, Protestan, Katolik, dan Taoisme. 

Suaedy sendiri mengaku sempat shalat Idul Fitri di masjid yang usianya 500 tahun di kota Jinan. Secara arsitektur, masjid itu masih utuh meskipun sudah direnovasi beberapa kali karena usia. Hadir 1000-an umat Muslim dalam shalat Idul Fitri tersebut.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.