Mubadalah.id — Menurut hasil studi, bermain dalam membantu kemampuan adaptasi tidak hanya terjadi pada anak usia dini, tetapi juga berlanjut hingga masa remaja. Penelitian yang dilakukan oleh profesor terapi profesional, Louise Hess bersama timnya di Palo Alto, California, menunjukkan hasil serupa.
Penelitian ini melibatkan dua kelompok remaja laki-laki, yakni kelompok yang berkembang secara normal dan kelompok yang memiliki masalah emosional. Kedua kelompok tersebut dianalisis untuk melihat hubungan antara tingkat kesenangan bermain dengan kemampuan mereka dalam mengatasi masalah.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kesenangan bermain dan keterampilan coping pada kedua kelompok tersebut. Remaja yang menikmati aktivitas bermain cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan serta menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.
Para peneliti menyimpulkan bahwa bermain dapat menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kemampuan adaptasi. Melalui bermain, remaja belajar menghadapi masalah dengan cara yang lebih fleksibel, kreatif, dan tidak kaku.
Dalam praktiknya, aktivitas bermain memungkinkan seseorang untuk mencoba berbagai peran dan situasi tanpa tekanan besar. Hal ini membantu mereka memahami berbagai kemungkinan solusi ketika menghadapi persoalan nyata.
Selain itu, bermain juga memberikan ruang bagi remaja untuk mengeksplorasi emosi mereka. Mereka belajar mengelola rasa takut, marah, maupun frustrasi dalam situasi yang relatif aman.
Temuan ini menunjukkan bahwa bermain bukan hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga tetap relevan dalam perkembangan remaja. Aktivitas ini dapat menjadi sarana pembelajaran emosional yang efektif sekaligus membantu membangun ketahanan mental dalam jangka panjang. []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 15-18





Comments are closed.