Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Alarm Baru Pasar Minyak Dunia, IEA Sebut Cadangan Komersial Menyusut Cepat

Alarm Baru Pasar Minyak Dunia, IEA Sebut Cadangan Komersial Menyusut Cepat

alarm-baru-pasar-minyak-dunia,-iea-sebut-cadangan-komersial-menyusut-cepat
Alarm Baru Pasar Minyak Dunia, IEA Sebut Cadangan Komersial Menyusut Cepat
service

KABARBURSA.COM — Pasar energi global kembali memasuki fase yang membuat investor harus waspada. Jika beberapa bulan lalu dunia masih berbicara soal surplus pasokan minyak, kini situasinya berubah drastis. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan cadangan minyak komersial dunia terkikis cepat dan kemungkinan hanya cukup bertahan beberapa pekan ke depan.

Peringatan itu disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol di sela pertemuan menteri keuangan negara-negara G7 di Paris, Senin, 18 Mei 2026. Menurut Birol, perang Iran dan terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz telah mengubah keseimbangan pasar energi global secara signifikan.

Selama ini Selat Hormuz menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dilewati sekitar seperlima distribusi minyak global. Gangguan kecil saja dapat langsung memukul pasokan internasional.

Birol mengatakan pelepasan cadangan strategis minyak oleh berbagai negara memang telah membantu menenangkan pasar dengan tambahan pasokan sekitar 2,5 juta barel per hari. Namun langkah tersebut bukan solusi permanen.

Cadangan strategis, kata dia, memiliki batas. “Cadangan tersebut tidak tak terbatas,” ujar Birol, dikutip dari Reuters, Selasa, 19 Mei 2026.

Pernyataan itu memberi sinyal bahwa bantalan energi global mulai menipis setelah digunakan untuk meredam gejolak akibat konflik geopolitik.

Menurut Birol, sebelum Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu, pasar minyak sebenarnya berada dalam kondisi nyaman. Persediaan komersial tinggi dan pasokan berlebih terjadi di banyak wilayah. Namun perang mengubah semuanya.

Ia menjelaskan pasar kini menghadapi kesenjangan persepsi antara kondisi fisik minyak di lapangan dan ekspektasi pelaku pasar finansial. “Ada kesenjangan persepsi di pasar antara pasar fisik dan pasar finansial,” kata Birol.

Artinya, harga minyak di bursa belum sepenuhnya merefleksikan tekanan nyata pada ketersediaan minyak fisik. Birol menambahkan stok minyak komersial dunia kemungkinan masih mampu bertahan beberapa pekan, tetapi lajunya terus menyusut cepat.

“Cadangan komersial akan bertahan beberapa pekan, tetapi kita harus menyadari fakta bahwa cadangan tersebut menurun dengan cepat,” kata Birol.

Bagi investor komoditas, pernyataan ini penting. Penurunan stok biasanya menjadi pemicu kenaikan harga minyak karena pasar mulai menghitung risiko kelangkaan pasokan.

Musim Tanam-Liburan Musim Panas bisa Memperburuk Situasi

Tekanan pada cadangan minyak diperkirakan semakin besar dalam beberapa bulan mendatang. IEA memperkirakan permintaan energi akan meningkat seiring dimulainya musim tanam musim semi dan periode perjalanan musim panas di belahan bumi utara.

Pola ini bukan hal baru dalam pasar energi global. Musim semi di negara-negara empat musim biasanya menjadi awal peningkatan aktivitas pertanian sehingga kebutuhan solar untuk alat berat, traktor, transportasi logistik, hingga produksi pupuk ikut naik. Industri pupuk sendiri sangat bergantung pada gas alam dan energi fosil.

Di waktu hampir bersamaan, musim panas identik dengan lonjakan mobilitas masyarakat di Amerika Utara, Eropa, hingga sebagian Asia Timur. Aktivitas liburan meningkatkan konsumsi bensin untuk kendaraan pribadi dan avtur untuk penerbangan ketika jutaan orang bepergian dalam periode yang relatif singkat. 
Dengan kata lain, pasokan menyusut ketika permintaan sedang naik. Secara historis, kombinasi ini menjadi resep klasik kenaikan harga energi global.

Stok Minyak Dunia Susut 246 Juta Barel

Laporan pasar minyak bulanan terbaru IEA menunjukkan data yang lebih mengkhawatirkan. Pada Maret hingga April 2026, persediaan minyak global turun sekitar 246 juta barel, menjadi penurunan tercepat yang pernah tercatat.

Padahal sebelumnya IEA sempat memproyeksikan dunia akan menikmati surplus minyak sepanjang tahun ini. Proyeksi itu kini dibalik sepenuhnya.

IEA memperkirakan pasokan minyak global bakal turun sekitar 3,9 juta barel per hari selama 2026, jauh lebih buruk dibanding estimasi sebelumnya yang memperkirakan penurunan hanya 1,5 juta barel per hari. Angka 3,9 juta barel mungkin terdengar abstrak. Namun volume itu setara hampir 6,5 kali produksi minyak harian Indonesia saat ini.

Perubahan proyeksi sebesar itu menunjukkan konflik Timur Tengah tidak lagi dipandang sebagai gangguan sementara, melainkan ancaman struktural terhadap rantai pasok energi dunia.

Sebagai respons terhadap krisis, negara anggota IEA sebelumnya menyetujui pelepasan cadangan strategis terbesar dalam sejarah. Sebanyak 400 juta barel diputuskan untuk ditarik dari cadangan bersama guna menenangkan pasar. Hingga 8 Mei lalu, sekitar 164 juta barel sudah dilepas.

Langkah itu membantu meredam lonjakan harga dalam jangka pendek. Namun semakin lama konflik berlangsung, semakin tipis ruang intervensi pemerintah.

Apa Artinya bagi Investor?

Perubahan mendadak dari surplus menjadi ancaman defisit pasokan membuat sektor energi kembali menarik perhatian pasar. Beberapa implikasi yang biasanya dipantau investor:

  1. Harga minyak berpotensi bertahan tinggi. Jika cadangan terus terkikis sementara konflik Iran belum mereda, harga minyak mentah dapat memperoleh dukungan jangka menengah.
  2. Emiten migas dan batu bara berpotensi mendapat sentimen positif. Perusahaan produsen energi biasanya menikmati kenaikan margin saat harga komoditas meningkat.
  3. Inflasi global berisiko naik lagi. Ini karena energi mahal sering menular ke biaya logistik, pangan, dan manufaktur.
  4. Bank sentral bisa lebih berhati-hati menurunkan suku bunga. Lonjakan harga energi berpotensi memperpanjang tekanan inflasi.

Dengan kata lain, perang Iran bukan hanya isu geopolitik. Konflik tersebut mulai menjelma menjadi variabel penting yang dapat mengubah arah pasar energi, inflasi global, hingga strategi investasi sepanjang 2026.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.