Ditulis oleh Desty Luthfiani •
KABARBURSA.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan jumlah perusahaan yang berada dalam pipeline initial public offering (IPO) atau pencatatan saham perdana masih bertahan sebanyak 15 perusahaan hingga 22 Mei 2026.
Pipeline sendiri merupakan daftar perusahaan yang sedang menjalani proses menuju aksi korporasi di pasar modal, baik IPO saham, penerbitan obligasi dan sukuk, maupun rights issue.
Emiten yang masuk pipeline umumnya masih berada dalam tahap evaluasi regulator, penyampaian dokumen, due diligence, hingga proses penawaran umum sebelum resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan hingga saat ini masih terdapat 15 perusahaan dalam antrean pencatatan saham di BEI.
“Per 22 Mei 2026 terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangan tertulis, Minggu , 24 Mei 2026.
BEI mencatat hingga 22 Mei 2026 baru terdapat satu perusahaan yang resmi mencatatkan saham dengan dana dihimpun sebesar Rp0,30 triliun. Emiten tersebut adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk dengan kode saham WBSA yang tercatat pada 10 April 2026.
Merujuk pada klasifikasi aset perusahaan berdasarkan POJK Nomor 53/POJK.04/2017, sebanyak 11 perusahaan dalam pipeline IPO merupakan perusahaan aset skala besar dengan total aset di atas Rp250 miliar.
Sementara itu, empat lainnya merupakan perusahaan aset skala menengah dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak terdapat perusahaan aset skala kecil atau aset di bawah Rp50 miliar dalam antrean IPO kali ini.
Berdasarkan klasifikasi sektornya, sektor consumer cyclicals menjadi salah satu penyumbang terbesar antrean IPO dengan tiga perusahaan atau sekitar 20 persen dari total pipeline. Jumlah yang sama juga berasal dari sektor consumer non-cyclicals dan healthcare.
Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor infrastructures dan dua perusahaan dari sektor technology. Adapun sektor energy dan financials masing-masing menyumbang satu perusahaan dalam pipeline IPO tahun ini.
Selain IPO saham, aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen obligasi dan sukuk atau efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) juga masih cukup ramai sepanjang tahun ini. Hingga 22 Mei 2026, telah diterbitkan 62 emisi dari 40 penerbit EBUS dengan total dana dihimpun mencapai Rp68,10 triliun.
Sementara itu, terdapat 47 emisi dari 33 penerbit EBUS yang saat ini masih berada dalam pipeline penerbitan. Sektor financials mendominasi antrean obligasi dengan 12 perusahaan atau sekitar 36,2 persen dari total pipeline obligasi.
Posisi berikutnya ditempati sektor infrastructures dengan tujuh perusahaan atau sekitar 19,1 persen, disusul sektor energy sebanyak enam perusahaan atau sekitar 14,9 persen. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor basic materials, dua perusahaan sektor consumer non-cyclicals, dua perusahaan sektor industrials, satu perusahaan sektor healthcare, dan satu perusahaan sektor technology.
Di sisi lain, untuk aksi korporasi rights issue, hingga 22 Mei 2026 telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun.
Saat ini masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI yang berasal dari sektor properties and real estate.(*)





Comments are closed.