Bincangperempuan.com- Banyak orang mendambakan pasangan yang santai, tidak banyak menuntut, dan jarang memicu pertengkaran. Pasangan yang selalu menjawab terserah kamu atau aku manut aja sering dianggap sebagai sosok idaman yang low-maintenance atau tidak merepotkan.
Karakternya jarang protes, dan go with the flow. Dia seperti plastik yang terbang mengikuti arah angin terlihat santai dan tidak mendominasi.
Namun, para pakar hubungan memperingatkan bahwa sikap “ngikut aja” ini bukan bentuk kesabaran, melainkan bentuk avoidance (penghindaran tanggung jawab) dan hilangnya investasi emosional.
Baca juga: Aurelie dan Broken Strings: Alarm untuk Stop Romantisasi Gap Usia
Mengenal Plastic Bag Theory
Jika kamu merasa selalu menjadi pihak yang menyetir arah hubungan sementara pasangan hanya duduk manis mengikuti arus, kamu mungkin sedang berhadapan dengan fenomena Plastic Bag Theory atau Teori Kantong Plastik.
Mengutip dari Self Magazine, istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Alessandro Frosali, seorang pembicara motivasi dan pelatih hubungan. Dalam sebuah video yang viral, ia menganalogikan pasangan yang kelewat pasif ini layaknya sebuah kantong plastik. Karena tidak berinisiatif, dan tidak merencanakan apa pun. Seperti kantong plastik, hanya mengikuti arus dan menunggu pasangan membuat semua rencana dalam hubungan tersebut.
Frosali mendeskripsikan realitas pahit yang dirasakan oleh pihak perempuan: “Rasanya seperti hidup dengan laki-laki yang memiliki tulang punggung selunak kantong plastik yang hanyut di sungai. Hanya ikut ke mana saja air membawanya.” Tentu saja, ini bukanlah gambaran kemitraan yang ideal. Menurut para ahli, seseorang bisa bersikap santai (easygoing) tanpa harus menjadi pasif. Sayangnya, garis batas antara “santai” dan “lepas tangan” sering kabur.
Berikut adalah ciri-ciri utama pasangan yang terjebak dalam karakter plastic bag, serta mengapa hal ini merusak kesetaraan dalam hubungan.
1. Berlindung di Balik Kata “Terserah” dan Mengalihkan Beban Mental
Ciri pertama yang paling mudah dikenali adalah keengganan untuk mengambil inisiatif. Kalimat seperti, “Terserah, kamu maunya apa?” mungkin awalnya terdengar seperti bentuk rasa manja ke pasangan. Tapi, jika kalimat ini menjadi jawaban untuk setiap pertanyaan—mulai dari memilih tempat makan, menentukan agenda akhir pekan, sampai merencanakan keuangan ini sudah bentuk pelarian (cop-out).
Sikap terlalu submisif ini secara halus memaksa salah satu pihak untuk memikul seluruh beban mental (mental load). Satu orang dipaksa menjadi manajer proyek dalam hubungan sendiri: yang berpikir, yang menimbang, yang merencanakan, dan yang peduli.
Padahal, jika di masa pendekatan atau tahap awal hubungan saja ketika seseorang tidak memiliki inisiatif untuk mengambil peran, bayangkan seberapa berat beban yang harus kamu pikul saat menghadapi persoalan rumah tangga yang lebih kompleks di masa depan. Hubungan menuntut kesalingan dan inisiatif harus datang dari dua arah.
2. Kehilangan Jati Diri: Pentingnya Memiliki Pendirian
Pasangan yang sehat tidak selalu harus setuju satu sama lain. Mereka harus memiliki pendapat, selera, dan prinsipnya sendiri. Seseorang yang hidup bukan sebagai kantong plastik akan dengan santai membela argumen bahwa kedai kopi langganannya jauh lebih enak daripada pilihan pasangannya. Mereka juga akan tetap setia mendukung tim sepak bola favoritnya, meskipun itu adalah musuh bebuyutan dari tim yang pasangannya dukung.
Hal ini mungkin kelihatan remeh, tetapi opini-opini kecil ini adalah bentuk dari kemampuan untuk memiliki pandangan dalam hal-hal besar. Seseorang membutuhkan pasangan yang memiliki visi tentang di mana akan membesarkan anak, nilai-nilai apa yang ia junjung dalam karier, dan bagaimana ia membayangkan masa depan bersama. Menjadi pasangan yang setara berarti memiliki “tulang punggung” dan berani bersuara.
Oleh karena itu dalam berpasangan dibutuhkan seseorang yang berpijak pada pendiriannya sendiri, bukan sekadar membeo.
3. Janji Manis Tanpa Adanya Eksekusi
Sikap submisif yang berbahaya juga sering muncul dalam bentuk persetujuan yang mudah, namun nol besar dalam tindakan (follow-through). Pada saat berdiskusi, ia mungkin terlihat sangat antusias. Ketika kamu mengajaknya merencanakan liburan atau membicarakan tabungan bersama, ia dengan cepat menjawab, “Boleh, ayo kita lakukan.”
Namun, setelah hari berganti, tidak ada satu pun tindakan nyata yang terjadi. Tiket pesawat tidak akan pernah dipesan kecuali kamu yang terus-menerus mengingatkannya (atau pada akhirnya, kamu sendiri yang memesannya). Obrolan penting tersebut menguap begitu saja.
Pakar hubungan Saunders-Waldron menyebut persetujuan semacam ini sebagai placeholders—jawaban yang cukup sopan untuk menjaga suasana tetap nyaman dan menghindari perdebatan, tetapi sebenarnya kosong dan pada akhirnya hanya akan membuat kamu merasa frustrasi. Persetujuan tanpa eksekusi bukanlah bentuk kerja sama.
Baca juga: Praktik Pernikahan di Sekolah: Edukasi atau Romantisasi Nikah Muda
Membangun Hubungan Lewat Kesalingan, Sekadar “Ngikut”
Perlu diketahui sikap pasif ini bisa terjadi di berbagai gender. Tak peduli laki-laki, perempuan mau pun non-biner, dalam setiap hubungan seharusnya menjunjung bukan sikap proaktif. Pasangan yang setara akan hadir sejak awal dengan niat dan intensi yang jelas untuk membangun hubungan. Kemudahan dan kenyamanan sejati dalam sebuah dinamika asmara lahir dari upaya bersama (shared effort), bukan dari pelimpahan tanggung jawab secara diam-diam.
Jika mencari seorang mitra hidup, bukan sedang mengadopsi orang dewasa yang minta diasuh (parenting your partner). Pada akhirnya, kesalingan dan kesetaraan adalah kunci. Berjalanlah bersisian, mendayunglah bersama, dan jadilah jangkar satu sama lain bukan sekadar plastik yang pasrah terbawa arus sungai.
Referensi:
- Ryu, J. (2026, April 2). The ‘Plastic Bag Theory’ Explains Why Chill Guys Are Actually the Worst. SELF.https://www.self.com/story/plastic-bag-theory




Comments are closed.