Ada pepatah mengatakan bahwa buku bacaan seseorang menunjukkan sifat orang tersebut. Di Indonesia, juga ada pepatah yang kian relevan: “Perhatikanlah nama-nama anak yang lahir, dan kau akan tahu situasi tanah air.”
Nama punya sejarah. Nama tak hadir di ruang hampa. Kondisi budaya, sosial, dan kultural biasanya ikut mempengaruhi proses pembuatan nama, meninggalkan sejarah di balik nama.
Pada tahun 1924-an, tercatat ada nama anak Putro Merdiko. Setelah merdeka, orang-orang juga memberi nama terkait dengan situasi saat itu, misalnya: Bambang Proklamasi, Endang Agresi, Siti Marxisti, Djoko Kanonta (ini diambil dari kanon-meriam), Endang Suggesti, dan Bambang Axioma.
Informasi itu ditemukan di majalah Api Kartini (1959) dalam sebuah kolom bertajuk Nama dan Sedjarah. Penulisnya, SS, menambahkan kalimat penutup yang menekankan bahwa nama tidak hanya sebagai simbol harapan dan doa, tetapi juga sebagai pencatatan peristiwa penting: “karena sekarang situasi berubah lagi, harapan muntjulnja nama2 baru tentu besar. Nama2 itu semua mengandung harapan terbaik dari ibu bapanja, atau pentjatatan peristiwa penting. Siapa tahu, akan ada nama………Sandangpanganingsih.”
Tulisan SS memberi pengertian sebuah nama. Enam puluh tujuh tahun setelah tulisan itu diterbitkan, gagasan tentang nama di Tanah Air semakin kompleks. Kini, kita mudah menemukan nama-nama anak yang sulit sekali untuk dilafalkan. Zylvechia Ecclesie, Eiichiro, Aiwinur, Queenesia Angelic, Saoirse, Mireille, Schuyler, Syauqella, dan beberapa nama lainnya muncul sangat subur bak jamur di musim hujan. Para guru, utamanya, mesti sabar menghafal sekaligus menyebut nama-nama itu berulang. Apa yang terjadi di balik nama yang kian sulit dan asing bagi lidah orang Indonesia?
Riset yang dilakukan Teguh Setiawan, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terhadap nama anak-anak yang lahir dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2020 di Jawa Tengah menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, semakin banyak masyarakat Jawa yang lebih menggunakan pemilihan nama dari kosakata bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Nama anak di Indonesia semakin sulit diucapkan atau diingat karena orang tua generasi milenial dan utamanya Gen-Z cenderung memilih nama tersebut agar terlihat modern dan berbeda.
Faktor-faktor penyebab tren nama yang sulit diucapkan umumnya terjadi karena globalisasi dan wawasan internasional. Orang tua terpapar budaya global melalui media, hiburan, dan pendidikan. Nama seperti Saoirse (Irlandia), Mireille (Prancis), atau Schuyler (Belanda) dipilih karena dianggap modern dan berkelas.
Selain itu juga ada keinginan untuk menjadi unik dan diferensiasi sosial. Nama tradisional seperti Budi atau Siti dianggap terlalu umum. Orang tua ingin anaknya menonjol dengan nama yang jarang dipakai, misalnya Zylvechia Ecclesie atau Sayauqella. Hal lain yang juga turut mempengaruhi adalah pengaruh kelas menengah baru. Menurut teori Pierre Bourdieu tentang cultural capital, nama menjadi simbol status. Orang tua kelas menengah menggunakan nama asing sebagai penanda mobilitas sosial dan akses pada budaya global.
Dalam esai panjang yang diunggah Vice (4/8/2022), ditulis Nurul Fitri Ramadhani mengungkapkan bahwa ternyata fenomena perubahan pola pemberian nama tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Jane Pilcher, Associate Professor Sosiologi di Nottingham Trent University, menekankan bahwa masyarakat modern hidup dalam lingkungan yang semakin beragam. Kondisi ini mendorong banyak orang tua untuk memilih nama yang bersifat lintas budaya.
Menurutnya, penamaan anak lebih banyak dipengaruhi oleh preferensi pribadi orang tua, sama halnya dengan selera musik atau gaya rambut. Di Eropa, budaya populer sering menjadi inspirasi. Misalnya, di Denmark nama Liam mulai populer sejak awal 2000-an karena ketenaran Liam O’Connor, seorang rapper sekaligus pembawa acara TV. Contoh lain, di Prancis pada tahun 1991 tercatat lebih dari 14 ribu bayi diberi nama Kevin setelah film Home Alone meledak, dengan tokoh utama Kevin McCallister.
Pilcher menegaskan bahwa pemberian nama pada akhirnya adalah soal selera dan tujuan masing-masing orang tua—entah karena makna filosofis, religius, atau sekadar tren. Namun, secara tidak sadar, melalui nama, orang tua sedang mewariskan budaya dan identitas sosial kepada anak-anak mereka.
Pemberian nama anak dengan bahasa yang sulit tentu diniatkan baik oleh orang tua, tapi dibalik fenomena tersebut ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan sebelum memberi anak nama demikian.
Nama panjang atau rumit sering menimbulkan masalah di dokumen resmi (KTP, ijazah, paspor). Sistem administrasi di Indonesia masih terbatas dalam menampung nama dengan banyak kata atau karakter asing. Akibatnya, anak bisa mengalami kesulitan birokrasi.
Anak dengan nama sulit diucapkan ada potensi menjadi bahan candaan atau salah sebut oleh guru dan teman. Ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan mempengaruhi kepercayaan diri anak. Teori Labeling (Howard Becker) menjelaskan bahwa label sosial yang melekat pada individu dapat mempengaruhi cara mereka diperlakukan dan bagaimana mereka melihat diri sendiri
Riset Teguh Setiawan (UNY) juga menunjukkan bahwa kosakata Jawa dalam nama anak hampir hilang, digantikan oleh bahasa Inggris dan Arab. Realitas ini menandakan adanya pergeseran budaya: nama tradisional dianggap tidak prestisius. Dampaknya anak bisa kehilangan keterhubungan dengan akar budaya lokal, padahal nama adalah salah satu bentuk warisan budaya.
Pada akhirnya, tren nama anak yang sulit diucapkan di Indonesia lahir dari kombinasi globalisasi, keinginan tampil unik, simbol status sosial, dan pengaruh budaya populer.
Namun, dampak sosialnya tidak selalu positif, ada risiko eksklusivitas, kesulitan administratif, stigma di sekolah, dan keterputusan dari akar budaya lokal.




Comments are closed.