KABARBURSA.COM – Di tengah ketatnya persaingan likuiditas perbankan dan tekanan sektor finansial, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) justru menemukan mesin pertumbuhan baru.
Bukan sekadar jual beli logam mulia biasa, BRIS perlahan mulai membangun ekosistem emas digital yang kini berubah menjadi salah satu sumber pertumbuhan paling agresif di dalam bisnis perusahaan.
Hasilnya mulai terlihat di laporan keuangan.
Pada kuartal I-2026, BRIS membukukan laba bersih Rp2,2 triliun atau naik sekitar 17 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut sekaligus menjadi laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
Bagi pasar, yang menarik bukan cuma besarnya laba, melainkan dari mana pertumbuhan itu datang.
Di tengah industri perbankan yang mulai menghadapi tekanan likuiditas, BRIS justru berhasil meningkatkan pendapatan margin pembiayaan (net margin income) sebesar 13 persen secara tahunan. Pendapatan berbasis komisi (fee based income) bahkan melonjak lebih tinggi lagi, naik sekitar 23 persen.
Dan salah satu motor terbesarnya datang dari bisnis emas.
Data Stockbit menunjukkan jumlah nasabah emas digital BRIS melonjak sangat agresif. Jika pada Maret 2025 jumlahnya masih sekitar 120 ribu nasabah, maka per Maret 2026 sudah mendekati 900 ribu nasabah dan terus naik menembus 1 juta pengguna pada April 2026.
Bagi BRIS, ledakan bisnis emas ini bukan cuma soal transaksi investasi. Ada efek berantai yang jauh lebih penting bagi struktur bisnis bank.
Nasabah yang ingin membeli emas diwajibkan membuka rekening tabungan terlebih dahulu. Efeknya, tabungan atau savings account BRIS tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan, menjadi salah satu pertumbuhan dana murah tertinggi di industri perbankan nasional.
Dari sinilah cerita profitabilitas BRIS mulai berubah.
Dengan dana murah yang makin besar, biaya dana (cost of fund) berhasil ditekan turun menjadi 2,1 persen dari sebelumnya 2,7 persen pada kuartal I-2025. Dalam bisnis bank, penurunan biaya dana seperti ini sangat penting karena langsung membantu memperlebar margin keuntungan.
Di sisi lain, kualitas pembiayaan BRIS juga masih relatif terjaga.
Cost of Credit (CoC) turun ke level 0,7 persen, lebih rendah dibanding target manajemen yang berada di bawah 1 persen. Rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) juga relatif stabil dengan cash coverage berada di kisaran 254 persen.
Meski begitu, pasar mulai melihat ada tantangan baru yang ikut muncul dari pertumbuhan bisnis emas yang terlalu cepat.
Pembiayaan emas BRIS melonjak sekitar 101 persen secara tahunan dan kini sudah mencapai sekitar 9 persen dari total portofolio pembiayaan. Manajemen bahkan menargetkan kontribusinya bisa naik menuju 20 persen ke depan.
Akibat pertumbuhan yang terlalu agresif, yield bisnis emas mulai sedikit turun menjadi 12,7 persen dari sebelumnya 13,3 persen. Artinya, margin bisnis mulai mengalami tekanan seiring makin besarnya skala pembiayaan.
Selain itu, manajemen juga mulai memberi sinyal tekanan likuiditas pada semester II-2026. Salah satu penyebabnya adalah potensi penarikan dana pemerintah sekitar Rp10 triliun serta mulai meningkatnya persaingan deposito di industri perbankan.
Namun secara keseluruhan, Stockbit melihat prospek BRIS masih tetap positif.
Menurut mereka, kekuatan utama BRIS sekarang ada pada struktur dana murah yang dinilai lebih “lengket” karena berasal dari tabungan haji dan ekosistem emas. Di sisi lain, risiko kredit dinilai relatif terjaga karena pembiayaan emas memiliki nilai agunan yang tinggi dan lebih mudah direposisi dibanding kredit tanpa jaminan.
Yang membuat pasar mulai kembali melirik adalah valuasi saham BRIS yang masih dianggap murah dibanding perbaikan fundamentalnya.
Saat ini, BRIS diperdagangkan di level sekitar 1,4 kali forward price to book value (P/BV), atau sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata valuasi lima tahun terakhir.
Artinya, ketika laba mulai mencetak rekor dan bisnis emas tumbuh sangat agresif, pasar justru masih memberi valuasi yang relatif diskon terhadap saham bank syariah terbesar di Indonesia tersebut.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.