Thu,28 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai

Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai

menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai
Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai
service

Selama ratusan tahun, masyarakat Suku Semende hidup harmonis dengan sejumlah satwa, khusunya siamang (Symphalangus syndactylus), satwa liar penghuni hutan dataran tinggi di Sumatera Selatan. Apa kuncinya? Selain menjaga amanah leluhur untuk tidak saling mengganggu, masyarakat Semende punya sejumlah kearifan untuk berbagi ruang, sekaligus menghindari konflik dengan satwa liar. Ada istilah jalur agung yang mereka pahami sebagai jalur atau koridor perlintasan satwa untuk harimau sumatera, rusa, kijang, termasuk siamang. Jalur ini berwujud sebuah kawasan hutan memanjang, yang biasanya mengikuti alur sungai. Di jalur itu, masyarakat Semende tidak akan membuka kebun, atau bahkan mendekati wilayah tersebut. “Kasus serangan harimau biasanya terjadi pada pendatang yang tidak mengerti jalur agung ini, sehingga membuka kebun atau membangun rumah di sana,” kata Mang Zakaria, petani ddi Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Selasa (14/4/2026). Di jalur tersebut, bertahan sejumlah jenis pohon hutan yang menjadi makanan kesukaan satwa, misalnya meranti-merantian (Dipterocarpaceae), ara (Ficus spp.), asam kandis (Garcinia xanthochymus), dan tumbuhan hutan lain. Selanjutnya, untuk mencegah siamang atau jenis kera lain masuk ke kebun, masyarakat Semende mempertahankan pohon semantung, makanan kesukaan siamang serta jenis-jenis kera lain seperti beruk (Macaca nemestrina), serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Buah pohon semantung yang disukai siamang. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Saat kunjungan Mongabay Indonesia ke ataran Datas Pagi, sebuah lanskap sawah dan kebun kopi di Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, pohon semantung ada di setiap batas kebun warga. “Pohon ini memang tidak ditebang, karena jadi makanan kesukaan siamang, jadi mereka juga tidak pernah masuk…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.