Apakah kita benar-benar memahami kehidupan macaca, atau hanya melihatnya sekilas tanpa menyadari ancaman yang mereka hadapi setiap hari? Kampanye global Pekan Macaca Sedunia 2026 resmi diluncurkan pada 1-7 Mei oleh AfA Macaque Coalition, jaringan kolaboratif di bawah Asia for Animals. Mengusung tema “Respect Their Nature” atau Hormati Sifat Alami Mereka, kampanye ini mengajak masyarakat dunia untuk memahami perilaku alami macaca sekaligus mendorong perlindungan yang lebih kuat terhadap primata tersebut. Amanda Faradifa, perwakilan dari AfA Macaque Coalition, menjelaskan macaca merupakan primata bukan manusia yang paling luas penyebarannya di dunia, dari Jepang hingga Maroko. Mereka hidup di berbagai habitat, mulai hutan hingga kawasan perkotaan. Bahkan, kerap berinteraksi dengan manusia di tempat-tempat wisata dan situs budaya. “Di balik kehadirannya yang akrab, tersembunyi krisis serius yang mengancam kelangsungan satwa berekor panjang ini,” jelasnya, Sabtu (2/5/2026). Lebih separuh dari 23 spesies macaca menghadapi ancaman kepunahan. Berbagai faktor jadi penyebab, mulai perdagangan ilegal hingga hilangnya habitat. Bayi macaca kerap ditangkap dan dijual sebagai hewan peliharaan, praktik yang tak hanya melanggar hukum namun juga merusak populasi liar. Eksploitasi juga terjadi, macaca dipaksa tampil dalam atraksi atau dijadikan objek foto. “Momen ini adalah kesempatan mengubah cara pandang kita untuk menghormati dan menciptakan harmoni.” Monyet ekor panjang ymerupakan satwa yang mudah ditemukan dan tersebar luas di Indonesia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Ilham Kurnia, Manager Program The Long-Tailed Macaque Project, menjelaskan tantangan terbesar di lapangan justru berakar dari faktor manusia. Minimnya pemahaman ditambah lemahnya perlindungan macaca, juga keterbatasan pengawasan dan infrastruktur, membuat berbagai regulasi yang ada sulit diimplementasikan secara efektif.…This article was originally published on Mongabay
Potensi Konflik Manusia dengan Macaca Masih Ada, Mengapa?
Potensi Konflik Manusia dengan Macaca Masih Ada, Mengapa?





Comments are closed.