Di banyak kawasan pesisir Indonesia, malam tidak lagi identik dengan suara ombak dan angin. Wilayah seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, dan sebagian pesisir Jawa Timur, pantai telah menjadi ruang hiburan dan wisata malam. Bagi manusia, suasana ini dianggap sebagai tanda ekonomi bergerak. Namun, bagi penyu, kebisingan dapat menjadi tekanan ekologis yang memengaruhi perilaku, fisiologi, dan keberhasilan reproduksi (Duarte et al., 2021).
Penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, penyu belimbing, dan penyu tempayan menggunakan wilayah Indonesia sebagai tempat bertelur, mencari makan, maupun bermigrasi. Posisi ini menjadikan Indonesia sangat strategis dalam agenda konservasi penyu di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus sebagai kawasan penting pengembangan riset dan kebijakan konservasi penyu di masa depan (Robinson et al., 2023).
Sejauh ini, isu gangguan kebisingan belum banyak dibahas secara eksplisit. Perhatian publik lebih tertuju pada perburuan telur, sampah plastik, cahaya buatan, dan kerusakan habitat. Semua itu penting, namun perkembangan wisata pantai, meningkatnya aktivitas malam, penggunaan pengeras suara, dan keramaian publik menunjukkan bahwa tekanan akustik di habitat peneluran berpotensi meningkat.

Penyu dan lanskap akustik
Penyu berevolusi dalam lingkungan pesisir yang didominasi suara alami. Gelombang, angin, dan dinamika perairan membentuk lanskap akustik relatif stabil. Banyak satwa memanfaatkan isyarat lingkungan untuk mengambil keputusan perilaku, termasuk kapan bergerak, ke mana menuju, dan kapan menghindari ancaman (Duarte et al., 2021). Ketika lanskap suara alami berubah, kualitas informasi lingkungan juga ikut terdampak.
Kemampuan penyu kembali ke wilayah peneluran merupakan proses navigasi yang kompleks. Penelitian menunjukkan, penyu memanfaatkan kombinasi petunjuk lingkungan seperti medan magnet bumi, arus laut, dan isyarat kimia untuk kembali ke area natalnya (natal homing) yang merupakan tempat lahirnya. Karakter alami habitat pesisir, termasuk lanskap suara pantai, diduga ikut menjadi bagian dari informasi yang dikenali satwa ini (Fuad et al., 2024).
Ketika kebisingan meningkat, kondisi ini berpotensi mengganggu orientasi, meningkatkan stres, menunda pendaratan, hingga menurunkan keberhasilan peneluran penyu.

Habitat peneluran
Pantai peneluran adalah habitat sensitif. Induk penyu membutuhkan kondisi aman saat naik ke darat untuk bertelur. Gangguan manusia dapat menyebabkan penyu membatalkan proses peneluran dan kembali ke laut. Fenomena ini meningkatkan risiko hilangnya kesempatan reproduksi pada musim tersebut (Sulochanan et al., 2025).
Dampak juga tidak berhenti pada induk penyu. Setelah menetas, tukik harus segera bergerak menuju laut. Waktu tempuh sangat penting karena keterlambatan meningkatkan peluang predasi, dehidrasi, dan kelelahan. Gangguan suara yang muncul bersamaan dengan cahaya, keramaian, dan perubahan habitat dapat memperbesar tekanan pada fase awal kehidupan ini (Maeda et al., 2024).
Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada cahaya buatan. Memang benar, cahaya malam dapat menyebabkan disorientasi pada tukik dan mengganggu induk bertelur. Namun, kebisingan berpotensi bekerja bersamaan dengan cahaya, keramaian, dan lalu lintas manusia sebagai tekanan majemuk pada habitat peneluran (Ikegwu et al., 2025).
Menunggu sampai gangguan ini terdokumentasi secara luas bisa menjadi langkah terlambat. Dalam konservasi, banyak kerusakan baru disadari setelah satwa berhenti datang. Untuk itu, pendekatan pencegahan jauh lebih penting ketimbang menunggu terjadi di lapangan.

Apa yang perlu dilakukan?
Di Indonesia, banyak kawasan pantai berkembang cepat sebagai ruang wisata, transportasi, dan permukiman. Pada sejumlah lokasi, pertumbuhan ekonomi pesisir berjalan lebih cepat dibandingkan integrasi prinsip konservasi habitat (UNEP, 2021).
Aktivitas wisata tetap dapat berjalan jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan. Pantai yang sehat memberi manfaat lebih panjang bagi masyarakat pesisir, pelaku usaha, dan pemerintah daerah.
Pesisir Indonesia perlu dikelola dengan memasukkan dimensi akustik:
- Menetapkan zona tenang di area peneluran malam hari.
- Mengatur penggunaan pengeras suara dan acara hiburan di kawasan sensitif.
- Membatasi kendaraan bermotor di pantai saat musim peneluran dan penetasan.
- Memasang sistem pemantauan kebisingan sebagai indikator kualitas habitat.
- Melibatkan masyarakat, pelaku wisata, dan pengelola kawasan dalam aturan bersama.
- Mengintegrasikan data suara, cahaya, dan aktivitas manusia dalam rencana pengelolaan pesisir.
- Memasukkan indikator gangguan akustik dalam evaluasi kawasan konservasi pesisir.

Menjaga sunyi, menjaga masa depan penyu
Persoalan memastikan induk penyu masih memiliki pantai yang aman, gelap, dan cukup tenang untuk bertelur harus menjadi perhatian penuh. Konservasi perlu menjaga proses ekologis, bukan hanya simbolnya.
Masa depan penyu di Indonesia ditentukan oleh keputusan yang dibuat hari ini, di kawasan pesisir. Ketika pantai menjadi terlalu terang, terlalu ramai, dan terlalu bising, penyu bisa kehilangan rumah alaminya perlahan.
Jika pantai terus kehilangan ketenangan, penyu mungkin tidak akan pergi sekaligus. Mereka hanya berhenti datang.
Selamat Hari Kura-kura dan Penyu Sedunia.
* Yayuk Sugianti, Peneliti Kelompok Riset Biologi Interaksi di Pusat Riset Sistem Biota, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tulisan ini opini penulis.
Referensi
Duarte, C. M., Chapuis, L., Collin, S. P., Costa, D. P., Devassy, R. P., Eguiluz, V. M., Erbe, C., Gordon, T.A.C., Halpern, B.S., Harding, H.R., Havlik, M.H., Meekan, M., Merchant, N.D., Miksis-Olds, J.L., Parsons, M., Predragovic, M., Radford, A.N., Radford, C.A., Simpson, S.D., Slabbekoorn, H., Staaterman, E., Van Opzeeland, I.C., Winderen, J., Zhang, X., & Juanes, F. (2021). The soundscape of the Anthropocene ocean. Science, 371(6529), eaba4658.
Ikegwu, C. M., Sastranegara, M. H., & Nuryanto, A. (2025). Ecological dynamics and conservation challenges of sea turtle nesting habitats in Turtle Bay of Cilacap, Indonesia. Asian Journal of Conservation Biology, 14(1), 98-104.
Maeda, Y., Nishizawa, H., Kondo, S., Ijichi, T., & Ichikawa, K. (2024). Effect of noise on sand digging and emergence activities in green turtle (Chelonia mydas) hatchlings. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, 570, 151974. DOI: 10.1016/j.jembe.2023.151974.
Robinson, N. J., Aguzzi, J., Arias, S., Gatto, C., Mills, S. K., Monte, A., St. Andrews, S., Yaney-Keller, A., & Tomillo, P. S. (2023). Global trends in sea turtle research and conservation: Using symposium abstracts to assess past biases and future opportunities. Global Ecology and Conservation, 47, e02587. DOI: 10.1016/j.gecco.2023.e02587.
Sulochanan, B., Shettigar, V., Thomas, S., Padua, S., & Sobhana, K. S. (2025). Anthropogenic and climate driven threats to sea turtle habitats on Karnataka’s Coastline. Regional Studies in Marine Science, 91, 104539. DOI: 10.1016/j.rsma.2025.104539
*****





Comments are closed.