Di balik rimbunnya hutan Gunung Muria, tersimpan kisah tumbuhan unik yang mengalami perubahan nasib. Pakis ekor monyet, yang dulu tumbuh liar tanpa banyak perhatian, pernah jadi primadona saat tren tanaman hias dan kepercayaan akan ‘kayu tolak tikus’ merebak pada 1990-an. Kini, keberadaannya menyusut di habitatnya. Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria atau Peka Muria, menuturkan pemanfaatan pakis sejak awal, sebenarnya bukan sesuatu yang dianjurkan. Namun, gelombang tren yang datang dari luar, ditambah minimnya regulasi masa itu, membuat eksploitasi tak terhindarkan. “Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan, sejak masih muda,” jelasnya, Minggu (26/4/2026). Saat itu, bagian dalam Cibotium barometz yang bermotif unik dipotong dan dijual sebagai ‘kayu tolak tikus’. Kulitnya, digunakan sebagai media tanam, terutama untuk anggrek. Aktivitas ini, seingat Teguh berjalan masif. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis, lalu menjualnya tanpa mempertimbangkan kelanjutan. Waktu berjalan, tren mereda. Namun, dampaknya tidak ikut hilang. Teguh menyebut, bila dibandingkan dengan kondisi masa lalu, populasi pakis di Muria kini diperkirakan menurun. “Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang.” Pakis ekor monyet yang tumbuh di hutan Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Indikator sumber air Secara ekologis, pakis ekor monyet memiliki peran penting. Tak hanya tumbuh di sela pohon besar, tetapi juga sebagai indikator alami kesuburan tanah dan keberadaan sumber air. Pakis ini juga membantu kelembapan tanah dan berkontribusi pada kestabilan ekosistem hutan. “Kalau ada pakis, dekat mata air.” Meski tekanan pengambilan pakis di Muria mulai berkurang, menurut Teguh, ancaman tak sepenuhnya hilang. Praktik…This article was originally published on Mongabay
Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria
Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria





Comments are closed.