Thu,21 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. UTBK dan Hak yang Belum Setara bagi Penyandang Low Vision

UTBK dan Hak yang Belum Setara bagi Penyandang Low Vision

utbk-dan-hak-yang-belum-setara-bagi-penyandang-low-vision
UTBK dan Hak yang Belum Setara bagi Penyandang Low Vision
service

Sejak subuh, Ananda Premiera Febriano sudah sibuk menyiapkan diri. Pagi itu, ia akan mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya, Malang, Minggu 26 April 2026.

Hari itu sudah lama ia tunggu. Berbulan-bulan ia mempersiapkan diri dengan belajar dan mengikuti kursus untuk mengerjakan soal-soal ujian di Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya.

Sebagai penyandang disabilitas netra low vision, Piere, begitu panggilan akrabnya, mengikuti ujian lewat jalur yang sama seperti peserta reguler. Jumlah soal, bobot, dan waktu pengerjaan sama dengan peserta umum. Piere satu ruangan dengan tiga peserta non-disabilitas dan seorang penyandang low vision lainnya. Ia mendapat fasilitas komputer dengan pembesaran layar hingga 300 kali.

”Tadi mengerjakan tes penalaran kuantitatif, literasi bahasa Indonesia, penalaran matematika, dan bahasa Inggris,” ujar Piere.

Meski tersedia monitor khusus, Piere tetap harus mendekatkan mata kirinya ke layar dan mengetik jawaban uraian sambil meraba tombol keyboard. “Kalau pilihan tinggal klik saja, kalau uraian harus diketik jawabannya,” ucapnya.

Piere sebenarnya berharap ada fasilitas pembaca layar atau audio pada komputer agar lebih efisien dalam waktu dan fokus mengerjakan soal. “Saya lebih nyaman mendengarkan dengan screen reader. Tapi karena dikategorikan bukan disabilitas netra, jadinya dapat komputer seperti itu,” terangnya.

Ananda Premiera Febriano (19) sedang belajar untuk persiapan pelaksanaan mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di Kota Malang, Jawa Timur. Ia harus mendekatkan mata ke buku sehingga saat melihat dalam waktu lama bisa membuat pusing dan mata panas. (Project M/Idealita Ismanto).
Kartu tanda peserta Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) milik Piere di Kota Malang, Jawa Timur. (Project M/Idealita Ismanto).

Kendala lain muncul saat Piere menghadapi soal matematika. Panitia hanya menyediakan kertas buram untuk menghitung, karena Piere dianggap bukan termasuk disabilitas netra lantaran masih bisa memanfaatkan teknologi pembesaran layar.

”Harusnya kebutuhan low vision lebih diakomodasi, termasuk tingkat kesulitan soal. Jangan karena sudah ada alat bantu, lantas dianggap sama dengan yang tidak netra. Lebih baik ditanya dulu butuhnya apa, jangan dikategorikan sesuai aturan sendiri,” ujar Piere.

Untuk persiapan UTBK, Piere belajar menggunakan rangkuman audio sebagai bahan mandiri. Ia bersekolah di SMA Negeri 9 Malang, dan terbiasa memanfaatkan pembesaran layar di HP maupun mendekat ke papan tulis di kelas untuk memahami pelajaran.

Kaca  pembesar, alat bantu untuk membaca yang digunakan oleh Ananda Premiera Febriano. (Project M/Idealita Ismanto).

Satu ruangan dengan Piere, Ahmad Nashuha Hamid juga mengikuti UTBK dengan fasilitas serupa. Perbedaannya, Nashuha membutuhkan layar monitor lebih besar. Panitia lokal Universitas Brawijaya memfasilitasi dengan menukar monitornya dengan yang berukuran lebih besar dari ruangan lain.

”Sejauh ini tidak ada kendala, karena layarnya sudah disesuaikan. Untuk soalnya juga tidak terlalu sulit, tergantung orangnya,” tutur Nashuha.

Nashuha tidak terkendala waktu karena telah berlatih pola UTBK. Ia berharap ke depan panitia memfasilitasi monitor berukuran besar bagi peserta low vision, bukan hanya layar standar 14 atau 16 inci. “Untuk low vision yang parah, kalau bisa monitornya lebih besar seperti yang saya pakai, supaya lebih nyaman,” ucapnya.

Berbeda pengalaman yang dirasakan Nabili Iqbal Setiya Aji di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pemuda 20 tahun yang akrab disapa Iqbal ini menggunakan fasilitas screen reader, bukan pembesaran layar. Ia tidak kesulitan mengerjakan soal karena telah berlatih sungguh-sungguh.

Nabili Iqbal Seriya Aji (20), seorang disabilitas netra low vision sedang berbicara dengan pendampingnya saat pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Negeri Surabaya, pada tanggal 23 april 2026. (Project M/Idealita Ismanto).

Kendalanya ada pada keyboard yang beberapa tombolnya tidak berfungsi baik. Pendamping membantu saat Iqbal kesulitan mengoperasikannya. Selain itu, pembagian waktu per kategori soal membuatnya sempat melewatkan soal bahasa Inggris.

”Waktu sebenarnya tidak masalah. Tapi karena sempat ke-skip, untungnya dapat tambahan waktu,” ucap Iqbal, Kamis (23/4/2026).

Iqbal menyarankan agar UTBK tahun depan mengurangi shortcut keyboard yang terlalu banyak. “Tombol alt+a untuk kembali, alt+d untuk selanjutnya, mungkin bisa dikurangi atau dihilangkan, karena kurang efisien waktu,” sarannya.

Iqbal baru mengikuti UTBK setahun setelah lulus SMA karena tidak mendapat dukungan dari sekolah untuk mendaftar. Saat mencoba mendaftar ke perguruan tinggi swasta, ia ditolak karena statusnya sebagai disabilitas netra. Penglihatannya mulai melemah sejak usia 12 tahun dan semakin menurun pada usia 14 tahun. Kini, pandangannya hanya menyisakan bayangan objek tanpa bisa mengidentifikasi apa yang ada di hadapannya.

Selama satu tahun menunggu, Iqbal memperbanyak kursus, mulai dari pijat, pengajaran komputer bagi tunanetra, hingga pelatihan marketing yang diadakan Disnaker Jawa Timur dan Komdigi di Jakarta.

Nabili Iqbal Seriya Aji membantu perempuan tuna netra yang kesulitan mengoperasikan laptop untuk tuna netra di sebuah tempat kursus di Surabaya, Jawa Timur, April 2026). Iqbal juga belajar pijat di Yayasan Bina Tuntas. (Project M/Idealita Ismanto).

Masalah Kesetaraan Penyandang Disabilitas

Staf Sub Direktorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Mahalli, menyatakan selama dua tahun terakhir UTBK berjalan cukup lancar. Namun, fasilitas bagi penyandang disabilitas netra low vision masih perlu perhatian lebih.

Sejak 2024, pihaknya telah mengajukan rekomendasi terkait kebutuhan low vision dan disabilitas mental atau psikososial. Masalahnya, formulir pendaftaran tidak menyediakan pilihan untuk kategori ini, sehingga peserta terpaksa mendaftar sebagai peserta reguler.

”Di formulir tidak ada pilihan bahwa pendaftar adalah penyandang disabilitas mental, psikososial, maupun low vision. Sedangkan kami di layanan disabilitas didatangi teman-teman yang menyebut dirinya penyandang disabilitas, tapi ketika mendaftar harus mendaftar reguler,” papar Mahalli.

Untuk low vision, tidak ada perubahan kebijakan sejak 2024. Mereka mendapat fasilitas pembesaran layar hingga 300 kali, namun jumlah dan bobot soal tetap sama dengan peserta non-disabilitas. Padahal, peserta dengan disabilitas lain seperti daksa, tuli, bisu, dan tunanetra total mendapat soal dengan bobot dan jumlah berbeda.

”Panitia UTBK menganggap zoom besar sudah cukup, padahal teknologi bantu tidak menghilangkan kondisi disabilitas seseorang,” terang Mahalli.

Surat pernyataan dari Ananda Premiera Febriano yang menyatakan dirinya penyandang tunanetra dan memerlukan alat bantu khusus untuk mengikuti UTBK. (Project M/Idealita Ismanto).

Selain itu, pengoperasian pembesaran layar memerlukan empat tombol yang ditekan bersamaan, dan kadang menyebabkan layar restart. Saat ada peserta meminta monitor 27 inci, panitia lokal memfasilitasi dengan mengambil monitor dari ruangan lain.

Mahalli menegaskan, upaya mencegah kecurangan adalah hal baik, namun tidak boleh mengorbankan inklusi disabilitas. “Kalau low vision masih diberi perlakuan sama, itu bukan akomodasi, itu pemukulrataan. Padahal kecepatan membaca soal mereka sudah berkurang,” lanjutnya.

Mahalli menyatakan akan melaporkan catatan ini kepada Komisi Nasional Disabilitas agar memanggil penyelenggara UTBK untuk memperbaiki kebijakan terkait peserta low vision serta disabilitas mental dan psikososial.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPK), Tutus Setiawan, menjelaskan bahwa tunanetra adalah individu yang mengalami hambatan visual secara permanen dan membutuhkan alat bantu atau materi khusus dalam kehidupan sehari-hari. Secara garis besar, tunanetra dibagi dua: totally blind dan low vision.

Totally blind tidak bisa menerima cahaya sama sekali. Low vision masih bisa membedakan terang dan gelap, masih bisa mengidentifikasi adanya objek, sekecil apa pun sisa penglihatannya,” papar Tutus.

Tutus menegaskan, low vision tetap termasuk kategori tunanetra. Rentangnya sangat panjang dan kondisinya berbeda-beda tiap individu, sehingga layanan bagi low vision harus dibedakan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Jika low vision tidak dapat menggunakan braille, ia harus difasilitasi dengan large print agar tulisan bisa dibesarkan. Pemberian warna kontras pada alat bantu atau penunjuk jalan juga sangat membantu penyandang disabilitas netra low vision.

Low vision saat melihat dalam waktu lama bisa membuat pusing dan mata panas, sehingga memengaruhi cara dan waktu pengerjaan. Tentunya mereka lebih nyaman menggunakan screen reader,” ujar Tutus.

Ahmad Nashuha Hamid (19) sedang mengisi kuesioner setelah pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di Kota Malang, Jawa Timur, pada tanggal 26 April 2026. Tulisan besar, pemberian warna kontras pada alat bantu atau penunjuk jalan sangat membantu orang dengan disabilitas netra low vision. (Project M/Idealita Ismanto).

Tutus mendorong panitia ujian untuk melakukan penilaian kebutuhan sejak masa pendaftaran. “Harusnya ada assessment, ditanyai mereka lebih nyaman menggunakan yang mana. Tidak adil ketika ujian masuk perguruan tinggi, fasilitasnya tidak memadai,” ungkapnya.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Martadi, memastikan semua peserta UTBK termasuk yang disabilitas netra telah terlayani dengan baik. Ada empat peserta tunanetra total di Unesa, masing-masing didampingi pendamping khusus dan perangkat komputer berteknologi audio.

”Semuanya netra total, dan kami siapkan pendamping satu-satu, serta komputer dengan audio,” kata Martadi.

Peserta juga dilengkapi headphone, kertas, dan peralatan tulis braille untuk soal matematika. Mereka mendengarkan audio yang membacakan teks soal, tanpa tulisan di layar. “Kalau ada masalah teknis, pendamping baru membantu. Potensi pendamping tahu dan membantu sangat kecil,” tegas Martadi.

Perangkat komputer dengan fasilitas audio yang digunakan disabilitas netra saat pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) pada tanggal 23 April 2026 di Universitas Negeri Surabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur. (Project M/Idealita Ismanto).

Panitia juga menyiapkan komputer cadangan sebesar 50 persen dari jumlah peserta sebagai antisipasi kendala teknis. Untuk peserta low vision, perangkat khusus sudah disiapkan namun tidak digunakan karena tidak ada yang mendaftar tahun ini.

Eka Prismana, Koordinator TIK UTBK Unesa, menambahkan bahwa SNPMB bagi tunanetra menggunakan teknologi NVDA atau Non-Visual Desktop Access, yang menerjemahkan tampilan visual menjadi audio.

UTBK, Kesempatan Disabilitas Netra Gapai Cita

Tanpa perbaikan fasilitas, peluang penyandang disabilitas netra untuk lolos seleksi perguruan tinggi negeri bisa semakin sempit. Ketika waktu pengerjaan terbuang hanya karena antarmuka yang tidak ramah, atau soal yang tidak disesuaikan dengan kondisi penglihatannya, hasil ujian tidak lagi mencerminkan kemampuan sebenarnya. Cita-cita yang sudah dipersiapkan bertahun-tahun bisa kandas bukan karena kurang pintar, melainkan karena sistem yang belum adil.

Namun di balik segala kendala itu, para peserta tetap datang dengan harapan yang utuh. Sakinah Aliyah Bilbina dari Mojokerto, misalnya, mendaftar di jurusan Pendidikan Luar Biasa di Unesa dengan satu tujuan: menjadi guru bagi anak-anak tunanetra, termasuk mengajarkan keterampilan menulis huruf braille.

”Ada banyak anak-anak yang belum bisa braille, saya ingin mengajari mereka,” ucap Sakinah, ditemui usai menyelesaikan UTBK, Kamis (23/4/2026). Meski sempat mengalami kendala teknis pada komputer, petugas segera turun tangan mengatasinya.

Hal serupa dialami Fitrah, yang sempat menghadapi gangguan pada screen reader saat mengerjakan soal. Meski sempat khawatir, ujian tetap bisa diselesaikan. “Sempat tidak berfungsi, namun alhamdulillah lancar semua,” katanya. Fitrah berharap ke depan ada perbaikan sistem dan perangkat.

Veranica Imanuella dari Sidoarjo punya pengalaman lebih mulus. Panitia menyediakan reglet, stylus, dan kertas bufalo untuk soal matematika, dan ia mengaku tidak mengalami kendala berarti. Vera mendaftar di jurusan Ilmu Komunikasi, Sastra Indonesia, dan D4 Administrasi Negara. Setelah enam bulan persiapan, ia optimistis bisa diterima.

”Puji Tuhan semuanya lancar. Hanya soal penalaran yang agak menantang, selebihnya tidak ada kendala,” kata Vera.

Veranica (19), disabilitas netra low vision berjalan bersama pendamping setelah mengikuti  Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Negeri Surabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur. (Project M/Idealita Ismanto).

Harapan yang sama mendorong Piere dan Iqbal untuk terus melangkah. Bagi keduanya, UTBK bukan sekadar ujian, melainkan pintu menuju masa depan yang lebih baik, dan pintu itu harus benar-benar terbuka untuk semua.

”Cita-cita saya ingin jadi pengusaha F&B, juga membuka kursus musik piano bagi penyandang disabilitas. Selama ini kursus musik untuk orang biasa, belum ada yang untuk disabilitas netra,” ungkap Piere.

Iqbal pun tidak kalah teguh. “Cita-cita saya ingin jadi guru, yang penting bisa memperbaiki pola pikir anak muda dan sistem mengajar. Kalau bisa daftar CPNS,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.