Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta berkolaborasi dengan AJI Surabaya menyelenggarakan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film ‘Di Balik Ilusi Tembakau’ pada Selasa, 19 Mei 2026 di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya. Film dokumenter ini menunjukkan potret tentang paradoks industri rokok di Indonesia.
Agenda ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari pelajar, akademisi, dan masyarakat umum. Usai menonton film selama 50 menit, agenda dilanjutkan dengan diskusi lintas terkait industri tembakau dengan narasumber sutradara film, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, akademisi dan perwakilan organisasi masyarakat sipil.
Sutradara ‘Di Balik Ilusi Tembakau’, Irvan Imamsyah mengawali diskusi dengan menjelaskan film ini mengungkap bagaimana industri tembakau membangun citra kesejahteraan sambil meninggalkan jejak utang, penyakit, dan ketergantungan dalam banyak kehidupan.
Menurut Irvan, film ini juga menceritakan kisah-kisah korban industri tembakau. Seperti petani tembakau yang tak kunjung sejahtera, penyintas yang berjuang mempertahankan hidup kembali, keluarga yang kehilangan orang tercinta, hingga generasi muda yang terus menjadi target pasar.
“Di balik pencitraan industri tembakau, kami ingin menunjukkan ada kenyataan yang selama ini sengaja dibuat kabur. Terlihat bahwa industri ini silent killer karena titik pasti berat. Ada penyakit yang mengintai, ada buruh yang mulai tidak percaya industri,” ucap Irvan.
Irvan menambahkan, film ini menunjukkan sistem di Indonesia sudah akut. Terbukti Indonesia menjadi surga rokok dari sisi regulasi yang longgar sampai harga yang sangat terjangkau di banding negara-negara lainnya. Akibatnya, banyak masyarakat menengah bawah yang menjadi korban.
Irvan berharap film ini tidak sekadar menjadi edukasi bagi para perokok aktif maupun pasif. Tapi juga ruang diskusi bagi berbagai elemen seperti pemerintah, masyarakat sipil, pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, maupun industri tembakau.
Ke depan, dia ingin kembali membuat film dokumenter lanjutan soal industri tembakau. Khususnya terkait tokoh-tokoh yang mempengaruhi regulasi tembakau. “Masih banyak yang belum terungkap, termasuk para peran politisi,” paparnya.

Sementara itu, Manajer Program Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Nina Samidi menyatakan film ini menunjukkan kenyataan bahwa regulasi Indonesia soal rokok dan industri tembakau terkesan mandek. Sebabnya, belum ada aturan yang jelas untuk melindungi masyarakat dari perilaku anti rokok.
”Contohnya, masih banyak anak bandel yang merokok. Itu terjadi karena mereka masih mudah menemukan rokok di warung, iklan rokok, dan lingkungan yang banyak perokok,” paparnya.
Nina menambahkan, film ini menunjukkan industri tembakau tidak menunjukkan kepeduliannya terhadap buruh dan korban rokok. Menurut dia, ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga politik karena para penyusun regulasi juga kemungkinan dipengaruhi oleh pengusaha.
Lebih lanjut, dosen Psikologi Universitas Airlangga, Valina Khiarin Nisa mengatakan bahwa film ini sangat komprehensif karena menampilkan masalah kesehatan, ekonomi, bahkan trauma psikologis karena rokok. Film ini juga menunjukkan rasa nyaman dan fokus saat merokok yang selama ini dipercaya merupakan perasaan yang belum bisa teruji.
“Merokok bikin fokus itu hanya keyakinan para perokok. Tapi kan mereka belum menguji itu fakta atau bukan,” jelasnya.
Valina juga berharap pemerintah bisa lebih tegas menerapkan sanksi bagi pelanggar aturan KTR. Sebab, aturan tersebut diukur hanya sekedar slogan. Bahkan, dia sering menemukan larangan merokok di tempat-tempat umum yang terpampang jelas, namun masih banyak masyarakat yang tidak menghiraukan larangan itu.
Tak hanya itu, Valina terketuk dengan fakta terkait petani tembakau yang tidak sejahtera dari film ini. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah bisa membantu para petani tembakau untuk bertransisi ke industri yang lebih berkelanjutan. Peralihan ini harus tepat sasaran agar para petani bisa sejahtera.
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Billy Daniel Messakh mengatakan film ini sangat bagus untuk membantu pemerintah dalam mempromosikan hal-hal negatif soal rokok. Terlebih lagi, regulasi yang dibuat oleh pemerintah daerah hanya bisa menekan masyarakat di satu sisi. Tekanan itu akan semakin lengkap jika dibantu dengan promosi film semacam ini.
Perihal regulasi rokok dan industri yang disinggung dalam film, Billy mengungkapkan Surabaya semakin mengetatkan aturan terkait KTR. Misalnya, ada batasan pemasangan iklan rokok di dekat sekolah dan rumah sakit sejauh 75 meter.
“Sekarang kita juga mengetatkan di kawasan dunia hiburan. Nantinya, ada larangan merokok di kawasan itu,” jelasnya.
Selain itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Mohamad Soewandhie ini mengatakan masyarakat dapat melapor jika menemukan perokok yang melanggar aturan KTR di Surabaya. Dia menjamin laporan itu akan ditanggapi 1×24 jam.
Di akhir diskusi, Billy menekankan pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah di lingkungan keluarga. Dia pun berharap para orang tua semakin menekankan bahaya merokok kepada anak-anak.
Agenda ini juga disambut antusias peserta diskusi, salah satunya Inez Kriya asal Surabaya. Dia mengatakan film ini memberikan pengetahuan baru tentang kesejahteraan petani tembakau, industri yang hanya menguntungkan para pemilik modal, dan melemahkan peran pemerintah dalam meregulasi distribusi rokok.
“Aku juga baru tercerahkan soal pengaruh desain kemasan dan iklan terhadap persepsi anak-anak untuk terjebak dalam candu rokok yang juga diungkapkan oleh salah satu narasumber dalam film,” ucapnya.
Inez sangat mengapresiasi agenda ini karena dia menemukan berbagai pengetahuan baru tentang peran-peran yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu menghentikan siklus setan rokok ini. Dia pun merasa lebih memahami isu rokok setelah mengikuti nobar dan diskusi ini.
Surabaya terpilih sebagai kota pertama untuk roadshow perdana Film ‘Di Balik Ilusi Tembakau’. Nantinya, ada lima kota lain yang dipilih untuk pemutaran film dan diskusi.






Comments are closed.