Ditulis oleh Pramirvan Datu •
KABARBURSA.COM – Industri keuangan syariah di kawasan ASEAN terus menunjukkan akselerasi yang impresif. Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings mencatat total nilai sektor tersebut telah melampaui ambang USD1 triliun pada Kuartal I-2026. Di tengah geliat tersebut, Indonesia dipandang memiliki prospek pertumbuhan paling atraktif, ditopang oleh populasi muslim yang besar serta masih luasnya lapisan masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan formal.
Managing Director sekaligus Global Head of Islamic Finance Fitch Ratings, Bashar Al Natoor, memperkirakan pembiayaan perbankan syariah Indonesia mampu tumbuh sekitar 10 persen sepanjang 2026. Hingga akhir Januari 2026, total aset industri perbankan syariah nasional telah mencapai USD61 miliar.
Dalam laporannya, Fitch juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu episentrum pasar sukuk global. Surat utang berbasis syariah tersebut kini menyumbang sekitar 17,6 persen dari total pasar obligasi domestik yang beredar hingga Kuartal I-2026. Sementara itu, nilai aset kelolaan dana syariah Indonesia tercatat mencapai USD5,2 miliar. Adapun kontribusi industri asuransi syariah atau takaful menyentuh 6,2 persen dari keseluruhan premi industri asuransi nasional.
“Indonesia diperkirakan tetap menjadi salah satu penerbit sukuk terbesar di dunia,” ujar Bashar dalam laporan Fitch bertajuk ASEAN Islamic Finance Rising in Importance, Passes USD1 Trillion yang disampaikan melalui surat elektronik, Selasa 19 Mei 2026.
Fitch menilai Indonesia bersama Malaysia dan Brunei Darussalam masih menjadi lokomotif utama pertumbuhan industri keuangan syariah ASEAN. Kawasan ini bahkan menguasai hampir separuh sukuk global yang beredar di pasar internasional. Dalam lanskap tersebut, Malaysia menempati posisi pertama pasar sukuk dunia, sedangkan Indonesia berada di peringkat ketiga.
Stabilitas pasar sukuk ASEAN juga mendapat sorotan positif. Fitch mencatat seluruh sukuk ASEAN berdenominasi dolar AS yang memperoleh peringkat dari lembaga tersebut masih berada dalam kategori investment grade atau BBB hingga akhir April 2026. Tidak ada catatan gagal bayar dalam empat tahun terakhir.
Meski demikian, bayang-bayang risiko global belum sepenuhnya sirna. Fitch mengungkapkan sekitar 63 persen penerbit sukuk ASEAN kini berada dalam status Outlook Negatif setelah revisi prospek terhadap Indonesia dan Filipina dilakukan.
Menurut Bashar, eskalasi konflik Iran berpotensi memberi tekanan terhadap pasar sukuk ASEAN, termasuk Indonesia. Dampaknya dapat menjalar melalui berbagai kanal. Mulai dari lonjakan harga energi, pembengkakan subsidi, depresiasi mata uang, peningkatan premi risiko kredit, hingga mengetatnya akses pendanaan eksternal.
Fitch juga menyoroti semakin eratnya hubungan ekonomi antara negara-negara ASEAN dan kawasan Gulf Cooperation Council (GCC). Relasi tersebut diyakini mampu memperluas penetrasi industri keuangan syariah sekaligus membuka aliran investasi baru yang menopang inklusi keuangan kawasan.
Dalam catatan Fitch, Islamic Development Bank telah menggelontorkan pendanaan lebih dari USD8 miliar ke kawasan ASEAN. Sebagian besar alokasi dana itu mengalir ke Indonesia.
Tak hanya itu, kesepakatan terbaru antara Uni Emirat Arab dengan Indonesia, Malaysia, dan Filipina diproyeksikan memperdalam kolaborasi di sektor keuangan syariah. Namun di balik peluang tersebut, Fitch mengingatkan adanya tantangan laten berupa perbedaan interpretasi prinsip syariah antara negara-negara GCC dan ASEAN yang berpotensi memengaruhi arus investasi lintas kawasan.(*)





Comments are closed.