Bagi Dela Mawar, hutan bukan cuma tempat tinggal satwa liar, tapi juga bagian dari hidupnya sejak kecil. Perempuan asal Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memilih jalan yang jarang dilirik banyak anak muda: menjadi animal keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam.
Setiap pagi, Mawar memulai hari dengan rutinitas yang padat. Menyiapkan pakan, membersihkan kandang, hingga merawat sejumlah bayi orangutan yang membutuhkan perhatian intensif. Di tangannya, botol susu bukan sekadar alat makan, tapi bentuk kasih sayang untuk bayi-bayi mungil yang kehilangan induknya akibat kerusakan hutan.
Menurut Mawar, tantangan terbesar bukan hanya soal tenaga merawat, tetapi menghadapi trauma para bayi orangutan. Banyak dari mereka datang dalam kondisi stres setelah terpisah dari induknya. Karena itu, para keeper harus siap mendampingi hampir 24 jam, terutama saat mereka sakit atau mengalami gangguan kesehatan seperti diare.
Kedekatan Mawar dengan satwa liar, tumbuh dari keluarganya yang memang mencintai hidupan liar. Dia juga terinspirasi dari dua pamannya yang bekerja di dunia konservasi. Namun, ada alasan lain yang membuatnya bertahan: ingin melihat sendiri bagaimana hutan di kampungnya kembali hijau. Dulu satwa liar mudah ditemukan, sekarang semakin sulit karena deforestasi dan pembukaan lahan.
Di tengah kondisi itu, Mawar memilih tetap tinggal dan menjaga satwa-satwa tersisa. Bukan demi popularitas, tapi karena dia percaya generasi berikutnya masih berhak melihat hutan Kalimantan yang utuh dan orangutan hidup bebas di alamnya.





Comments are closed.