
Mbah Nun yang kami takdzimi.
Hari ini, di saat lembar kalender menandai hari ulang tahun panjenengan yang ke-73, ruang-ruang di dada kami mendadak penuh sesak oleh rasa rindu yang luar biasa. Kami, anak-anak cucu yang pernah merapat di melingkarnya majelis Maiyah, mendambakan kembali kehadiran sosok guru, ayah, sekaligus pembela yang tak pernah lelah berdiri di garda paling depan demi nasib orang-orang kecil.
Mengingat perjalanan panjang panjenengan, pikiran kami melayang jauh ke masa akhir tahun 1980-an, di tanah Kedung Ombo. Saat kekuasaan Orde Baru bertindak arogan dan menindas lewat proyek waduk, di mana rakyat kecil dipaksa menyerah pada keadaan, Mbah Nun hadir menembus barikade ketakutan itu. Bersama Romo Mangun, panjenengan milih melarat dan susah bareng warga genangan yang bertahan. Di sana, Mbah Nun bukan sekadar berwacana, tapi menyuntikkan keberanian, mendampingi anak-anak yang terenggut hak sekolahnya, dan menjadi pelindung bagi mereka yang suaranya dibungkam oleh moncong senjata. Ncen mboten enten wedine blas sampeyan iku, Mbah! Nyali panjenengan selalu utuh jika sudah menyangkut hak rakyat yang diinjak-injak.
Kerinduan kami makin membuncah saat mengingat kembali tanggul-tanggul darurat di Porong, Sidoarjo. Ketika petaka lumpur Lapindo menenggelamkan ribuan masa depan warga pada tahun 2006, Mbah Nun tidak menjauh atau sekadar menonton dari kejauhan. Di saat birokrasi berbelit dan semua pihak saling lempar tanggung jawab, panjenengan turun tangan langsung sebagai penengah. Kami ingat betul bagaimana Mbah Nun memasang badan, berdialog, hingga memunculkan solusi cerdas berupa sumpah kesaksian agar hak ganti rugi warga yang kehilangan surat-surat tanahnya tetap bisa cair. Panjenengan berjuang dengan hati tulus, panjenengan merangkul mereka yang frustrasi, meredam amarah dengan shalawat, dan mengembalikan martabat manusia yang sempat runtuh bersama rumah-rumah yang tenggelam oleh lumpur.
Kini, di usia panjenengan yang ke-73, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Banyak orang kecil yang masih kebingungan lan gak karu-karuan nasibnya di tengah kepungan ketidakadilan modern. Kami rindu bimbinganmu, Mbah. Kami rindu bagaimana panjenengan membedah ruwetnya dunia dengan sudut pandang yang jernih, jenaka, namun sangat menembus relung hati. Kami rindu dekapan hangat seorang guru yang tidak pernah membeda-bedakan kasta manusia.
Mbah Nun, saktemene kito kabeh iki kangen banget karo sampeyan mbah. Kami merindukan tawa panjenengan, merindukan petikan nada KiaiKanjeng, dan rindu mendengarkan wejangan mulia yang selalu memanusiakan kami.
Di hari yang penuh berkah ini, kami menengadahkan kedua tangan, mengetuk pintu langit dengan doa yang paling tulus. Ya Allah, mohon berikanlah kesembuhan yang sempurna, jagalah kesehatan Mbah Nun, dan panjangkanlah usianya. Semoga Mbah Nun selalu sehat walafiat, dianugerahi ketabahan, dan senantiasa menemani kami dalam ruang dan waktu, membimbing langkah-langkah kami yang pincang ini menuju ridha-Mu. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.[]





Comments are closed.