Bukan karena ceritanya semata, tapi karena ruangnya seperti tidak memberi jeda. Tidak ada suara lain yang “mengganggu” ritme itu dalam film Ghost in the Cell.
Di situlah, diam-diam, film ini jadi terasa lebih dari sekadar tontonan. Ia seperti eksperimen sosial tentang apa yang terjadi ketika satu jenis kuasa, satu saja, dibiarkan berdiri sendirian.
Sebelum masuk lebih jauh, mari kita sepakati bersama bahwa tidak ada kalimat lain tentang film Ghost in the Cell selain: film ini bagus! Sangat bagus, bahkan.
Sebagai orang yang bergelut di dunia hukum, terutama yang sedikit banyak memahami dinamika lapas, saya melihat ada kedalaman yang tidak main-main dalam cara film ini menggambarkan relasi kuasa, kontrol, dan ketegangan yang hidup di ruang tertutup seperti… penjara.
Di Balik Tembok Lapas Laki-Laki, Ada Hukum Tak Tertulis dan Chaos yang Terbiasa
Singkatnya, terlepas dari genre horror khas Joko Anwar, film Ghost in the Cell membawa kita masuk ke dunia lapas yang keras. Para napi hidup dalam sistem yang tidak hanya diatur oleh hukum formal, tetapi juga oleh “hukum tidak tertulis” yang justru seringkali lebih menentukan.
Hierarki, aliansi, pengkhianatan, kekerasan dan negosiasi kuasa terjadi hampir di setiap sudut. Negara mungkin hadir lewat tembok dan aturan, tapi jauh di dalamnya, ada dunia lain yang punya logika sendiri, dan di dunia itu, hampir tidak ada perempuan. (Ya perempuan memang ada lapasnya sendiri sih…)
Namun konteks bahasan tulisan ini adalah dari perspektif film Ghost in the Cell, tentang lapas khusus laki-laki. Nah, di sini mulai menarik.
Baca Juga: ‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams’: Bukti Tidak Mudah Menggabung Isu Sosial dan Superhero
Ketiadaan perempuan dalam film ini bisa saja dibaca sebagai sesuatu yang “biasa”, toh banyak lapas memang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Toh lapas perempuan (bisa jadi) sama kacaunya dengan lapas laki-laki. Atau mungkin lebih kacau? Bayangkan sebuah ruang yang hanya diisi oleh satu jenis cara pandang. Hasilnya? Bukan keseimbangan, tapi justru repetisi. Pola yang sama terus diulang.
Sebagai orang hukum, saya tidak bisa tidak melihat ini sebagai refleksi yang cukup dekat dengan realitas. Lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman. Ia adalah ruang sosial yang kompleks, di mana negara, kekuasaan informal, dan dinamika antarindividu bertemu.
Ketika pengawasan lemah dan struktur tidak berjalan ideal, maka yang muncul adalah “aturan lain” yang sering kali jauh dari prinsip keadilan. Ghost in the Cell menangkap itu dengan sangat jujur. Tapi di saat yang sama, ia juga membuka ruang tafsir lain: bagaimana kalau chaos ini bukan sekadar soal sistem lapas, tapi juga soal dunia yang terlalu lama berjalan tanpa keberagaman perspektif?
Jadi, Kalau Semua Tokohnya Diganti Perempuan… Apa Yang Benar-Benar Berubah?”
Sampai di titik ini, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar bagaimana sistem lapas bekerja, tetapi bagaimana sebuah ruang sosial berubah ketika hanya diisi oleh satu jenis perspektif. Apakah chaos ini lahir dari sistemnya, atau dari ketiadaan keberagaman di dalamnya?
Pertanyaan ini mengingatkan saya pada novel fiksi favorit saya, The School for Good and Evil: A World Without Prince karya Soman Chainani. Dalam seri kedua, novel ini membayangkan dunia di mana perempuan tidak lagi bergantung pada pangeran. Mereka berdiri sendiri, bahkan menjadi “maskulin” dalam arti tidak membutuhkan validasi dari laki-laki. Menariknya, dunia tanpa pangeran di sana tidak otomatis jadi kacau. Justru, ia membuka kemungkinan baru: perempuan mendefinisikan dirinya sendiri, di luar skrip lama yang selama ini mengikat.
Bandingkan dengan Ghost in the Cell. Di sini, laki-laki hanya berhadapan dengan sesamanya. Kuasa diperebutkan, dipertahankan, dan dipertukarkan dengan cara yang relatif seragam. Tidak ada interupsi. Apakah ini berarti laki-laki identik dengan chaos? Tentu tidak sesederhana itu. Masalahnya bukan pada laki-laki sebagai individu, tapi pada sistem yang terlalu lama dibangun dengan satu logika: dominasi. Ketika satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menguasai, maka kekerasan, baik simbolik maupun nyata, akan menjadi sesuatu yang dianggap wajar.
Di tengah semua itu, muncul juga obrolan dari postingan-postingan yang cukup seru di media sosial: “bagaimana kalau ada Ghost in the Cell dibuat versi perempuannya?” Dengan fancast seperti Dian Sastrowardoyo atau Christine Hakim. Jujur, ini menarik banget untuk dibayangkan. Tapi saya jadi ingin lempar pertanyaan balik, kalau tokohnya diganti perempuan, apakah dunianya otomatis berubah? Belum tentu! Selama struktur kuasanya tidak berubah, maka siapa pun yang masuk ke dalamnya, mau laki-laki atau perempuan, besar kemungkinan akan mengikuti logika yang sama. Ini yang sering luput: representasi itu penting, tapi tidak cukup.
Mengapa Kita Hanya Berjarak Satu Nasib Buruk dari Chaos?
Ketegangan dalam Ghost in the Cell bukan hanya soal atmosfer, tapi soal bagaimana setiap karakter membawa beban masa lalu yang abu-abu.
Jika kita melihat lebih dekat pada penghuni Lapas Labuhan Angsana, kita akan menemukan bahwa label “napi” sering kali gagal merangkum kompleksitas manusia di dalamnya. Di sini, Joko Anwar tidak memberikan kita penjahat satu dimensi, melainkan jiwa-jiwa yang misunderstood oleh dunia di luar tembok.
Sebut saja Anggoro (Abimana Aryasatya). Dia adalah representasi dari seseorang yang mencoba membangun “keluarga” di dalam penjara karena ikatan keluarganya di luar sana begitu kuat namun hancur. Ia terjebak dalam dualitas: ingin melindungi, namun dipaksa menggunakan kekerasan untuk mempertahankan otoritasnya.
Sebagai orang hukum, saya melihat Anggoro bukan sekadar narapidana; ia adalah korban dari sistem yang tidak memberi ruang bagi kelembutan. Lalu ada Tokek (Aming). Karakter ini mungkin yang paling mencolok, terlihat berbahaya, bahkan bisa dibilang nyaris “inhuman“. Namun, di balik itu, Tokek adalah cermin dari trauma yang tidak terobati. Jujur, bagi saya melihat Aming jadi Tokek itu bikin merinding, karena kita sadar: di bawah sistem yang salah, kita semua cuma berjarak satu nasib buruk untuk jadi the next ‘Tokek’.
Baca Juga: Mother Miranda dan Lady Dimitrescu di ‘Resident Evil’, Narasi Ibu yang Terluka dalam Tubuh Villain
Last but not least, jangan lupakan Dimas (Endy Arfian). Sebagai jurnalis yang terjebak di dalam, bukan karena kesalahannya. Ia adalah mata kita: si orang luar yang melihat kegilaan ini dari dekat.
Ketiga karakter ini menunjukkan bahwa identitas mereka semuanya diredam oleh dinding lapas yang menuntut dominasi.
Menariknya, film ini memaksa para napi yang “sangar” ini untuk berlomba-lomba menjadi baik demi menghindari teror hantu. Ini adalah satire yang jenius! Orang-orang yang dianggap sampah masyarakat ini sebenarnya memiliki kapasitas untuk berempati, namun selama ini sistem justru memelihara sisi gelap mereka.
Ghost in the Cell berhasil melakukan satu hal penting: membuat kita tidak nyaman, bukan karena hantunya saja, tapi karena kita dipaksa melihat bahwa di dalam penjara yang paling gelap sekalipun, masih ada manusia yang sedang berjuang mencari jalan pulang ke dirinya sendiri. Lebih seram realita daripada hantunya? Ya, Jelas!
Baca Juga: Konferensi Feminis KCIF 2024: Tak Ada Demokrasi Tanpa Keadilan Gender
Sebagai penutup, saya ingin balik lagi ke pengalaman menonton film ini sebagai orang hukum. Ada rasa “kenal” dengan ruang yang ditampilkan. Bukan karena persis sama, tapi karena dinamika kuasanya terasa nyata. Ada negosiasi, ada ketegangan, ada sistem yang berjalan setengah resmi, setengah liar.
Akhirnya, yang paling menyeramkan dari Ghost in the Cell bukanlah hantunya, melainkan kenyataan bahwa dunia di dalamnya terasa sangat dekat dengan realita dan itu yang membuat kita tidak nyaman, sekaligus berpikir.
Jadi, sekarang saya ingin tanya ke pembaca yang sudah nonton: siapa nih napi favoritmu di Ghost in the Cell? Dan mungkin, pertanyaan yang lebih dalam: kalau dunia dalam film ini terasa kacau, menurutmu yang bermasalah siapa: manusianya, jenis kelaminnya, atau sistemnya?.
Karena bisa jadi, jawabannya tidak sesederhana yang kita kira.





Comments are closed.