Di atas tanah perbukitan di Lombok Utara yang basah setelah hujan, sejumlah pemuda menelusuri lahan-lahan yang baru ditanami padi dan jagung, akhir Januari. Salah seorang adalah Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram yang tengah berdebat dengan rekannya, Baiq Chelsea. Mereka berdebat tentang nama tanaman di depannya itu dalam bahasa Indonesia karena hanya mengingat dalam bahasa lokal (Sasak). Itu pun samar. Mereka mencoba mengambil foto daun tanaman itu, lalu memasukkan ke dalam mesin pencari Google. Beberapa pilihan muncul, tapi tetap saja mereka ragu. Kebingungan serupa juga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian Bayan alami. Beberapa tanaman mereka kenal karena masih dijumpai di pasar seperti lomak (talas), singkong, lebui, komak atau kacang kara (Lablab purpureus). Nelda Hannia, dari Dewan Kebudayaan Lombok Utara, penanggung jawab kegiatan mengeluarkan semangkuk biji-bijian. Dia meminta para peserta yang ikut dalam kegiatan bertajuk “Lacak Jejak Pangan Lokal” itu menebak nama biji-bijian itu. Hasilnya, tak ada yang bisa. Dia lantas menyebut nama beleleng, yang tak lain adalah nama lokal sorgum. Menurutn dia, ada enam jenis sorgum yang hingga kini masih ditanam warga adat di Lombok Utara, terutama di kebun dan tanah pecatu. Hari itu, Randika dan Chelsea memang datang wilayah adat Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat untuk mendata jenis tanaman pangan di tanah pecatu/tanah adat. Indriyatno (baju putih), dosen Kehutanan Universitas Mataram menjelaskan potensi pangan lokal Lombok pada tamu dari asesor UNESCO, dia mejanya disajikan langsung contoh pangan lokal itu.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia. Di lahan pecatu, tanah titipan adat yang dikelola untuk kepentingan ritual,…This article was originally published on Mongabay
Ketika Anak Muda Lombok Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat
Ketika Anak Muda Lombok Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat





Comments are closed.