Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem

Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem

ikan-sapu-sapu,-si-pembersih-kaca-kini-dapat-label-rusak-ekosistem
Ikan Sapu-sapu, Si Pembersih Kaca Kini Dapat Label Rusak Ekosistem
service

Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di  perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk. Kilas balik ke belakang, periode 1970-an menjadi momen awal masuknya ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) ke Indonesia. Ikan asli sungai Amazon di Amerika Selatan itu, masuk melalui jalur perdagangan ikan hias untuk kebutuhan akuarium yang saat itu sedang populer. Di dalam akuarium, sapu-sapu menjadi primadona karena kemampuan yang unik dengan membersihkan kaca. Tak pelak, para pecinta ikan hias langsung memburunya dan menjadikan ikan ini sebagai komoditas ikan hias paling dicari. Walau belum terungkap di pulau mana sapu-sapu pertama kali masuk, kini Sulawesi tercatat menjadi pemilik populasi terbesar di Indonesia. “Sayangnya, perkembangan yang pesat itu tidak dibarengi dengan edukasi yang baik tentang sapu-sapu,” kata Gema Wahyudewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum lama ini. Saat ikan itu tumbuh besar dalam bak akuarium, pemiliknya segera mengeluarkan, karena mereka nilai sudah tidak cocok menghiasi bak lagi. “Mungkin, karena kurangnya pengetahuan, saat itu ikan kemudian dilepaskan di sungai. Padahal, itu ikan asing yang belum tahu seperti apa dampaknya jika ada di perairan kita,” katanya. Dia menduga, selain perdagangan ikan hias, sapu-sapu masuk ke perairan darat Indonesia karena ada program pengisian kembali (restocking) ikan pada ekosistem sungai atau danau (situ). Mengingat kemampuan kemampuan adaptasi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.