Saat mendengar kata “NewJeans”, yang terlintas pertama di pikiranku adalah lagu-lagu grup idola asal Korea Selatan itu. Lagu mereka yang segar dan catchy untuk didengar seperti Hype Boy, Attention, Cookie, Ditto, dan masih banyak lagi, langsung terngiang di telinga.
Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Minji, Hanni, Danielle, Haerin dan Hyein ini memang dikenal dan disukai oleh banyak orang. Lagunya yang mencampur antara Pop, R&B, dan Hip-Hop memang menjadi pemikat banyak orang.
Namun, sebagian orang mengenal NewJeans mungkin bukan dari lagu-lagunya saja. Para perempuan muda ini belakangan juga dikenal atas sikap perlawanan mereka terhadap konflik industri K-pop yang menyeret mereka dalam ketidakadilan. Bahkan, saking berkesannya perjuangan mereka, kemudian lahir gerakan kolektif dari fandom penggemar NewJeans untuk isu-isu sosial yang lebih luas. Salah satunya ‘Kelinci Berontak’.
Singkatnya, pada 2024, konflik antara NewJeans dan HYBE yang merupakan induk perusahaan label mereka, ADOR, meledak ke publik. Pangkalnya adalah pemecatan Min Hee-jin, perempuan yang merancang seluruh konsep dan identitas NewJeans dari nol. HYBE menudingnya ingin memisahkan label dari perusahaan induknya.
NewJeans tidak terima. Mereka tampil dalam siaran langsung YouTube selama 34 menit, membeberkan pengabaian, perundungan, dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Hanni, salah satu anggota NewJeans bahkan membawa kesaksiannya ke Majelis Nasional Korea. Kemudian mereka menggelar konferensi pers dadakan dan memutus kontrak secara sepihak sebagai bentuk protes terhadap ADOR.
Sayang, yang terjadi setelahnya adalah pelajaran pahit tentang kerja relasi kuasa. Pengadilan memblokir semua aktivitas independen mereka, mengancam denda 1 miliar won per member per pelanggaran. Akhirnya, pada Oktober 2025, pengadilan memutuskan bahwa kontrak NewJeans dengan ADOR sah hingga 2029. NewJeans kalah di mata hukum, tapi perlawanan mereka mencetak sejarah di industri K-Pop yang sarat akan kepatuhan dan eksploitasi itu.
Setelah kurang-lebih satu tahun setelah putusan sidang NewJeans, aku dikenalkan dengan suatu akun fandom NewJeans yang kurasa unik. Biasanya akun fandom berisikan dukungan terhadap kegiatan idola, update kegiatan idola, foto atau video terbaru, dan banyak lagi. Namun akun ini berbeda.
Akun ini bernama @tokkitak_, yang menyebut dirinya ‘Kelinci Berontak’. Kelinci merujuk pada identitas visual NewJeans dan nama fandom mereka, Bunnies. Sementara “berontak” memberi arah yang lebih tegas, seolah sejak awal mereka sudah tahu arah pergerakannya. Akun ini aku temukan di X, namun setelah iseng mencarinya di Instagram aku juga mendapatinya dengan nama yang serupa.
Pada 15 Desember 2024, akun ini merilis sebuah manifesto kolektif. Bahasanya campur, santai sekaligus serius. Mereka memperkenalkan diri sebagai kelompok yang lahir dari kesadaran orang muda yang melihat ketimpangan di Indonesia. Mereka juga menyebut secara langsung soal “pemerintahan borjuasi” dan situasi yang mereka anggap semakin liar. NewJeans hadir di situ sebagai pemicu. Konflik mereka dengan HYBE dibaca sebagai bagian dari pola yang lebih besar, tentang bagaimana korporasi bekerja dan bagaimana kuasa dijalankan.
Di dalam manifesto itu, rasa suka terhadap NewJeans tetap terasa jelas. Mereka menulis tentang musik NewJeans yang segar, performa yang kuat, dan konsep yang membekas. Kedekatan itu tidak disembunyikan. Justru dari situ mereka mulai bergerak. Ada kesadaran bahwa menjadi penggemar tidak harus berarti mengikuti semua alur yang sudah disediakan industri.
Menariknya, mereka tidak mengunci diri pada satu label ideologi. Ada deretan istilah yang disebut, dari sosialis sampai anarkis, tapi semuanya dibiarkan terbuka. Mereka memilih tetap ambigu, sambil menegaskan satu posisi yang mereka pegang, keberpihakan pada mereka yang tertindas.
Beberapa hari setelah manifesto itu, pada 22 Desember 2024, mereka meluncurkan “PERPUS ONLEN”. Sebuah ruang penyimpanan digital berisi buku dan tulisan yang bisa diakses bebas. Isinya beragam, dari buku, artikel, esai, sampai materi yang bisa digunakan untuk memahami isu sosial dan politik. Mereka mengatakan dalam cuitan di X, “Perpustakaan Online dengan bentuk Gdrive ini adalah gerakan resistensi radikal ilegalis, kami meyakini bahwa literasi adalah akses penting yang harus, kami katakan sekali lagi, harus, sepenuhnya dimiliki oleh semua kalangan.”

Mereka juga meyakini dengan akses gratis seperti ini, mereka dapat memperluas pentingnya akses literasi yang mudah. Da dengan mantap dapat membuka mata pembaca terkait seberapa busuk sistem kapitalisme.
Ada sesuatu yang berubah di sini. Aktivitas fandom yang biasanya berputar di sekitar konten idola mulai bersinggungan dengan produksi dan distribusi pengetahuan. Linimasa yang sebelumnya ringan menjadi lebih padat, tanpa sepenuhnya kehilangan identitas awalnya.
Gerakan mereka juga meluas ke isu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat tagar #ResetIndonesia ramai Agustus 2025 lalu, Kelinci Berontak ikut merespons. Mereka membuat visual dengan elemen khas NewJeans, kelinci-kelinci kecil yang selama ini identik dengan sesuatu yang lucu, tapi ditempatkan dalam konteks yang lebih serius. Ada upaya untuk menyambungkan pengalaman sebagai penggemar dengan situasi yang mereka hadapi sebagai warga.

Di platform X, langkah mereka terasa lebih konfrontatif. Mereka mengajak pengikutnya untuk menyebarkan ulang karya-karya NewJeans di luar jalur resmi. Lagu, video musik, hingga penampilan live dibagikan ulang, disertai ajakan untuk tidak lagi mengaksesnya melalui kanal yang terhubung dengan agensi. Pilihan ini jelas memancing perdebatan. Di satu sisi ada pertanyaan soal legalitas, di sisi lain ada dorongan untuk mengambil jarak dari sistem yang mereka anggap bermasalah.

Melihat cara mereka bergerak, Kelinci Berontak terasa seperti kolektif kecil yang tumbuh di dalam ruang fandom. Tidak selalu rapi, kadang kontradiktif, tapi terus berjalan. Mereka memanfaatkan kedekatan emosional dengan idola sebagai titik awal, lalu memperluasnya menjadi percakapan tentang hal-hal yang lebih besar.
Yang membuatnya menarik, semua ini berangkat dari sesuatu yang sederhana. Lagu-lagu yang diputar berulang, video yang ditonton berkali-kali, rasa suka yang pelan-pelan membentuk kebiasaan. Dari situ, muncul keinginan untuk memahami lebih jauh, lalu berbagi dengan orang lain. Ada proses yang berjalan tanpa banyak disadari, dari menikmati menjadi mempertanyakan.
Fenomena ini memperlihatkan kemungkinan lain tentang bagaimana komunitas terbentuk. Orang-orang datang karena alasan yang sama, lalu menemukan alasan baru untuk bertahan. Dalam proses itu, ruang fandom berubah bentuk, mengikuti percakapan yang terus berkembang di dalamnya.
Fandom K-Pop selama ini sering dikritik sebagai komunitas yang konsumtif dan parasosial. Namun hadirnya Kelinci Berontak mematahkan stigma itu. Tapi penting juga untuk tidak terlalu cepat meromantisasi ini.
Ada pertanyaan yang layak diajukan. “Apakah gerakan seperti ini bertahan ketika kasusnya semakin ‘basi’?” Fandom bergerak karena ada idola yang menjadi titik fokus. Lantas, ketika idola itu sudah kembali ke panggung, sudah berdamai, sudah merilis album baru, apakah energi perlawanannya akan ikut menguap? Apakah ini sustained activism, atau sekadar satu babak dari siklus hype yang panjang?
Kelinci Berontak sendiri sepertinya sadar akan risiko itu. Manifesto mereka tidak hanya bicara tentang NewJeans tapi juga tentang ketimpangan yang jauh lebih luas. NewJeans adalah pemicu, bukan tujuan akhir. Apakah itu cukup untuk membuat gerakannya bertahan melewati satu siklus berita, hanya waktu yang bisa menjawab.

Melihat cara mereka bergerak, Kelinci Berontak terasa seperti kolektif kecil yang tumbuh di dalam ruang fandom. Tidak selalu rapi, kadang kontradiktif, tapi terus berjalan. Mereka memanfaatkan kedekatan emosional dengan idola sebagai titik awal, lalu memperluasnya menjadi percakapan tentang hal-hal yang lebih besar.
Yang membuatnya menarik, semua ini berangkat dari sesuatu yang sederhana. Lagu-lagu yang diputar berulang, video yang ditonton berkali-kali, rasa suka yang pelan-pelan membentuk kebiasaan. Dari situ, muncul keinginan untuk memahami lebih jauh, lalu berbagi dengan orang lain. Ada proses yang berjalan tanpa banyak disadari dari menikmati menjadi mempertanyakan.
Ini yang seharusnya bisa dipelajari oleh komunitas-komunitas lain seperti fandom sepak bola, fandom film, fandom literatur, siapapun yang punya basis penggemar dengan energi kolektif yang besar. Energi itu sudah ada. Infrastrukturnya sudah ada seperti grup, akun, jaringan, kebiasaan bergerak bersama. Yang kadang belum ada adalah arahnya.
Kelinci Berontak memberikan satu contoh tentang bagaimana arah itu bisa ditemukan dan bukan dengan meninggalkan identitas aslinya sebagai fandom, tapi justru dengan memperdalam apa artinya mencintai sesuatu di dunia yang tidak adil.





Comments are closed.