Jakarta, Arina.id — Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrudin Faiz mengungkapkan bahwa keberuntungan dalam hidup bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan. Ia menekankan, keberuntungan merupakan hasil dari pertemuan antara kesiapan diri dan peluang yang hadir.
Dalam kajiannya, Faiz mengutip pemikiran filsuf Romawi Seneca yang menyebutkan bahwa “keberuntungan adalah apa yang terjadi ketika persiapan bertemu kesempatan.”
Menurutnya, rumus ini menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana seseorang dapat meraih kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.
“Sering kali kita mendengar bahwa sesuatu terjadi karena ada niat dan kesempatan. Tapi dalam konteks keberuntungan, bukan soal niat semata, melainkan kesiapan diri ketika kesempatan itu datang,” ujar Faiz Faiz dalam tayangan video YouTube Mengaji Hening diakses Selasa (22/4/2026)..
Ia menjelaskan, banyak orang menginginkan keberhasilan, namun tidak semua mempersiapkan diri dengan baik. Padahal, kata dia, kesempatan sering kali datang dari luar kendali manusia, sementara persiapan sepenuhnya berada dalam kendali individu.
“Kesempatan itu tidak selalu bisa kita atur. Tapi persiapan, itu sepenuhnya ada di tangan kita. Maka kalau ingin beruntung, fokuslah pada bagaimana kita mempersiapkan diri,” jelasnya.
Faiz kemudian memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memiliki keinginan untuk tampil di depan publik, misalnya menjadi penceramah atau pembicara, perlu melatih kemampuan berbicara sejak dini. Dengan demikian, ketika suatu saat diminta untuk menyampaikan sambutan atau tausiah, ia sudah siap.
“Bayangkan ketika tiba-tiba diminta berbicara di depan umum, sementara kita sudah terbiasa latihan. Itu yang disebut keberuntungan. Tapi kalau tidak pernah menyiapkan diri, kesempatan itu akan lewat begitu saja,” katanya.
Menurut Faiz, kegagalan memanfaatkan peluang sering kali bukan karena tidak adanya kesempatan, melainkan karena kurangnya kesiapan. Akibatnya, peluang yang seharusnya bisa menjadi titik balik justru terlewat tanpa makna.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa prinsip ini berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam karier, pendidikan, maupun pengembangan diri. Setiap target yang ingin dicapai harus diiringi dengan persiapan yang matang agar ketika peluang muncul, seseorang mampu mengelolanya dengan baik.
“Kalau kita sudah siap, maka setiap kesempatan yang datang bisa menjadi pintu keberhasilan. Tapi kalau tidak siap, peluang sebesar apa pun akan sia-sia,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Faiz juga merangkum empat prinsip kebahagiaan berdasarkan pemikiran Seneca.
Pertama, cara berpikir seseorang tentang dirinya sendiri sangat menentukan tingkat kebahagiaannya.
Kedua, menjalani hidup secara seimbang dan tidak berlebihan akan membawa ketenangan.
Ketiga, kemampuan menerima berbagai situasi, baik yang menyenangkan maupun tidak, menjadi sumber kekuatan batin.
Keempat, kesiapan dalam menghadapi peluang yang datang merupakan faktor penting dalam meraih keberuntungan.
Ia menambahkan, kebahagiaan bukan semata-mata hasil dari apa yang terjadi di luar diri, tetapi juga dari bagaimana seseorang mempersiapkan dan mengelola dirinya.
“Beruntunglah orang yang ketika kesempatan datang, ia sudah siap. Di situlah letak kebahagiaan sekaligus keberhasilan,” pungkasnya.




Comments are closed.