Wed,20 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Kalau AI bisa instan menerjemahkan, buat apa belajar bahasa asing?

Kalau AI bisa instan menerjemahkan, buat apa belajar bahasa asing?

kalau-ai-bisa-instan-menerjemahkan,-buat-apa-belajar-bahasa-asing?
Kalau AI bisa instan menerjemahkan, buat apa belajar bahasa asing?
service

Teknologi semakin meruntuhkan sekat bahasa. Mulai dari penerjemah suara langsung dalam panggilan video hingga sulih suara otomatis (auto-dubbing) bisa dilakukan oleh penerjemahan waktu nyata (real-time) berbasis kecerdasan buatan (AI).

Perangkat besutan OpenAI, Meta, Google, serta berbagai korporasi lainnya kini menyajikan beragam fitur penerjemahan instan dalam puluhan bahasa, dengan kemampuan yang terus disempurnakan.

Pertanyaannya sekarang, jika mesin bisa menerjemahkan lebih cepat dan akurat, masih perlukah kita belajar bahasa asing yang memakan waktu bertahun-tahun?

Sejak dulu, manusia selalu mengalihkan beban kerja kognitif mereka kepada alat bantu. Kehadiran tulisan, misalnya, berhasil mengurangi beban memori kita. Sementara kalkulator digunakan untuk menghapus kerumitan berhitung secara mental.

Namun, memakai alat untuk memaksimalkan potensi diri berbeda dengan menggunakannya untuk menghindar dari proses berpikir sama sekali. Perbedaan ini menjadi sangat penting saat kita tidak lagi sekadar menggantikan suatu keahlian, melainkan menggeser bentuk keterlibatan kognitif dan budaya kita.

Tak ada pengetahuan tanpa usaha

Para psikolog menggunakan istilah “kesulitan yang diidamkan” (desirable difficulties) untuk menggambarkan tantangan yang mungkin terasa tidak efisien di awal, tapi mampu menghasilkan retensi ingatan dan pemahaman jangka panjang yang lebih kuat. Artinya, usaha berperan penting dalam cara kita memperoleh pengetahuan.

Proses bergelut dengan tata bahasa, mencari kata yang tepat, atau membangun makna di antara beberapa bahasa akan mengaktifkan jaringan otak yang mendukung memori, perhatian, serta fleksibilitas kognitif. Seiring berjalannya waktu, proses aktif ini akan memperkokoh pengetahuan secara jauh lebih mendalam.

Keterlibatan mental yang berkelanjutan bisa membantu mencapai apa yang disebut para peneliti sebagai resiliensi kognitif—kapasitas otak untuk mempertahankan fungsinya seiring bertambahnya usia. Menguasai dan mengelola beberapa bahasa merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental tersebut yang menuntut otak untuk menyelesaikan kompetisi linguistik, memantau konteks, dan beradaptasi secara dinamis.

Ini bukanlah tuntutan yang sepele. Semua itu sulit dicapai jika kamu hanya menggunakan alat penerjemah secara pasif.

Apa kata riset multilingualisme

Bukti ilmiah mengenai multilingualisme sering kali disederhanakan sebagai “keuntungan bilingual”. Istilah ringkas ini sayangnya mengaburkan realitas yang jauh lebih kompleks.

Beberapa studi melaporkan adanya manfaat terhadap atensi atau memori kerja. Namun, studi-studi lainnya justru tidak menemukan perbedaan sama sekali. Kenyataan yang ada tampaknya jauh lebih selektif dan situasional.

Studi terbaru kami menguji performa kognitif 94 orang dewasa (18-83 tahun), menggunakan tugas-tugas visuospatial (ruang-visual) dan auditori (pendengaran) yang mencakup aspek memori kerja, atensi, serta inhibisi.

Sederhananya, kami mengamati bagaimana seseorang memproses dan merespons informasi yang mereka lihat atau petakan secara mental, serta informasi yang mereka dengar. Contohnya meliputi kemampuan mengingat suara, fokus pada pola visual, hingga mengabaikan gangguan di sekitar.

Studi kami mengukur multilingualisme sebagai sebuah spektrum, bukan sekadar kategori kaku. Pendekatan ini memungkinkan kami untuk merekam beragam latar belakang dan pengalaman berbahasa yang berbeda.

Dalam studi ini, para partisipan multilingual menuturkan berbagai bahasa dengan tingkat kemahiran serta intensitas penggunaan sehari-hari yang bervariasi. Ini sekaligus mencerminkan keragaman linguistik yang lumrah dijumpai dalam komunitas multikultural.

Di sebagian besar tugas yang diujikan, performa kelompok multilingual dan monolingual (penutur satu bahasa) cenderung serupa.

Namun, ada satu pola yang sangat mencolok. Individu dengan pengalaman multilingual yang lebih kaya dan beragam menunjukkan performa yang jauh lebih unggul dalam memori kerja ruang-visual. Efek positif ini terlihat paling menonjol pada kelompok usia lanjut.

Ini menunjukkan bahwa pengalaman multilingual tidak serta-merta meningkatkan kemampuan kognitif secara luas, seperti yang sering diklaim berbagai tajuk berita. Sebaliknya, pengalaman tersebut tampaknya lebih berfungsi untuk membantu menjaga fungsi-fungsi kognitif spesifik seiring berjalannya waktu.

Penelitian terpisah di tingkat populasi juga mengaitkan kemampuan multilingual dengan kemunculan gejala penyakit Alzheimer yang lebih lambat serta kualitas penuaan yang secara keseluruhan lebih baik, meskipun mekanisme di balik fenomena ini masih terus diperdebatkan.


Read more: Semakin banyak menguasai bahasa, semakin kecil risiko penuaan dini


Apa yang tak mampu ditiru oleh penerjemah AI

Teknologi penerjemahan AI memang unggul dalam hal kecepatan dan aksesibilitas. Untuk berbagai keperluan praktis, teknologi ini bekerja dengan sangat baik.

Namun, AI beroperasi melalui pengenalan pola, bukan berdasarkan pemahaman nyata. AI bisa kesulitan saat berhadapan dengan konteks budaya, humor, ragam bahasa, serta makna yang terikat secara emosional—terutama pada bahasa-bahasa yang minim representasi dalam data pelatihannya.

Singkatnya, AI hanya mampu menangkap dimensi literal dari sebuah bahasa, sementara dimensi sosialnya kerap luput. Coba tengok salah satu adegan film Love Actually (2003), saat karakter Jamie yang diperankan oleh Colin Firth, melamar Aurelia dalam bahasa Portugis yang canggung dan terbata-bata.

Adegan itu terasa mengharukan justru karena adanya usaha keras, kerapuhan, dan ketulusan yang tersirat dari kata-katanya yang tidak sempurna. Jika kita mengandalkan perangkat lunak penerjemah instan, yang tersisa hanyalah pertukaran informasi kosong, bukan lagi ekspresi yang bermakna.

Mempelajari suatu bahasa berarti memahami bagaimana penuturnya berpikir, menghargai nilai-nilai mereka, serta melihat bagaimana makna dibentuk oleh konteks dan sejarah. Literasi budaya seperti ini hanya bisa tumbuh melalui interaksi dan pengalaman nyata.

Para partisipan multilingual dalam penelitian kami menyuarakan hal ini:

“Saya jelas berpikir dalam bahasa Telugu, tetapi saya mengingat angka dan berhitung menggunakan bahasa Inggris.”

“Afrikaans adalah bahasa hati saya dan paling cocok digunakan untuk mengekspresikan emosi yang mendalam. Sementara bahasa Inggris adalah bahasa bisnis dan lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.”

Ini bukanlah gambaran tentang sekadar beralih dari satu mode penerjemahan ke mode lainnya. Melainkan gambaran tentang bagaimana seseorang menghidupkan sisi kepribadian yang berbeda-beda.

AI akan terus mengubah cara kita berinteraksi dengan proses pembelajaran bahasa. Teknologi ini mampu mempersonalisasi metode pengajaran, meruntuhkan hambatan, hingga memberikan umpan balik secara massal.

Namun, apa yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah menggantikan kerja kognitif dan kultural yang lahir dari proses belajar bahasa secara mandiri. Kerja keras inilah yang membawa kita pada hubungan yang lebih mendalam tentang bagaimana orang lain memandang dunia, serta bagaimana kamu mengekspresikan diri.

Perbedaan itulah yang tetap bermakna hingga saat ini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.