Mubadalah.id — Anak yang terlalu ditekan dalam proses pengasuhan dapat berdampak pada kondisi psikologisnya. Dalam pendekatan pengasuhan anak di Denmark, orang tua justru mereka imbau untuk menghindari dorongan yang terlalu kuat terhadap anak.
Anak yang terlalu ditekan untuk mencapai target tertentu berpotensi kehilangan rasa senang dalam belajar. Ketika proses belajar tidak lagi menyenangkan, anak dapat mengalami ketakutan hingga kecemasan.
Sebaliknya, ketika anak, orang tua berikan ruang untuk berkembang sesuai tahapannya, mereka cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat. Anak juga akan mengembangkan pusat kendali internal, yakni kemampuan untuk merasa bertanggung jawab atas proses dan hasil yang mereka capai.
Sebaliknya, anak yang terlalu banyak orang tua arahkan atau kontrol akan berisiko memiliki pusat kendali eksternal. Mereka cenderung merasa bahwa keberhasilan maupun kegagalan akibat faktor luar, bukan oleh usaha mereka sendiri. Kondisi ini dapat melemahkan fondasi harga diri anak dalam jangka panjang.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran David Elkind yang menyoroti dampak percepatan belajar pada anak. Menurutnya, anak yang mendapat paksaan untuk belajar lebih cepat, seperti membaca di usia dini, memang dapat menunjukkan kemampuan lebih awal daripada teman sebayanya.
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Dalam beberapa tahun, kemampuan mereka akan cenderung setara dengan anak lain. Yang menjadi perhatian adalah dampak psikologisnya.
Anak-anak yang mengalami tekanan tersebut justru menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi serta memiliki harga diri yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa percepatan perkembangan yang tidak sesuai tahapan dapat membawa konsekuensi jangka panjang.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda dan tidak perlu orang tua paksakan. []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 15-18





Comments are closed.