Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kenapa Perempuan Muslim Indonesia Menjadi ‘Fujoshi’ dan Menggandrungi Drama Boys’ Love?

Kenapa Perempuan Muslim Indonesia Menjadi ‘Fujoshi’ dan Menggandrungi Drama Boys’ Love?

kenapa-perempuan-muslim-indonesia-menjadi-‘fujoshi’-dan-menggandrungi-drama-boys’-love?
Kenapa Perempuan Muslim Indonesia Menjadi ‘Fujoshi’ dan Menggandrungi Drama Boys’ Love?
service

Budaya populer apa yang sedang kamu sukai? Apa pun fenomena budaya populer favoritmu, itu merupakan bentuk ekspresi bebas manusia dalam mencari identitas manusia.

Selama beberapa waktu terakhir pun, ada berbagai macam produksi media populer dari penjuru dunia yang melanda Indonesia. Namun, sering kali fenomena itu dianggap ‘unik’ atau ‘tidak biasa’ di suatu tempat dengan nuansa tertentu. Bahkan, bisa jadi memancing tanya hingga “bertentangan dengan norma” ketika dihadapkan pada lingkungan masyarakat heteronormatif. Salah satunya cerita dan drama Boys’ Love (BL).

Selama beberapa waktu terakhir, popularitas genre Boys’ Love (BL) atau kisah percintaan sesama laki-laki melonjak, khususnya di kalangan perempuan. Termasuk di antara para perempuan di Indonesia sebagai negara yang kebanyakan warganya menganut agama Islam, sekaligus tidak sedikit yang menjadi fujoshi. Hal ini mungkin dianggap kontradiktif karena heteronormativitas yang sangat kuat di kalangan Muslim.

Kita perlu masuk membahas istilah ‘fujoshi’ dulu sebelum mengulas fenomena BL sebagai genre favorit perempuan. Fujoshi adalah istilah yang berasal dari Bahasa Jepang. Dalam budaya populer Jepang, sebutan itu secara harfiah berarti “perempuan busuk”. Namun, istilah fujoshi kemudian digunakan secara satir oleh para perempuan yang menyukai manga (komik), novel, atau film bertema hubungan romantis antar-laki-laki.

Baca Juga: Melihat Isu Queer Dalam Tayangan Boys Love Di Film-Film

Awalnya, banyak perempuan yang menjadi fujoshi melakukan hobinya secara tertutup. Namun di masa sekarang, seiring pesatnya kemajuan teknologi informasi dan digitalisasi, hobi itu bermigrasi ke ruang publik digital yang jauh lebih terbuka. Melalui platform media sosial seperti X (Twitter) dan YouTube, hingga layanan streaming lintas-negara seperti iQIYI, Viki, dan LINE TV. Produk media seperti film dan drama kini dengan mudah diakses melalui layar ponsel dan sambungan internet secara global, tanpa begitu banyak batas geografis lagi.

Produk media populer yang kini mendunia itu termasuk kisah Boys’ Love (BL) kesukaan para fujoshi. Di Jepang, genre ini dulu berakar dari cerita yaoi pada manga alias komik. Sedangkan saat ini, salah satu yang paling mendominasi pasar adalah drama BL yang berasal dari Thailand. Mereka bahkan mengembangkannya menjadi industri tersendiri.

Kini, serial atau drama BL tidak hanya menjual romantisme dangkal. Tetapi juga mengeksplorasi dinamika hubungan, isu kesehatan mental, hingga problematika emosional yang kompleks. Perkembangan alur cerita yang semakin berkualitas inilah yang pada akhirnya kian memikat minat para penggemar di Indonesia.

Baca Juga: Serial Culture Shock dan Kekacauan Seksualitas: Ketakutan Pada Keperawanan dan Keperjakaan Ditanamkan pada Tubuh

Menariknya, Indonesia sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru sering kali menduduki peringkat tertinggi atau teratas dalam interaksi digital terkait serial BL. Contohnya interaksi di media sosial seperti X (Twitter), YouTube, dan Telegram. Pada platform X, misalnya, banyaknya antusiasme penggemar Indonesia dalam menggunakan tagar tertentu terkait media BL sering kali mengalahkan jumlah interaksi dari negara asal produksi media serial tersebut, seperti Thailand. Banyak fujoshi dan penggemar BL di Indonesia juga berlangganan layanan streaming resmi seperti iQIYI, Viki, dan LINE TV. 

Hal ini menciptakan sebuah paradoks budaya yang menarik untuk dikaji lebih dalam, sekaligus memunculkan perdebatan. Di satu sisi, sebagian penggemar berpendapat bahwa drama BL memberikan perspektif baru mengenai keragaman gender dan seksualitas yang selama ini masih dianggap tabu. Mereka menganggap tontonan ini sebagai media untuk memahami realitas hubungan yang berbeda dari pengalaman mereka selama ini. Di sisi lain, banyak protes mengalir dari kelompok konservatif-heteronormatif yang menganggap popularitas genre tersebut dapat “mengikis nilai-nilai moral dan tatanan sosial bangsa Indonesia”—yang seringkali diklaim “relijius”.

Tapi kenapa sih, perempuan begitu terpikat oleh romansa sesama laki-laki dalam cerita Boys’ Love?

Hal yang menjadi alasan paling mendasar dan jujur adalah faktor estetika (keindahan) visual. Tak dapat dimungkiri, pemilihan aktor dengan penampilan wajah dan proporsi tubuh yang dianggap sebagai “tipe ideal” menjadi daya tarik utama. Bagi para penggemar perempuan BL, melihat dua laki-laki “tampan” dalam satu layar memberikan kepuasan visual tersendiri. Lalu, chemistry yang dibangun oleh para aktor utama sering kali dianggap lebih mendebarkan, lucu, dan manis dibandingkan pasangan heteroseksual, yang pada umumnya terkadang terjebak dalam kiasan (tropes) yang membosankan.

Baca Juga: Drama ‘Boys Love’: Tak Lepas Dari Cinta Yang Toksik 

Menurut jurnal Sari dan Yusuf (2025), bagi penonton atau penggemar perempuan, drama BL sering kali menjadi bentuk eskapisme. Artinya, pelarian sementara dari realitas hidup atau kejenuhan terhadap drama romansa konvensional, yang sering kali menempatkan perempuan dalam posisi yang lemah atau tertekan.

Selain itu, media populer Boys’ Love tidak hanya muncul dalam bentuk produk utamanya, tetapi juga menyajikan konten behind the scene (di balik layar) yang sangat dinikmati penggemar. Keakraban alami para aktor di luar naskah menciptakan “realitas tiruan” yang membuat penonton merasa memiliki ikatan emosional dengan sang idola. 

Tidak hanya faktor selera. Di luar itu, ada kekuatan psikologis lainnya yang sangat berperan, yaitu Fear of Missing Out (FOMO). Perasaan khawatir akan tertinggal dari tren yang sedang hangat di media sosial mendorong banyak perempuan untuk mulai menonton serial Boys’ Love. Intensitas penggunaan media sosial membentuk algoritma dan membuat penggunanya terpapar terus-menerus pada konten tertentu. Misalnya potongan adegan drama yang menarik, ulasan positif, hingga diskusi hangat di komunitas digital.

Menurut penelitian Yunika dan Alimi (2025) banyak penonton atau penggemar perempuan Boys’ Love mengaku, awalnya mereka hanya sekadar ingin tahu. Karena mereka melihat banyaknya perbincangan  di beranda atau linimasa media sosial mereka. Contohnya di X (Twitter). Mereka merasa, jika tidak ikut menonton, mereka akan takut ketinggalan atau FOMO dalam pergaulan digital. Lalu kehilangan bahan obrolan dengan kelompok sebaya. Pada akhirnya, rasa penasaran yang dipicu oleh tekanan sosial digital ini berubah menjadi konsumsi media yang rutin dan berkelanjutan.

Baca Juga: Jawaban untuk Perempuan Yang Merindukan Cinta Setara dalam Heated Rivalry 

Produk media seperti drama Boys’ Love hadir membawa warna baru dalam industri hiburan dengan menawarkan cerita yang unik, kreatif dan dengan perspektif yang segar. Genre ini memunculkan basis massa atau penggemar yang sangat besar di Indonesia, khususnya perempuan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat dalam mengonsumsi media. Kendati demikian, fenomena ini memang terus memicu pro dan kontra terkait normal sosial dan agama masyarakat Indonesia mayoritas Muslim yang kerap menolak hal-hal di luar heteroseksualitas. Dan selama penggemar BL menggandrungi romansa antar-lelaki fiksi sekaligus tetap menjadi kwirfobik di dunia nyata, mereka akan selamanya berhadapan dengan dilema yang sebetulnya bisa dihindari.

Pada akhirnya, fenomena ini mengajak kita untuk lebih bijak dan kritis dalam memilah tontonan. Sembari memahami bahwa arus globalisasi informasi akan terus membawa nilai-nilai baru yang menantang batas-batas tradisional yang ada pada masyarakat. Yang terpenting, jangan sampai kesukaan terhadap cerita BL berhenti hanya pada favoritisme pada narasi fiktif seraya meneruskan kebencian terhadap narasi serupa yang nyata di sekitar kita.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.