Idul Adha identik dengan limpahan daging, baik sapi maupun kambing. Namun, situasi ini sering memicu pola konsumsi daging yang berlebihan dalam waktu singkat atau overconsumption. Fenomena musiman ini memerlukan perhatian khusus karena masyarakat cenderung mengabaikan batasan porsi demi merayakan hari raya.
Pakar Gizi Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, menjelaskan bahwa mengonsumsi olahan daging secara berlebih langsung membebani metabolisme tubuh. Tubuh manusia akan mengalami lonjakan simultan pada asupan protein, lemak jenuh, kolesterol, purin, dan energi secara bersamaan.
“Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memicu peningkatan trigliserida, stres oksidatif, surplus energi sementara setelah makan tinggi lemak dan energi,” tuturnya.
Masyarakat sering menuduh lemak jenuh pada daging sebagai penyebab utama lonjakan instan tekanan darah dan kolesterol. Namun, Mahmud meluruskan anggapan itu. Sebab, masalah sebenarnya bersumber dari keseluruhan pola makan (overall dietary pattern).
Lonjakan tekanan darah atau kolesterol saat Idul Adha, kata dia, biasanya merupakan kombinasi berbagai faktor. Faktor itu adalah konsumsi garam tinggi, santan, gorengan, porsi berlebih, kurang serat, kurang tidur, dan minim aktivitas fisik.
Secara klinis, ucap Mahmud, para tenaga kesehatan memang sering mendapati peningkatan keluhan pasien berkaitan dengan asam urat, tekanan darah tidak terkontrol, hiperglikemia, hingga gangguan lipid pasca-hari raya. Meski demikian, dampak terbesar konsumsi ini sebenarnya bersifat jangka panjang dan kumulatif.
Menurut dia, jika seseorang terus melanjutkan pola makan tinggi lemak jenuh tersebut secara konsisten. Mahmud berpesan, “Jika konsumsi tidak sehat konsisten, ini yang akan menimbulkan masalah. Jika hanya pada hari raya, Insya Alah tidak masalah, selama dibatasi dan tidak berlebihan.”
Ia mengatakan Idul Adha sebenarnya mengemban misi sosial yang penting karena menjadi momentum bagi semua kalangan, terutama kelompok berpendapatan rendah, untuk memperoleh protein hewani berkualitas tinggi. Kandungan gizi dalam daging merah sangat berguna untuk mendukung pertumbuhan anak, mencegah malnutrisi, membentuk otot, serta mengoptimalkan fungsi imun tubuh.
Oleh karena itu, kata dia, pendekatan edukasi yang paling realistis bukan berupa larangan mutlak bagi masyarakat untuk makan daging. Namun, ajakan untuk mengatur porsi, mendistribusikan waktu konsumsi, memilih metode memasak yang lebih sehat, serta mengombinasikannya dengan sayur dan buah.
Mahmud mengatakan masyarakat dapat menerapkan strategi edukasi berbasis panduan yang jauh lebih mudah diterima daripada pendekatan yang penuh larangan restriktif. Pendekatan edukasi paling realistis adalah bukan melarang makan daging, tetapi mendorong keseimbangan menu.
“Sebanyak 1/3 piring sayur dan buah, membatasi santan, dan gorengan, kombinasi dengan menggunakan teknik rebus atau kukus, mengatur porsi daging, memperbanyak air putih, dan menjaga aktivitas fisik,” ungkapnya.





Comments are closed.