Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. As Long as the Lemon Trees Grow: Suara Kecil dari Suriah kepada Dunia

As Long as the Lemon Trees Grow: Suara Kecil dari Suriah kepada Dunia

as-long-as-the-lemon-trees-grow:-suara-kecil-dari-suriah-kepada-dunia
As Long as the Lemon Trees Grow: Suara Kecil dari Suriah kepada Dunia
service

Mubadalah.id – Hidup aman dalam kondisi perang merupakan sesuatu yang mustahil untuk didapatkan. Hak untuk hidup secara layak tersebut adalah hal yang hilang dari kehidupan rakyat Suriah selama ‘perang saudara’ yang berlangsung bertahun-tahun.

Teror di mana-mana. Bom, agresi tentara dan rezim secara keseluruhan mengancam nyawa rakyat Suriah setiap detik.

Masyarakat sipil merupakan korban dalam keganasan perang tersebut. Banyak kepentingan ikut mengintervensi, tetapi siapa  peduli pada nyawa masyarakat sipil?

As Long as the Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh menceritakan tentang kengerian perang Suriah dan mencoba memotret penderitaan masyarakat akibat perang dari dekat. Zoulfa  Katouh merupakan penulis berdarah Suriah yang menulis buku ini untuk menunjukkan apa yang terjadi di Suriah kepada dunia, kejadian-kejadian yang tidak mungkin ada dalam pemberitaan media.

Perempuan dan Anak-anak: Korban Paling Terdampak

Salama, anak farmasi yang mendapat tuntutan menjadi perawat di tengah krisis perang, melihat korban perang berjatuhan tiada henti. Ia melihat bagaimana perempuan dan anak-anak silih berganti menjadi pasiennya. Setiap kali ada yang gugur, hal itu menyisakan kesedihan berkepanjangan dalam dirinya.

Kurangnya tenaga medis dan banyaknya korban menjadikan Salama beserta dokter lain tidak dapat menyelamatkan semua orang. Dalam suatu kejadian ketika Salama menangani Ahmad, anak kecil yang terluka karena bom di sebuah sekolah dasar, ia begitu sentimental karena Ahmad meregang nyawa di bawah penanganannya langsung.

Sebelum meninggal, Ahmad mengatakan, “Bibi – jangan menangis – kalau aku masuk surga – aku akan menceritakan – semuanya – kepada Tuhan.”

Kematian di seluruh kota menyisakan ketakutan. Semua  orang, terutama perempuan dan anak-anak, bersembunyi di dalam rumah-rumah yang tidak lagi utuh, bila tidak mau menyebutnya dengan sisa puing-puing bangunan karena bom.

Dalam  kesempatan lain, Salama nyaris menjadi korban kekerasan seksual oleh tentara yang menggeledah rumah sakit. Dari cerita-cerita yang Salama alami, kita dapat melihat bagaimana perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah sekalipun menjadi sasaran kekerasan, bahkan tanpa alasan.

Salama sering kali mengingat masa-masa indah hidupnya sebelum perang. Keluarganya yang utuh, mimpi-mimpi yang ia kejar dan tentu saja  perasaan bahagia. Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia hadapi saat ini. Perang merampas paksa segalanya dari rakyat Suriah: keluarga, rumah, pekerjaan, segala hal yang mereka miliki sebelumnya. Bahkan mereka kesulitan untuk makan dan minum.

Krisis ini menuntut mereka untuk kuat dan pasrah secara bersamaan.

Trauma, Iman dan Harapan

Peristiwa-peristiwa yang menimpa Salama menyisakan trauma dalam dirinya. Pada satu titik, ia juga mengalami  halusinasi dan bercakap-cakap dengan Khawf – yang memiliki makna ketakutan.

“Khawf adalah halusinasi yang menetap. Dan setiap malam, selama tujuh bulan terakhir, dia telah memupuk ketakutanku, meniupkan nyawa ke dalamnya.” (h.  24).

Melalui sudut pandang ‘aku’ dari tokoh Salama, kita seolah-olah dapat melihat kejadian demi  kejadian, ketakutan demi ketakutan, pembunuhan demi pembunuhan seolah-olah di depan mata. Serta turut merasakan emosi dan kebimbangan Salama.

Salama dihadapkan pada situasi dilematis karena ia merasa bersalah jika harus meninggalkan Suriah, sementara kondisi psikologisnya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja di rumah sakit. Pilihan yang tersisa adalah pergi meninggalkan tanah kelahirannya, untuk menemukan kedamaian dan keamanan.

Dari sudut pandang pertama ini, kita dapat melihat bagaimana perang meninggalkan pengalaman traumatis yang menyerang individu dan tidak melulu soal kisah heroik dari medan perang. Bagaimana Salama, perempuan yang mulanya penuh mimpi, memasrahkan nasibnya di atas perahu yang terombang-ambing, membawanya jauh dari Suriah, dari tanah  dan bangsanya.

Benteng terakhir yang ia miliki adalah iman dan harapan Suriah yang lebih baik di masa depan. Novel ini secara keseluruhan mengungkapkan kenyataan pahit bahwa rakyat lah yang paling dirugikan dari  konflik politik dan kepentingan  elit. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.