KABARBURSA.COM – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN (PGAS) terus memperkuat komitmen keberlanjutan melalui pengelolaan lingkungan yang terintegrasi, mencakup perlindungan penggunaan material ramah lingkungan, efisiensi pengelolaan air, hingga pengelolaan limbah.
Merujuk laporan keberlanjutan 2025 di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PGN mengungkapkan berbagai indikator kinerja lingkungan yang menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara operasional bisnis dan pelestarian ekosistem.
Di sisi penggunaan material, gas bumi tetap menjadi material utama yang digunakan PGN dan dikategorikan sebagai energi ramah lingkungan. Sepanjang 2025, volume penjualan gas bumi PGN tercatat sebesar 836,02 BBTUD, dibandingkan 852,22 BBTUD pada 2024 dan 923,44 BBTUD pada 2023.
Selain itu, PGN juga memanfaatkan energi terbarukan melalui panel surya dengan penggunaan listrik sebesar 75,55 MWh pada 2025, dibandingkan 84,72 MWh pada 2024.
“Kegiatan utama PGN adalah mendistribusikan dan mentransmisikan gas bumi ke pelanggan. Dengan demikian material utama yang digunakan adalah gas bumi yang termasuk material ramah lingkungan,” tulis manajemen dikutip, Minggu, 26 April 2026.
Sementara itu, dalam pengelolaan air, PGN mencatat total pengambilan air mencapai 199.490,23 megaliter pada 2025, meningkat dari 147.038,61 megaliter pada 2024 dan 129.136,62 megaliter pada 2023.
Manajemen PGN menyampaikan meningkatnya jumlah volume air yang diambil oleh perusahaan disebabkan oleh penambahan fasilitas dan pola operasi pada 2025.
“Seluruh atau 100 persen air yang diambil dari sumber air tanah maupun yang dibeli merupakan air tawar,” tulis manajemen.
Adapun operasional PGN meliputi seluruh wilayah Indonesia. Beberapa di antaranya berada di pulau-pulau besar yang memiliki risiko terhadap air.
“Kami melakukan beberapa upaya untuk memastikan kegiatan pengambilan dan pemanfaatan air, tidak merugikan masyarakat maupun pemangku kepentingan lain, serta tetap mampu menjaga ketersediaan air maupun sumber daya air,” tulis manajemen.
Beralih ke pengelolaan limbah, manajemen menyampaikan timbulan limbah dari kegiatan operasional PGN terdiri atas limbah mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3) maupun limbah non-B3.
Manajemen menyebut langkah pengelolaan limbah B3 meliputi pengemasan dan pewadahan, pelabelan, penyimpanan, dan pengangkutan oleh pihak ketiga berizin
“Pengelolaan dampak signifikan dari timbulan limbah menjadi bagian dari tanggung jawab Fungsi HSSE. Pengelolaan dilaksanakan melalui pengelolaan sumber timbulan limbah dengan pendekatan prinsip 4R yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (daur ulang), dan Replace (penggantian),” sebut manajemen.
Berdasarkan data yang dipublikasikan, volume timbulan limbah B3 PGN sepanjang 2025 mencapai 959,19 ton, meningkat 403,82 ton atau 72,71 persen dari 2024 yang sebesar 555,37 ton. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan operasi.
Adapun volume timbulan limbah non-B3 2025 mencapai 338,35 ton, berkurang 189,23 ton atau 35,87 persen dari 2024 sebesar 527,58 ton.
“Sebab PGN menjalankan program 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recover) terhadap timbulan limbah non-B3,” kata manajemen.
Manajemen menegaskan, secara bertahap PGN menerapkan ekonomi sirkuler guna mengoptimalkan pengolahan limbah. Saat ini terdapat penerapan ekonomi sirkuler baru untuk limbah non-B3, sebagai bentuk dukungan pada target pengurangan limbah non-B3 sebesar 5 persen dari total timbulan limbah non-B3 pada 2034 di seluruh wilayah operasional Perseroan, sesuai dengan ESG Roadmap Subholding Gas 2025-2034.
“Kami juga mendorong penerapan ekonomi sirkuler untuk limbah non-B3 yang ada di lingkungan masyarakat di sekitar wilayah operasional, melalui program pemenuhan tanggung jawab sosial,” pungkas manajemen. (*)





Comments are closed.