Mubadalah.id — Pola asuh di Denmark dikenal menekankan keseimbangan antara dukungan dan kemandirian anak. Salah satu konsep utama yang menjadi pijakan adalah proximal development (zona perkembangan optimal) yang diperkenalkan oleh Lev Vygotsky.
Konsep proximal development ini menekankan bahwa anak membutuhkan bantuan dalam kadar yang tepat agar dapat berkembang secara maksimal. Bantuan tersebut tidak orang tua berikan secara berlebihan, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan anak pada setiap tahap perkembangan.
Pendekatan ini dapat kita analogikan seperti membantu anak memanjat batang kayu. Pada tahap awal, anak mungkin membutuhkan bantuan penuh dari orang tua. Namun, seiring meningkatnya kemampuan, bantuan tersebut bisa orang tua kurangi secara bertahap hingga anak mampu melakukannya sendiri.
Di Denmark, orang tua cenderung tidak terlalu mencampuri aktivitas anak kecuali benar-benar ia perlukan. Mereka percaya bahwa anak memiliki kemampuan alami untuk mencoba hal-hal baru dan belajar dari pengalaman mereka sendiri.
Peran orang tua lebih fokus pada menyediakan dukungan yang cukup, atau yang kita kenal dengan istilah scaffolding, untuk membantu anak berkembang secara bertahap.
Pendekatan ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri anak sejak dini. Dengan memberi ruang untuk mencoba dan gagal, anak dapat memahami batas kemampuannya sekaligus mengembangkan keberanian untuk menghadapi tantangan baru.
Selain itu, metode ini juga membantu anak merasa memiliki kendali atas proses belajar mereka. Bahkan, ketika anak, orang tua beri kesempatan untuk berkembang sesuai ritme masing-masing, mereka cenderung lebih menikmati proses belajar tersebut.
Oleh karena itu, pola asuh berbasis zona perkembangan optimal tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh. []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 15-18





Comments are closed.