Made geleng-geleng kepala saat umpan pancing dilempar ke Danau Batur tetapi tak kena sasaran. Dia bawa tiga pancing dengan harapan dapat ikan mujair. Satu, dua, tiga, bahkan lebih, kail pancing dia lempar. Hasilnya, hanya dapat ikan red devil. “Di mana aja sama, entah ulah siapa niki,” kata Made, nelayan Desa Songan di Dermaga Pura Jati sambil menunggu kailnya bergerak, Kamis, (16/4/26). Secara turun-temurun, Made merupakan nelayan tangkap dan juga punya keramba jaring apung di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Selama tiga dekade, dia jalani turun temurun, setidaknya dia generasi ketiga. Namun, sejak 2022, pekerjaan itu tak lagi menjanjikan, kini jadi buruh tani. Memancing menjadi salah satu pelipur lara ketika senggang. “Mih, bangkrut tiang ulian red devil niki (aduh, bangkrut saya gara-gara red devil ini),” kata Made. Red devil (Amphilopus citrinellus) merupakan jenis ikan pemangsa daging bergigi tajam. Ikan ini tergolong ikan hias air tawar dari Nikaragua dan Costa Rika, Amerika Tengah. Red devil punya daya tahan tinggi, sangat mudah beradaptasi pada perubahan lingkungan, dan mampu berkembang biak dengan cepat. Sifat ini jadikan red devil masuk dalam jenis ikan invasif yang dapat merusak ekosistem asli perairan. Ikan-ikan lokal di Danau Batur perlahan menghilang. Tak hanya di Danau Batur, penelitian Dampak Invasif Ikan Red Devil terhadap Keanekaragaman Ikan di Perairan Umum Daratan di Indonesia (2015) memperkirakan 87 jenis ikan Indonesia terancam punah. Faktor utama penyebab kepunahan ini adalah masuknya ikan red devil ke perairan umum daratan di Indonesia. Seperti di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadas Lintang, Kedung Ombo, Sermo, Sentani,…This article was originally published on Mongabay
Nasib Nelayan Ketika ‘Red Devil’ Kuasai Danau Batur
Nasib Nelayan Ketika ‘Red Devil’ Kuasai Danau Batur




Comments are closed.