Tiada hari tanpa hiburan di jagat maya kita. Belakangan ini, media sosial, khususnya TikTok, sedang dihebohkan oleh sebuah sound unik yang sukses membikin geli perut netizen. Potongan lagu bertajuk “MBG Mas Bahlil Ganteng” mendadak viral dan jamak digunakan sebagai latar musik berbagai konten kreatif, mulai dari yang kocak sampai yang super absurd.
Bagi yang sering scrolling, pasti sudah tidak asing lagi dengan lirik yang menggelitik ini:
“MBG… Mas Bahlil Ganteng… Buah apa? Yang paling manis… BUAAAHLILLLL… Tambah ganteng aja… My little bolu ketan…“
Jujur saja, pertama kali mendengar sound ini, saya langsung tertawa. Kreativitas netizen Indonesia dalam membuat pelesetan memang tidak ada tandingannya. Tapi, setelah dipikir-pikir, tebak-tebakan “buah apa yang paling manis” ini sebenarnya menarik juga kalau kita bawa ke ranah yang sedikit lebih berbobot. Kita kesampingkan dulu jawaban “Buah-lil” demi kesehatan logika kita.
Buah Apa yang Paling Manis Versi Kitab Kuning?
Kalau kita mau menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih serius, mari kita tengok lembaran kitab klasik. Sebab, para ulama terdahulu ternyata punya definisi sendiri yang sangat indah mengenai “buah” yang sesungguhnya.
Pertama, mari kita buka kitab Taisir al-Khallaq karya Syekh Hafidz Hasan al-Mas’udi yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah. Di dalam kitab ringkas yang dulu sering saya pelajari saat mondok, beliau menjelaskan tentang buah dari ketakwaan.
Menurut beliau, buah dari takwa itu mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di dunia, buah manisnya berupa kerelaan hati menerima takdir, nama baik yang harum, serta rasa cinta yang tumbuh di hati manusia sekitarnya. Orang yang bertakwa akan dihormati oleh yang muda, disegani oleh yang tua, dan dipandang oleh orang berakal sebagai sosok yang paling utama dalam kebaikan.
Lalu di akhirat? Tentu saja buahnya adalah keselamatan dari api neraka dan kemenangan berupa tiket masuk surga.[1]
Selain ketakwaan, ada lagi buah lain yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu anak. Dalam kitab Adabud Dunya wad Din karya Imam Al-Mawardi, ada sebuah hadis yang menyebutkan:
لِكُلِّ شَيْءٍ ثَمَرَةٌ، وَثَمَرَةُ الْقَلْبِ الْوَلَدُ
Segala sesuatu itu ada buahnya, dan buah dari hati adalah anak.
Nah, anak adalah buah hati yang paling manis bagi orang tua. Namun, Imam Al-Mawardi juga mengingatkan dengan sangat realistis. Terkadang rasa manis itu bisa berubah getir karena adanya kedurhakaan atau kelalaian.
Menariknya, beliau mengutip ucapan Muhammad bin Ali yang menyebutkan sebuah hukum psikologi keluarga yang sangat mendalam. Allah itu rida kepada para orang tua, makanya Allah memperingatkan mereka akan ujian anak-anaknya, tanpa perlu memesankan secara berlebihan agar mencintai anaknya karena cinta orang tua sudah natural.
Sebaliknya, Allah tidak rida kepada anak (yang abai), makanya Allah memberikan wasiat khusus kepada anak-anak agar berbakti kepada orang tuanya.
Di akhir bab tersebut, ada wejangan yang sangat menohok untuk kita yang sudah menjadi orang tua maupun yang masih menjadi anak. Kata Imam al-Mawardi, seburuk-buruknya anak adalah yang lalai hingga tega durhaka, dan seburuk-buruknya orang tua adalah yang saking sayangnya sampai berlebihan dalam memanjakan. Dan tentu saja, ibu adalah sosok yang paling lembut hatinya karena mereka yang merasakan langsung perjuangan melahirkan dan merawat.[2]
Begitulah kiranya tebak-tebakan receh di lagu Mas Bahlil Ganteng jika kita bawa ke jenjang yang lebih serius. Jadi, kalau nanti ada yang iseng bertanya lagi kepadamu, “Buah apa yang paling manis?” kamu punya pilihan jawaban.
[1] Hafidz Hasan al-Mas’udi, Taisir al-Khallaq, (Khartoum, Sudan: Ad-Dar as-Sudaniah li al-Kutub, 1993) hal. 4-5.
[2] Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi, Adab al-Dunyā wa al-Dīn (Beirut: Dār Maktabah al-Ḥayāh, 1986), hlm. 150.





Comments are closed.