Dengarkan artikel ini:
Di balik dua jam pertemuan di Istana, bukan hanya keakraban yang dibangun. Ada sinyal yang lebih dingin, lebih terencana, dan belum pernah dibaca publik dengan cara ini. Kita akan menyelami apakah Megawati melakukan “Mixed Feelings” kepada Prabowo?
Maret 2026. Megawati terbang dari Bali ke Jakarta, menerima undangan pribadi untuk bertemu Prabowo berdua di Istana. Tidak ada forum ramai, tidak ada Jokowi atau SBY di meja yang sama. Megawati memang memilih kondisi itu: ketika undangan awal datang dalam satu forum bersama nama-nama itu, ia tidak hadir. Undangan terpisah, hanya berdua, adalah yang ia terima. Dua jam. Tiga narasumber yang terlibat langsung dalam mengatur pertemuan itu bercerita kepada Tempo: tidak ada substansi terkini yang dibahas. Yang diperbincangkan adalah hubungan Soekarno dengan Iran, dan konflik Iran di era Megawati tahun 2004. Dua jam, tanpa satu pun keputusan konkret.
Rabu, 20 Mei 2026, Prabowo berdiri di podium Gedung Parlemen Senayan. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada PDIP. Saudara berjasa untuk demokrasi kita,” katanya kepada anggota parlemen yang hadir. Ini merupakan tanda politik yang segar bagi sang “penyeimbang kekuasaan”
Cara Kritik Diatur
Adian Napitupulu dipindah dari Komisi V ke Komisi X. Rieke Diah Pitaloka dari Komisi VI ke Komisi XIII.
Bagi yang mengikuti dinamika DPR, dua nama ini bukan rotasi biasa. Adian adalah wajah yang paling sering disebut lingkaran istana ketika membicarakan unsur-unsur yang memanas di demonstrasi Agustus 2025. Ia turun langsung ke komunitas ojek online ketika demonstrasi sedang memuncak, dan gerakan itu kemudian dibaca sebagai provokasi oleh istana. Rieke, di sisi lain, adalah suara paling konsisten soal BUMN dan kebijakan ekonomi pemerintah. Komisinya adalah arena di mana banyak program prioritas Prabowo diuji secara legislatif. Yang menjadi masalah bukan kemampuan mereka bekerja, tetapi dampak politik yang ditimbulkan ketika kritik itu terlalu keras terdengar.
Di dalam tubuh PDIP, rotasi ini dibaca sebagai pesan. Bukan untuk kader yang dipindah saja, tetapi untuk seluruh fraksi. Setiap kritik yang hendak disampaikan ke publik harus dikomunikasikan terlebih dahulu ke pihak yang tepat. Ada yang disebut “alarm lantai 4” yang aktif tiap kali PDIP menyerang Prabowo secara langsung. Kader yang melangkahi batas menghadapi risiko nyata: telepon peringatan, permintaan menurunkan konten media sosial, perpindahan komisi. Adian sendiri, sebelum rotasi ini, sudah berpindah komisi enam kali.
PDIP hari ini menjalankan dua panggung sekaligus: satu untuk publik, satu lagi untuk para elite yang justru menentukan ruang geraknya. Di panggung publik, PDIP tampil kritis, agenda pertama rapat DPP adalah mengkaji kebijakan pemerintah, dan jutaan pemilih yang mempercayai lambang banteng membaca itu sebagai bukti identitas. Di panggung yang tidak terlihat kamera, setiap langkah diukur dan setiap serangan dikalibrasi.
Di PDIP, kritik bukan lagi sekadar soal isi. Tetapi soal siapa yang mengizinkan kritik itu bergerak keluar. Di internal partai, hampir semua keputusan strategis akhirnya bergerak melewati satu pusat kendali yang sama: situation room yang dikelola Prananda Prabowo, putra Megawati dari pernikahan pertamanya.
Prabowo Bukan Musuh PDIP, “Mantan Kader” adalah Musuh PDIP
Narasi dominan membingkai hubungan Megawati-Prabowo sebagai drama dua rival yang sesekali berdamai. Pembacaan itu menempatkan Prabowo sebagai ancaman utama yang perlu dikelola.
Dalam Kongres PDIP 2025, ada upaya yang diendus partai, sebuah dorongan dari orbit di luar untuk menggeser Megawati dari kursi ketua umum, tercium seperti yang orkestrasi adalah sang “mantan kader”. Asalnya jelas bukan dari Prabowo. Megawati tidak memilih bertemu Prabowo secara terpisah untuk menghindari konflik. Ia memilih bertemu secara terpisah karena memilih siapa yang ada di ruangan bersamanya, dan siapa yang tidak.
Menjaga pintu tetap terbuka ke Istana, dalam konteks itu, bukan tanda kelemahan.
Amnesti yang diberikan Prabowo kepada Hasto Kristiyanto dibaca oleh seluruh elite PDIP dengan cara yang sama: bahwa konflik politik bisa berubah menjadi “tekanan” dalam bentuk hukum jauh lebih cepat dari yang dikira. Bukan hanya Hasto yang menyesuaikan diri. Seluruh struktur partai membaca sinyal itu dan menarik kesimpulan yang serupa.
Selama pertemuan berlangsung, Prabowo sempat meminta PDIP mendukung kondusivitas pemerintahan. Megawati menjawab bahwa PDIP akan mendukung dari luar hingga 2029. Posisi formal tidak berubah.
Sekarang, Prabowo adalah kunci Megawati untuk dilindungi dari sang “mantan kader”. Maka dari itu, Megawati dan partainya perlu memainkan strategi politik yang kita lihat sekarang.
Ketika Garis Partai Tidak Lagi Tegak
Kader yang paling keras mengkritik program MBG ternyata sudah memiliki dapur MBG sebelum partai secara resmi melarangnya pada 24 Februari 2026. DPP terpaksa mengeluarkan surat resmi. Di lapangan, kader yang sudah terlanjur mengelola titik dapur itu berada di antara tekanan lokal dan instruksi pusat. Di titik itu, wajah publik dan wajah elite berbenturan secara nyata, dan partai harus memilih mana yang lebih dulu diselamatkan.
Ke publik, PDIP mempertahankan identitas kritisnya. Ke Prabowo, ada skema-skema yang diatur dan dikomunikasikan. Tidak suka? Selamat datang di politik.
Selama sepuluh tahun berkuasa, PDIP beroperasi dalam sistem di mana oposisi bisa dibatasi melalui tekanan informal, patronase menjadi alat kendali, dan kasus hukum bisa berubah fungsi menjadi instrumen politik. Mekanisme “alarm lantai 4,” tekanan rotasi komisi, sinyal lewat jalur hukum, semua itu bukan hal baru.
Mereka sedang berhadapan dengan logika yang sangat mereka kenali dari dalam, karena selama satu dekade mereka ikut menjalankannya. PDIP memahami batas-batas itu terlalu baik untuk benar-benar bergerak seperti oposisi biasa.
PDIP yang hari ini tampak abu-abu bukan partai yang kehilangan kompas. Yang tengah berjalan adalah respons dari organisasi yang memahami bahwa bertahan dalam sistem adalah syarat pertama sebelum bisa mengubah sesuatu di dalamnya.
Karena bagi partai yang pernah berada di pusat kekuasaan, tetap berada di dalam orbit sering kali lebih penting daripada terlihat paling keras di luar.
Sekarang terjawab bahwa apa yang dilakukan Megawati bukan mixed feelings, tetapi mixed political tactics. (A99)





Comments are closed.