- Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Suku Penesak di Sumatera Selatan, dikenal melahirkan banyak maestro perajin kayu. Keahlian mereka bukan hanya digunakan masyarakat di Sumatera Selatan, juga di Lampung, Bengkulu, hingga Pulau Bangka. Saat ini, di Indonesia, mereka dikenal sebagai produsen rumah panggung bongkar pasang.
- Di masa Kesultanan Palembang, hampir semua rumah, perahu dan kapal, serta perabotan rumah tangga yang ada di Palembang, dibuat para perajin kayu Suku Penesak.
- Berdasarkan legenda di masyarakat Penesak, asal pengetahuan perajin kayu berasal dari seorang tokoh bernama Usang Sungging alias Abdul Hamid. Dia memiliki keahlian sebagai perajin kayu, penganyam, dan pelukis.
- Masa depan perajin kayu Suku Penesak mulai terancam. Penyebabnya, pasokan kayu yang terus berkurang, akibat terus berkurangnya tutupan hutan, selain pesanan dari masyarakat yang juga menurun.
Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Suku Penesak di Sumatera Selatan, dikenal melahirkan banyak maestro perajin kayu. Mereka membangun rumah panggung, perahu, serta furnitur seperti kursi, lemari, dan ranjang atau tempat tidur. Keahlian mereka bukan hanya digunakan oleh masyarakat di Sumatera Selatan, juga di Lampung, Bengkulu, hingga Pulau Bangka. Saat ini, mereka dikenal sebagai produsen rumah panggung bongkar pasang, yang menyebar di berbagai daerah di Indonesia.
Namun, keberlanjutan pengetahuan pertukangan kayu di Suku Penesak mulai terancam. Ini dikarenakan terus berkurangnya pasokan kayu.
Wilayah hidup Suku Penesak yang paling banyak melahirkan perajin kayu berada di Tanjung Batu Seberang dan Tanjung Baru Petai. Tapi, selama ini para perajin tersebut dikenal berasal dari Meranjat. Ini dikarenakan, di masa lalu, Meranjat merupakan pusat pemerintahan marga, sebelum berubah menjadi pemerintahan desa. Sejak terbentuknya Kabupaten Ogan Ilir (OI), Tanjung Batu Seberang dan Tanjung Baru Petai menjadi desa.
Hampir semua rumah limas, rumah tradisional Palembang, yang masih bertahan dan usianya mencapai ratusan tahun, dulunya dikerjakan para maestro perajin kayu dari Tanjung Batu Seberang dan Tanjung Baru Petai.
Perajin kayu Suku Penesak dikenal memiliki keahlian atau pengetahuan jenis kayu yang tepat untuk digunakan sebagai tiang, tangga, rangka bangunan, bubungan, lantai, dinding, pintu, jendela, kursi, meja, dan dipan. Artinya satu jenis kayu, seperti ulin (Eusideroxylon zwageri), tidak dapat digunakan untuk semua kebutuhan rumah atau bangunan. Kayu ulin sangat baik digunakan sebagai tiang rumah, tangga, atap sirap, kusen, serta pintu dan jendela.
Bahkan, usia kayu yang digunakan harus tua atau ukuran besar. Pengetahuan ini menciptakan kearifan dalam memanfaatkan kayu di hutan. Tidak asal tebang.
Mereka memiliki keahlian menyambung kayu secara presisi tanpa menggunakan paku, seperti purus dan lubang, atau menggunakan pasak, serta mampu meluruskan kayu yang bengkok tanpa harus memotongnya. Pun sebaliknya, mampu membengkokkan kayu atau bending. Mereka juga ahli mengukir atau memahat kayu sebagai dekorasi atau ornamen secara detil pada dinding, pintu, jendela, meja, dan kursi.

Retno Purwanti, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membenarkan jika peranan Suku Penesak sangat penting dalam peradaban masyarakat di Sumatera Selatan, terutama di masa Kesultanan Palembang. Mereka menjadi pemenuh atau penyedia kebutuhan papan dan sandang.
“Mereka bukan hanya ahli membangun rumah panggung, perahu, kapal, juga sebagai perajin logam, seperti besi, emas, perak, tembaga, dan timah. Yang dihasilkan mulai dari peralatan pertanian, rumah tangga, hingga perhiasan. Mereka pun dikenal sebagai perajin tenun songket,” jelasnya, awal Mei 2026.
Retno memperkirakan, di masa Kesultanan Palembang, hampir semua rumah, perahu dan kapal, serta perabotan rumah tangga yang ada di Palembang, dibuat para perajin kayu Suku Penesak.

Dari mana asal pengetahuan tersebut?
Berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat Penesak, di masa lalu, ada tokoh bernama Usang Sungging alias Abdul Hamid. Dia seorang seniman yang lari dari Keraton Kesultanan Palembang. Usang memiliki keahlian sebagai perajin kayu, penganyam, dan pelukis. Dia mengajarkan kemampuan tersebut kepada masyarakat yang bertahan hingga saat ini, terutama sebagai perajin kayu.
Usang jatuh cinta pada Putri Pinang Masak alias Putri Nafisah yang berasal dari Desa Senuro. Putri dikenal sebagai maestro anyaman bambu dan rotan pada masanya. Sayangnya, cinta Usang bertepuk sebelah tangan.
“Saya ini keturunan perajin kayu yang berguru dengan leluhur Usang Sungging,” kata Mas’ad Abdul Gofar Yasin Na’yah (61), perajin kayu di Desa Tanjung Batu Seberang, kepada Mongabay Indonesia, Minggu (3/5/2026).
“Bukan hanya kerajinan kayu, Usang juga mengajarkan kerajinan logam, baik besi, emas, perak, tembaga, hingga timah. Tapi, yang tidak banyak menurun ilmunya adalah melukis, sementara ukiran masih ada,” jelasnya.
Mas’ad bersama sejumlah perajin kayu lain, aktif membuat rumah bongkar pasang. Pemesannya mulai dari Bandung, Jakarta, Bangka, Bali, Medan, Bukit Tinggi, Lombok, serta daerah lain di Indonesia.
Ukuran rumah yang dibuat mulai 4 x 6 meter, 8 x 12 meter, hingga 20 x 20 meter. Harganya mulai 70-an juta hingga ratusan juta Rupiah.

Terancam
Saat ini, mereka yang tetap memilih sebagai perajin kayu, hanya bertahan dengan cara memproduksi rumah panggung kayu bongkar pasang (knock down). Mereka tidak lagi memproduksi perahu, kapal, kursi, dan meja.
Mengapa?
Penyebabnya, pertama, pasokan kayu semakin sedikit, akibat berkurangnya tutupan hutan. Sementara, mereka dilarang atau dianggap melanggar hukum jika menerima kayu yang berasal dari kawasan hutan konservasi. Kedua, permintaan atau pesanan dari masyarakat yang juga menurun.
Jika pasokan kayu tidak ada lagi dan pesanan produk kerajinan kayu menurun, maka hilang profesi perajin kayu. Hilangnya perajin kayu, maka hilang pula pengetahuan pertukangan kayu Suku Penesak bersama jejak sejarahnya.
“Kami tidak bisa lagi menggunakan kayu berkualitas tinggi. Kami banyak menggunakan kayu seru atau medang gatal (Schima wallichii) dan meranti paya (Shorea platycarpa) yang masih banyak tumbuh di kebun rakyat dan rawa,” katanya.

Hutan hilang
Hutan di wilayah Suku Penesak nyaris tidak ada lagi. Sebagian besar menjadi perkebunan karet, tebu, atau sayuran.
“Hampir dipastikan sebagian besar kayu yang digunakan para perajin di sini didatangkan dari luar,” kata Helmi Nawawi (60), tokoh masyarakat Suku Penesak, yang menetap di Desa Fajar Bulan, Minggu (3/5/2026).
Dijelaskan Helmi, wilayah hidup Suku Penesak berupa lahan basah, yang terdapat sungai, rawa, dan talang. Perkampungan terbentuk di tanjung dari talang seperti pulau-pulau kecil. Di masa lalu terdapat rimba yang dipenuhi beragam jenis tanaman kayu. Mulai ulin, beragam jenis medang, jelutung rawa, petanang, dan lainnya.
Tapi, beragam jenis pohon tersebut habis bukan hanya digunakan perajin kayu, tetapi akibat maraknya penebangan pohon saat Indonesia demam produksi kayu. Era perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan).
“Tahun 1975-1982 masyarakat Penesak mulai kesulitan memperoleh kayu yang merupakan bahan baku utama pembuatan rumah knock down. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan tersebut didatangkan kayu-kayu dari Karang Agung, Lubuk Tunggal, termasuk dari Jambi dan Riau,” jelasnya.

Terkait kemungkinan putusnya pasokan kayu di masa mendatang bagi perajin kayu, Helmi berharap, pemerintah dan masyarakat dapat membuat hutan yang berisi beragam jenis pohon kayu. Hutan yang dapat digunakan jangka menengah dan panjang secara berkelanjutan.
“Memang ini manfaatnya baru dirasakan di masa mendatang, tapi ini upaya penting untuk menjaga pengetahuan perajin kayu di Penesak,” ujarnya.
Mas’ad sangat mendukung gagasan adanya hutan tersebut, “Kalau kami para perajin kayu ini sangat setuju bae.”
*****
Beni Irawan, Perajin Perahu Kayu Tradisional Terakhir di Muara Lakitan





Comments are closed.